Daming

image

TEGANG. Engkau jadikan sebagai sebuah alasan. Demi mencairkan suasana, “tegang” itu pula yang engkau perolok-olokan sebagai sebuah kenikmatan.

Engkau mungkin sering “tegang” dan melepaskan ketegangan itu sesuai tempatnya. Tapi, apa rasanya “tegang”mu itu tidak mendapatkan tempat yang layak. Akankah kau lepaskan urat tegangmu itu ke sembarang tempat, main asal babat dengan keyakinan bahwa yang dibabat pun merasa nikmat?

Ketahuilah, –saya rasa engkau pasti tahu–, di teganglah semua bermula. Seorang jantan melepaskan naluri kebinatangannya, memerkosa. Pun sebenarnya, binatang tak pernah mengenal kata perkosa itu, kendati aktivitasnya penuh paksa seperti tatkala si jantan bertengger di atas ayam betina, misalnya. Tapi, sekali lagi, engkau harus tahu –dan pasti sudah tahu– itu bukan sebuah paksa berupa perkosa. Namun begitulah cara binatang menyalurkan hasrat reproduksinya. Mereka masih setia menjaga prikebinatangannya sebagai binatang.

Ketika manusia, serupa halnya dirimu, diriku, diri kita semua, mencoba perilaku kebinatangan itu, tentu sudah pasti menyalahi kodratnya. Ketika manusia berperikebinatangan, maka sahihlah dia dicap tidak berperikemanusiaan. Ketidakmanusiawian itu salah satunya ada pada paksa yang melahirkan perkosa.

Maka, patut lahir tanya, di mana ada nikmat di balik paksa seperti yang engkau utara di hadapan orang-orang yang menyidang kelayakanmu sebagai calon makhluk agung yang mestinya tidak mendukung kepribinatangan itu.

Tak terbayangkankah oleh mu, korban yang menurutmu merasa nikmat itu, hancur masa depannya, suram hari-harinya, tangisan mewarnai kesehariannya, kepiluan di dada keluarganya, keperihan di hati sanak familinya, kesumat yang membuncah di masyarakat yang berempati kepadanya. Maka kebuasan binatang mana pula yang engkau yakin nikmat rasanya?

Posisikanlah dirimu sebagai korban. Apakah engkau merasa nikmat? Atau bayangkanlah engkau sebagai ayah korban, apakah engkau bersenang hati lantaran anakmu merasakan kenikmatan paksa itu? Atau engkau lebih senang memilih memposisikan diri sebagai pemberi nikmat lewat paksaan itu?

Apakah engkau benar-benar yakin si pemerkosa merasa nikmat? Nikmat mungkin, tetapi sesaat. Demi melepas tegang yang bertenggat, begitu dapat, tegang pun lewat. Setelah itu, jadilah semua nikmat serasa kiamat. Hidup dalam rasa kebersalahan, hari dikepung ketakutan, pikir dibalut penyesalan, hati berselimut kegundahan. Wahai.., dimana letak nikmat?

Tegang mungkin sudah lewat, tapi tidak secair yang kau harap. Mereka sudah bermufakat keagungan untukmu tak layak disemat. Kamipun tak sudi bila engkau tetap selamat dari kualat yang telah kau buat. Maka, apakah engkau menganggap ini juga nikmat? (max)

10 Komentar

  1. Fendi haris said,

    11 September 2013 pada 3:35 pm

    bagus sekali bahasanya teruttama dalam paragraf terakhir, sangat tersampaikan maksudnya,,

  2. Max said,

    20 September 2013 pada 11:20 am

    terimakasih pujiannya…

  3. unai said,

    29 Agustus 2014 pada 10:00 am

    mantap

  4. 7 November 2014 pada 9:01 am

    sangat prihatin sekali

  5. 26 November 2014 pada 11:22 am

    mantap deh bahasanya

  6. 28 November 2014 pada 9:39 am

    pembahasanya unik dan beda

  7. 18 Desember 2014 pada 10:10 am

    daming ada2 saja

  8. 17 April 2015 pada 9:39 am

    wah makin aneh aneh saja

  9. Ricalinu said,

    18 Mei 2015 pada 11:36 am

    menarik sekali artiekelnya

  10. 20 Mei 2015 pada 10:05 am

    menarik sekali artikelnya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: