Penyakit Gila Nomor 117

IMG0059AMembeli Buku untuk Ditumpuk

PENYAKIT gila saya untuk yang satu ini belum juga sembuh-sembuh. Bukannya diobati, tapi dipelihara malah. Karena itu, meminjam kosakata Andrea Hirata, sakit jiwa yang ini patut dilabeli sebagai penyakit gila nomor 117; membeli buku untuk ditumpuk. Wkwkwkwk…

Sebenarnya salah satu resolusi diri yang saya tanamkan untuk tahun 2010 adalah stop dulu beli buku, dan menamatkan membaca buku yang sudah menumpuk berjumlah ratusan itu. Kalaupun ada buku baru yang bagus dan layak baca, saya tinggal pinjam punya teman baru saya yang juga punya penyakit gila nomor 117. Di luar itu, buku baru bisa tetap didapatkan dari penerbit Akoer yang setia mengirimi buku kepada saya. Terimakasih Akoer…

Kambuhnya penyakit gila nomor 117 ini, terjadi saat saya dinas ke Jakarta pada 6-10 Oktober lalu. Kebetulan, saya mendapat info ada Indonesia Book Fair di Istora Senayan. Lantaran udah lama banget tidak merasakan suasana pameran buku di Kota Padang pascagempa, tentu saya nafsu banget untuk mengunjungi book fair ini. Targetnya cuma satu, pastilah ada buku murah meriah yang bagus-bagus dan layak baca.

Dan kenyataannya emang benar. Baru melangkahkan kaki di pintu masuk Istora, aroma obral buku udah menyerbak, wkwkwk. Di setiap sudut stand yang berjubel jumlahnya, sudah terpampang beragam tulisan, discount 20%, 30%, 50%, 75%, bahkan ada yang promosi harga dimulai dari Rp 5.000 s/d Rp 25 ribu saja. Busyet dah!

Walhasil, saya gerebek saja tumpukan buku-buku di beberapa stand yang sempat disinggahi. Sempat disinggahi, maksudnya tidak semua stand bisa saya kunjungi lantaran begitu banyaknya stand dan mepetnya waktu. Ditambah pula saya tidak bawa duit banyak untuk belanja-belinji dan kantong belanja saya sudah keburu memberatkan jinjingan saya.

Yang jelas dengan modal kurang dari Rp 200 ribu, saya akhirnya sukses memborong belasan buku saja. Di antaranya buku Red Leaves (Thomas A Cook), Cinderella Man (Marc Cerasini), The Frozen Lily (Ihsan Abdel Quddous), Laras, Tubuhku Bukan Milikku (Damhuri Muhammad), dan The Thief of Baghdad (Alexander Romanoff). Buku-buku yang saya gamit di stand Dastan Book itu, cuma Rp 10 ribu/biji.

Lalu saya ke stand buku Al Huda, dan memboyong buku Jalan Menuju Khorasan (Kamal Seyed), Kafilah Budaya (Dr M Zafar Iqbal) dan Hikayat-hikayat Hikmah (Habibullah Kasyani). Tiga buku itu menghabiskan dana Rp 30 ribu.

Setelah itu saya ngobrak-ngabrik di stand buku Mizan dan memboyong beberapa buku di antaranya Laki-laki Lain Dalam Secarik Surat (Budi Darma), Memeluk Gerhana (Isa Kamari) yang dibanderol Rp 15 ribu. Buku The Tabrix Jabrix 2 (Jamal) Rp 5.000. Bukunya Meutya Hafid yang 168 Jam Dalam Sandera dihargai Rp 10 ribu dan Mikraj Odyssey (Abidah El Khalieqy) Rp 7.000. Yang paling mahal, saya cuma beli Mehrunnisa, The Twentieth Wife (Indu Sundaresan) yang dipatok Rp 20 ribu.

Karena sudah keberatan jinjingan, saya akhirnya menambah 4 buku lagi di stand Kompas. Buku Lorong ke Pusar Rumah (Arie MP Tamba) dan Antara Masa & Tali Leher (AD Donggo) yang masing-masingnya Rp 5.000, plus dua buku seharga Rp 10 ribu, yaitu Bulan Sabit di Atas Baghdad (Trias Kuncahyono) dan Cerita-cerita Negeri Asap (Radhar Panca Dahana), semuanya menambah beban saya pulang ke penginapan.

Total saya belanja beberapa jam di pameran buku itu, cuma menghabiskan Rp 182 ribu. Dengan modal segitu saya dapat 18 buku. Dan ini membuat saya sempat menyesal. Lantaran malam sebelumnya, saya sudah mengeluarkan Rp 82 ribu dan dapat hanya dua buku ketika shopping di Toko Buku Gunung Agung di Tamini Square. Yaitu buku Pak Beye dan Istananya (Wisnu Nugroho) seharga Rp 48 ribu dan Tuhan, Izinkan Aku Jadi Pelacur (Muhidin M Dahlan) Rp 34 ribu. Coba kalau saya sedari awal tahu ada Indonesia Book Fair, pastilah Rp 82 ribu itu bisa disulap jadi puluhan buku, wkwkwk.

Di Tamini Square pula, saat dinas saya pertama pada 24-27 September 2010 ke Jakarta, saya membeli dua buku yang kalo ditotal Rp 141.500. Dua buku itu, Norman Edwin, Catatan Sahabat Sang Alam (editor Rudi Badil) Rp 65 ribu, dan Padang Bulan + Cinta di Dalam Gelas (Andrea Hirata) Rp 76.500.

Ya sudahlah, dengan adanya tumpukan buku baru ini, minimal saya harus meresolusi ulang niat untuk benar-benar tidak lagi sekadar menumpuk, tapi juga membaca lalu mereviewnya di blog. Doakan saja… (max)

3 Komentar

  1. yusako said,

    29 Desember 2010 pada 5:54 pm

    wahhh ternyata ada yang mengalami hal yang serupa dengan yang saya pernah alami..wkwkwkw.. salam kenal!

  2. Yanny Melko said,

    9 April 2011 pada 11:45 am

    Dan anda memupuk bibit gila yang sama yang ada dalam diri saya….dasar tukang tular….wkwkkkkkk


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: