Tragedi Bukit Jahil

GarudaKalah Itoe Pedih Djenderal!!!

EUFORIA atas kehebatan tim nasional (Timnas) Indonesia di ajang penyisihan dan semifinal AFF Cup 2010 berakhir antiklimaks. Semua rakyat Indonesia cuma bisa diam, kecewa, atau melampiaskan kemarahannya melalui makian sesaat maupun menuliskannya sebagai status di social network media. Dan yang tak kalah pasti adalah mencari kambing hitam!

Semuanya terjadi setelah timnas dibabat Malaysia 3-0 di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur (26/12). Tak ada lagi kehebatan Irfan Bachdim cs saat mengganyang Malaysia 5-1 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada babak penyisihan. Benar-benar kekalahan yang menyerikan. Sungguh, kalah itoe pedih djenderal!!!

Lalu, muncullah puluhan kambing hitam yang patut disematkan atas kekalahan memalukan ini. Yang paling banyak disorot adalah kejahilan suporter Malaysia menembakkan sinar laser atau pointer kepada kiper Markus Horizon yang pada menit ke-54 nyaris menghentikan permainan akibat protes kubu timnas atas ulah jahil ini. Sehingga akibat kejadian ini, Bukit Jalil dipelesetkan menjadi Bukit Jahil sebagai nama baru untuk kambing hitam yang satu ini (dan saya jadikan sebagai judul tulisan di blog ini).

Soal laser, sepertinya Malaysia sengaja melakukan pembiaran. Hal serupa juga pernah terjadi dan membuat timnas Vietnam murka tatkala mereka berhadapan di semifinal. Kiper Vietnam, Bui Tan Truong berang karena suporter menyorotkan laser ke wajahnya saat menangkap bola ataupun melakukan tendangan gawang. Sudah tahu begini, mengapa petugas keamanan Malaysia tidak melakukan penggeledahan saat suporternya masuk ke stadion?

Di Eropa, tindakan seperti ini bisa membuat klub yang dibela suporter itu dikenai denda. Kejadian ini pernah dilakukan pendukung Napoli dan Bari di Serie A Italia.

Kambing hitam kedua, tentu begitu banyaknya hujatan publik terhadap Ketua PSSI Nurdin Halid yang dinilai telah mempolitisasi timnas ini. Terlalu banyak seremoni melelahkan yang sebenarnya tidak perlu dan belum saatnya seperti jamuan makan dengan petinggi parpol tempat Nurdin bernaung dan acara-acara tak bermutu lainnya. Di luar itu, publik memang sudah sedari dulu menuntut Nurdin untuk menanggalkan jabatannya sebagai ketua PSSI karena arogansi kepemimpinannya dan minimnya prestasi yang diukirnya.

Kambing hitam ketiga, adalah begitu tingginya ekspektasi publik terhadap timnas ini dan kemudian dieksploitasi media habis-habisan. Tak ada hari tanpa berita timnas, dari berita berguna sampai berita asal-asalan kayak infotainment. Wajar, karena saat itu (sebelum tragedi Bukit Jahil ini) prestasi timnas termasuk luarbiasa di tengah minimnya prestasi selama ini.

Membabat Malaysia 5-1, mencukur Laos 6-0, menaklukan Thailand 2-1 di babak penyisihan, siapa yang nggak bakalan gemas dengan kehebatan ini. Ditambah pula memukul Filipina 1-0 di leg pertama dan kedua semifinal. Walhasil, salah satu dampak positif ekonomis atas kehebatan ini adalah laris manisnya replika kaus “garuda di dadaku” itu.

Ekspektasi yang tinggi inilah yang membuat kekalahan 3-0 di leg pertama terasa betul membikin nyeri dan ngilu di hati. Siapa yang bisa menjamin ketika leg kedua dilangsungkan di SUGBK pada 29 Desember nanti, timnas bisa membalikkan keadaan. Menang besar seperti 5-1 pastilah sulit diwujudkan di tengah down-nya mentalitas pemain dan tingginya pengharapan rakyat.

Kambing hitam keempat, sebagian publik ada juga yang menyayangkan komposisi tim sedikit diubah pelatih Alfred Riedl. By the way, itu kewenangan pelatih asal Austria tersebut, tak pula ada hak kita untuk mencikarauinya.

Yang pasti, hanya keajaiban. Ya, hanya keajaiban yang bisa membuat euforia itu tumbuh kembali dan menjadikan superioritas timnas menjadi klimaks di ajang AFF ini. Kita hanya bisa berharap agar itu terwujud. Sementara kambing hitam lepaskanlah kembali ke habitatnya.

Mari tetap dukung timnas. Apapun hasilnya, Garuda tetap di dadaku, di dadamu, dada kita semua. (max)

 

4 Komentar

  1. ageng said,

    27 Desember 2010 pada 2:32 pm

    Hmm.. bukit jahil malah terdengar seperti Tempat tukang jahit di daerah purwokerto

  2. sam said,

    27 Desember 2010 pada 3:08 pm

    wah lama gak baca blog dan ngeblok. setubuh mas…btw kambing hitam selanjutnya: bukit jalil jadi BUKIT JAHIL hahaha

  3. andriQc said,

    28 Desember 2010 pada 6:23 pm

    APAPUN YANG TERJADI GARUDA TETAP DI DADAKU …………..

  4. 31 Desember 2010 pada 6:23 am

    indonesia semakin baik. semoga terus meningkat


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: