LSI vs LPI

LPI-ISLMari Selamatkan APBD dari Bola

AKHIRNYA Liga Primer Indonesia (LPI) ditabuh juga. Laga pembuka di Stadion Manahan Solo pada Sabtu 8 Januari 2011 yang mempertemukan Solo FC vs Persema Malang, tak hanya memberi tontonan berbeda tapi juga spirit yang berbeda. Profesionalitas dikedepankan, demi kemajuan sepakbola negeri ini.

Jauh hari sebelum mulai dipertandingkan, LPI sudah menjadi pro-kontra. Yang pro terhadap profesionalitas yang ditawarkan liga bentukan Arifin Panigoro cs, jelas melihat liga ini sebagai titik start baru untuk pembenahan sepokbola Indonesia yang sudah karut marut. Yang kontra, tentu saja rezim Nurdin Halid cs yang melihat LPI bakal menggerus kelangsungan Liga Super Indonesia (LSI) yang sudah menjadi proyek bagi mereka.

Segala cara dilakukan Nurdin bersama antek-anteknya di Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk menjegal LPI. Kompetisi yang diluncurkan pada November 2010 lalu di Semarang Jawa Tengah ini, jauh-jauh hari sudah dicap ilegal. Tak ada kata restu untuk LPI. Tak hanya itu, klub, pemain, pelatih, wasit yang gabung ke LPI pun diancam dengan berbagai sanksi. Dan yang paling memiriskan adalah kepastian tidak bisanya lagi Irfan Bachdim membela timnas lantaran klubnya Persema hengkang dari LSI dan bergabung ke LPI. Padahal kita sama-sama tahu, Irfan adalah salah satu sosok fenomenal timnas saat AFF 2010 lalu.

Nurdin menggonggong, eh merongrong, LPI tetap melaju. Sebanyak 19 kontestan memastikan ikut bergabung untuk masuk ke era baru dunia sepakbola Indonesia. Mereka adalah Aceh United, Bali Dewata, Bandung FC, Batavia Union, Bogor Raya, Cendrawasih Papua, Jakarta 1928, Minangkabau FC, Kesatria XI Solo FC, Manado United, Medan Bintang, Medan Chiefs, Persebaya Surabaya, Persema, Persibo Bojonegoro, PSM Makassar, Real Mataram, Semarang United dan Tangerang Wolves. Khusus Persema, PSM dan Persibo, mereka say goodbye meninggalkan LSI yang setengah kompetisinya telah mereka jalani. Tinggallah 15 klub di LSI di antaranya Arema Indonesia, Bontang FC, Deltras Sidoarjo, Persiwa Wamena, Persijap Jepara, Persisam Putra Samarinda, Persiba Balikpapan, Persib Bandung, Persipura Jayapura, Persija Jakarta, Pelita Karawang, PSPS Pekanbaru, Persela Lamongan, Sriwija FC dan Semen Padang.

LPI muncul sebagai breakaway league  yang mendobrak kemapanan LSI yang jelas-jelas tidak mapan secara finansial. Wong bagaimana mau mapan, hampir sebagian besar klub mengandalkan hidup dari suntikan dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Secara logika awam, apa sih urgensinya duit rakyat digelontorkan ke klub bola yang –maaf saja– tidak ada efek positifnya sama sekali bagi orang banyak, kecuali bagi pelaku bola (pemain, pelatih dan pengurus klub) dan sedikit penggila bola. Malahan kucuran APBD ini justru kerap memicu penderitaan bagi penggiat bola (terutama pemain dan pelatih), lantaran sering terlambat dikucurkan, gaji mereka tertahan dan tentunya mereka tak bisa makan.

Mendingan duit miliaran rupiah yang dihibahkan untuk menghidupkan klub itu, dialihkan untuk kegiatan pembangunan yang benar-benar dibutuhkan orang banyak. Ingat, sepakbola bagi sebagian besar orang adalah hobi, bukan sebuah kebutuhan!

Hal inilah yang coba diputus LPI. Klub tidak lagi berharap bantuan dana dari APBD, tapi dibantu oleh konsorsium dengan kisaran 15 M sampai 40 M. Tidak hanya itu, setiap pemasukan dari perputaran liga ini, jelas-jelas dipulangkan untuk menghidupkan kompetisi dan klub-klub LPI. Hak siar dan sponsorship dikelola untuk kebutuhan LPI, bukan untuk “menghidupi” (pengurus) PSSI seperti halnya di LSI. Transparansi diutamakan di LPI, bukan mempertahankan ketertutupan yang selama ini dijalankan Nurdin cs.

Breakaway league ala LPI ini, bukanlah hal baru di dunia persepakbolaan. Sejumlah negara yang telah mapan sepakbolanya, tak luput dari munculnya liga sempalan ini. Contohnya saja adalah Inggris, yang kemudian memotivasi negara-negara lain untuk mereformasi sistem pengelolaan liga di negara mereka, seperti di Italia dan Spanyol. Hasilnya, liga di negara-negara maju sepakbola itu tak hanya semakin maju, tapi juga semakin berkuku. Itulah yang kini LPI tiru.

Tapi sekali lagi, mengapa PSSI melihat spirit yang diusung LPI ini sebagai ancaman? Beginilah jadinya bila PSSI dipimpin dengan gaya politik dan otoriter ala Nurdin and the gank. Bukankah sudah seharusnya LPI ini diberi jalan dan berafiliasi kepada mereka untuk memajukan sepakbola Indonesia yang kini mulai dicintai rakyatnya pascabangkitnya timnas di AFF Cup lalu?

Silahkan pertahankan LSI dan biarkan pula LPI berlari. Nanti alamlah yang akan menyeleksi, liga mana yang sebenarnya layak tetap berkompetisi. Mari kita menanti PSSI tidak lagi keras hati, agar sepakbola kita semakin berprestasi… (max)

4 Komentar

  1. fine ok said,

    14 Januari 2011 pada 11:40 am

    dukung LPI , turun Nurdin Halid

  2. fine ok said,

    14 Januari 2011 pada 11:41 am

    HIDUP LPI lanjutkan perjuangan mu utk memajukan sepak bola indonesia….

  3. menzu said,

    27 Januari 2011 pada 5:58 pm

    biasanya dengan banyak kompetisi dan di tambah dengan di siplin yang konsisten akan menghasilkan pemain yang bagus dan propesional, eh ini malah LPI dilarang, Nurdin cs contoh dari orang2 aneh………jalan terus LPI

  4. 26 Februari 2011 pada 7:24 am

    nurdin halid gak tau malu..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: