Haru Biru Bertemu Pak Guru

nursalMatanya terlihat berkaca-kaca, tatkala kami memasuki rumahnya. Kami pun sempat terkesiap, ketika sepintas melihat perawakannya terkini. Lalu mencoba memandang lekat-lekat, benarkah pria yang ada di hadapan kami ini, adalah H Nursal BA yang akrab disapa Pak Nursal. Apakah kami salah orang, atau memang beginilah kondisinya sekarang.

Ternyata kami tak salah orang. Pria tua inilah yang kami tuju, walau demi itu, sebagian teman-teman harus menempuh perjalanan jauh dari Kota Pekanbaru menuju perkampungan kecil di Padang Jopang, Kecamatan Mungka, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat yang jaraknya ratusan kilo.

Kami; Musli “Atuk” Haryandi (Fis 2), Musdalifah “Mpok Ipeh” Devi Pratiwi (Sos3), Taufik “Boy” Hidayat (Sos3), Taufik “Fiko” Asmara (Sos3), Weni Silvia (Sos2) dan saya, Maryulis Max (Sos 3) langsung sungkem dan memeluk tubuh ringkih itu.

Sebentar saja di ruang tamu, dia langsung mengajak kami ke ruang tengah. Di ruang itu, di atas spring bed yang sengaja di taruh di sana, dia menghabiskan hari-harinya. Di atas spring bed itu, dia lebih banyak menjalani hari-harinya akibat parkinson yang dideritanya.

Dari atas spring bed itu pula dia sepertinya menatap dunia, karena di depannya ada televisi yang setiap saat mengantarkan berita. Di atas spring bed itu pula dia menyiapkan kepentingan ukhrawinya melalui kitab suci al Quran yang dibaca dan ditaddaburinya seusai sholat lima waktu. Dan mungkin karena itu, beliau bersengaja membawa kami ke ruang ini, agar kami tahu bahwa inilah dunianya saat ini. Dunia yang telah dibatasi gerak fisik karena sakit, aktivitas yang tak lagi mobile seperti dulu.

Kepada kami, dia menceritakan sakit parkinsonnya dengan caranya sendiri. Melalui HP-nya dia searching di google apa itu parkinson, lalu dia suruh saya untuk membacakan gejala-gejala penyakit seperti yang tertera di laman web itu. Dia mengangguk dan mengiyakan setiap gejala yang saya bacakan. Di setiap anggukannya, ada rasa nelangsa di dirinya yang saya rasakan, namun beliau berupaya untuk kuat, sepertinya.

Kami tak ingin membiarkannya larut dengan cerita soal sakit yang menjangkitinya. Pembicaraan dialihkan kepada kenangan, perkembangan, kondisi terkini tentang kita para alumni, dan juga guru-guru dulu.

Alih-alih mengubah suasana, justru malah mengharu biru. Dia terharu mendengar murid-muridnya dulu, kini sudah banyak menjadi orang sukses. Dia tersedu sedan, ketika diceritakan kelakuan murid-muridnya dulu. Dan dia terisak kemudian menangis ketika mengingat dengan terang semua kisah yang diceritakan kepadanya. Sepertinya, itulah caranya bangga atas kisah sukses para alumni 96 ini, karena di balik kisah itu ada sedikit perannya di sana. Sedikit, namun bermakna…

Bercakap dengan pria yg di kampungnya akrab disapa dengan Datuk Ican ini, memang harus sedikit sabar. Karena suaranya tidak lagi selantang dulu. Sayup-sayup sampai, namun bisa dimengerti. Ingatannya di usianya yang sudah 72 tahun, masih bagus. Dia dengan mudah menyebutkan nama-nama rekan sejawatnya dulu ketika menjadi guru di Smansix tatkala diperlihatkan foto-foto kegiatan reuni 20 tahun yang dilangsungkan 9 Juli lalu. Juga bisa mengingat nama-nama sebagian alumni dan meminta agar diperlihatkan fotonya. Melihat foto, mimiknya acap kali berubah, kadang tersenyum, tertawa, tiba-tiba terharu. Dan kami, menyaksikannya dengan termangu.

Keharuan terjadi lagi, begitu salah seorang alumni, Kompol Efrizal, S.I.K yang tengah menjalani Sespim di Bandung menelepon dirinya. Bagi Efrizal, Pak Nursal menempati sisi tersendiri di hatinya. Karena guru bahasa Inggris itulah yang dulu kerap memanggilnya dengan sebutan ‘Letnan’, yang ternyata menjadi doa yang terwujud dengan posisi perwira menengah kepolisian yang kini berada di pundaknya. Mendengar mereka saling berkomunikasi, bagaikan seorang bapak bicara pada anaknya. Padahal dulu, ketika di bangku sekolah, entahlah… Xixixixi

Hanya beberapa jam kami di rumah ini (yang untuk sampai di sini tersesat beberapa kali dan tanya sana sini). Kami dijamu makan sore yang kata Pak Nursal sengaja disiapkan untuk menyambut kedatangan kami.

Dan waktu untuk pulang itu tiba, petang sudah menjelang. Kami harus pamit. Tak lupa kami menyerahkan bantuan tali kasih dari teman-teman alumni sebesar Rp 5 juta dan bingkisan dari kegiatan reuni lalu. Uang senilai Rp 5 juta itu, mudah-mudahan dapat membantu biaya pengobatannya yang tidak murah.

Setiap bulan, seperti diutarakan istri Pak Nursal, dibutuhkan biaya Rp 1 juta untuk menebus obat dan terapi ke rumah sakit. Jika ada duit Rp 2 juta, mereka biasanya langsung menebus obat untuk stok 2 bulan. Sehingga tak perlu bolak-balik ke apotik, sekaligus menghemat biaya transportasi.

Ketika kami harus benar-benar pamit, Pak Nursal sepertinya tak rela kami pergi. Air mata luruh dari pelupuk matanya, lalu terdengar isak itu. Tangisnya pecah. Setelah dirinya merasa siap untuk membiarkan kami pergi, kami langsung berlalu. Namun rasa haru itu, tidak begitu saja berlalu. (max)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: