Sumbar Punya Gubernur Baru

Ir-mk

Gubernur “Rasa” Jawa

NAMANYA Irwan Prayitno. Bagi yang tidak tahu, pasti bakal menyangka kalau pria itu berasal dari Pulau Jawa, lantaran nama Prayitno yang disandangnya.

Bahwa benar nama itu ada kaitannya dengan Jawa, tepatnya Yogyakarta. Pasalnya, di kota itulah dia dilahirkan pada 20 Desember 1963. “Numpang lahir”, begitu kalimat pasnya. Karena ketika itu, kedua orang tuanya, Djamrul Djamal dan Sudarni –yang sama-sama dosen– tengah menjalani tugas belajar di kota pelajar tersebut.

Irwan 100% Minang asli. Ibunya berasal dari Suku Tanjuang asal Taratak Paneh, Kuranji, Kota Padang. Bapaknya bersuku Bendang Baruah dari Simabua, Kabupaten Tanahdatar. Di kampung asal emaknya itu, masyarakat memberi kepercayaan dengan mengangkatnya sebagai Datuak Penghulu Suku Tanjuang di Kenagarian Pauah IX (sebagian wilayahnya menjadi Kecamatan Kuranji, Padang) dengan gelar Datuak Rajo Bandaro Basa pada 13 Februari 2005. Bila ditulis lengkap-lengkap, namanya akan menjadi panjang: Prof Dr H Irwan Prayitno Psi MSc Datuak Rajo Bandaro Basa.

“Kejawaan” Irwan sedikit melekat dari logat bicaranya ketika dia masih kecil. Lepas usia tiga tahun, keluarganya pindah dari Jogja ke Semarang. Umur tujuh tahun, dia diboyong ke Cirebon dan bersekolah di SDN 4 Kebon Baru Cirebon. Lulus SD, dia pulang kampung ke Padang dan bersekolah di SMPN 1 Padang (lanjut ke SMAN 3 Padang). Di sinilah dia kesulitan mengubah logat Jawa menjadi logat Padang ketika berbicara.

Di kampung dia tak terlalu lama. Ketika kuliah dia kembali ke Jawa dan berkuliah di Psikologi Universitas Indonesia, Jakarta. Kuliah, menjadi aktifis, bekerja dan berumahtangga dengan Nevi Zuarina ketika berumur 22 tahun. Kesibukan yang bejibun itu, berdampak pada IPK-nya yang cuma 2,02.

Karena Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang “cuma cukup untuk makan” itu, terang saja dia sulit untuk mencari pekerjaan. Karenanya, dia pulang kampung untuk berdakwah dan mendirikan Yayasan Al-Madani dan Adzkia. Adzkia yang bergerak di bidang pendidikan, berkembang pesat yang tentu berpengaruh kepada kemapanan hidupnya.

Singkat cerita, IPK strata satu yang pas-pasan, sempat pula menjadi penghalang baginya untuk mengambil S-2. Namun selalu ada jalan untuk sebuah kebaikan, bukan? Dia akhirnya kuliah di UPM Malaysia dan lanjut pula ke S-3 dengan IP 3,97 dengan kelulusan Cum Laude.

Aktif dan turut membidani Partai Keadilan (yang kemudian bersalin menjadi Partai Keadilan Sejahtera), mengantar Irwan menjadi legislator di Senayan periode 1999-2004, 2004-2009, 2009-2014. Untuk periode terakhir, cuma dijalaninya setahun karena keburu menjadi gubernur setelah memenangi Pemilukada 2010.

Sebelumnya, pada 2005 Irwan juga pernah mencoba peruntungan untuk menjadi gubernur. Ketika itu dia berpasangan dengan Ikasuma Hamid, mantan bupati Tanahdatar yang saat itu menjadi anggota DPRD Sumbar dari PBR. Berdua mereka bersaing dengan empat pasangan lainnya; M Kapitra Ampera-Dalimi Abdullah, Gamawan Fauzi-Marlis Rahman, Leonardi Harmainy-Rusdi Lubis dan Jeffry Geoffani-Dasman Lanin. Tapi “ratak tangan” belum menggariskannya untuk menjadi gubernur pertama pilihan masyarakat secara langsung. Warga lebih memilih Gamawan-Marlis, dan Irwan-Ika cuma menjadi runner up.

Untuk 2010, sebenarnya Irwan tak punya niat untuk maju lagi. Bahkan partainya justru menggadang-gadangkan ketua PKS Sumbar Trinda Farhan Satria untuk maju. Tapi apa daya, seperti info ota-ota lapau (selentingan kabar yang berhembus di berbagai kalangan), Trinda dianggap belum punya nilai jual, sehingga kandidat lain ogah berpasangan dengannya.

Lantaran tak mau “kapalnya” kosong penumpang, akhirnya PKS mendorong Irwan untuk maju sekali lagi. Di menit-menit terakhir, disaat partai lain sudah mendeklarasikan jagoannya, muncullah Irwan dengan pasangannya yang juga mantan bupati. Yaitu Muslim Kasim, bupati Padangpariaman dua kali periode yang sedari awal sebelum Pemilukada dimulai, sudah tebar pesona dengan jargon “Minang Kembali” (MK). Irwan-MK, pun harus bertanding dengan  empat pasangan lainnya pada 30 Juni 2010; Ediwarman-Husni Hadi, Marlis Rahman-Aristo Munandar, Endang Irzal-Asrul Syukur dan Fauzi Bahar-Yohannes Dahlan. Dan… Suummmbbarr memiiiliihhhhhh… Irwan-MK!!

Maka dilantiklah pasangan ini pada Minggu, 15 Agustus 2010 di garasi DPRD Sumbar oleh Mendagri Gamawan Fauzi atas nama presiden RI. Kini, masyarakat cuma bisa menunggu apakah jargon “Perubahan untuk Lebih Baik” yang diusung pada masa kampanye lalu bakal terwujud? Mari sama-sama kita menunggu. (max)

Sekadar info:
– Foto dicomot dari http://portal.irwan-mk.com
– Tulisan diolah dari data, buku dan sependek pengetahuan yang saya punya

 

 

5 Komentar

  1. iwan bahari said,

    3 September 2010 pada 1:15 am

    Fenomena Koruptor Religius
    Oleh: Anita Retno Lestari

    ADA fakta ganjil yang sudah lama berlangsung di Indonesia: agama sering menjadi selimut atau topeng untuk me­nutupi tindakan korupsi. Misalnya, kaum koruptor tampak rajin melaksanakan ritual agama dengan melibatkan tokoh-tokoh agama dan masyarakat sekitarnya seperti menyelenggarakan acara doa bersama atau acara syukuran.

    Bahkan, ketika membangun rumah, banyak koruptor yang tidak lupa membangun tempat ibadah di lingkungan tempat tinggalnya. Jika dicermati lebih serius, tidak ada koruptor di Indonesia yang tidak beragama. Karena itu, ada pertanyaan yang layak diutarakan: kenapa seseorang bisa menjadi koruptor sekaligus rajin beribadah? Adakah hubungan antara agama dan korupsi?

    Kamuflase

    Bagi kaum moralis, fenomena koruptor yang rajin beribadah mungkin akan dipandang sebagai bentuk pelecehan terhadap agama. Dalam hal ini, para ko­ruptor sengaja memfungsikan agama se­bagai kamuflase atas kejahatannya. Tentu saja, fenomena demikian bukan hal yang aneh dan baru dalam sejarah agama-agama.

    Seperti dalam Islam, sejak awal ma­sa perkembangannya, stigma munafik te­lah diperkenalkan. Stigma itu diberi­kan kepada orang yang sengaja mem­fung­sikan Islam hanya sebagai kamu­fla­se. Dalam Islam, orang munafik di­anggap musuh paling berbahaya ba­gi kaum muslimin. Ibarat musuh dalam sa­tu selimut yang selalu siap mencela­ka­­kan kapan saja. Dengan demikian, da­lam Alquran maupun hadis, banyak disebutkan bahwa kaum munafik ada­lah kaum yang sangat dikutuk oleh Allah SAW.

    Jika faktanya sekarang di Indonesia banyak koruptor yang beragama Islam, agaknya layak diduga, mereka tergolong kaum munafik. Bila mereka per­nah atau sedang menjadi pejabat-pejabat penting, bangsa dan negara Indonesia, sepertinya, juga layak ditengarai se­bagai ikut-ikutan terkutuk, dengan bukti seringnya terjadi bencana atau tra­gedi kemanusiaan.

    Banyaknya fakta bahwa para koruptor rajin beribadah, khususnya menga­da­kan acara doa bersama atau acara syukuran, ada kesan bahwa para pemuka agama seolah-olah ikut mengamini tindakan korupsi. Kesan tersebut bisa saja menyakitkan, tapi agaknya tetap layak diungkapkan. Sebab, itu didukung fakta yang cenderung semakin fenomenal.

    Fenomena memfungsikan agama sebagai kamuflase serta kemunafikan para koruptor sering sangat mudah dilihat setiap menjelang kampanye pe­milu (dan belakangan pilkada). Misalnya, betapa banyak elite politik yang terindikasi korup berlomba-lom­ba merangkul pemuka-pemuka agama. Betapa banyak elite politik yang terindikasi korup berlomba-lomba memberikan sumbangan dana pembangunan fasilitas peribadatan atau sarana pendidikan agama. Dalam hal ini, semua pe­muka agama justru gembira (dan tidak ada yang keberatan atau sekadar mengkritik perilaku munafik).

    Karena itu, wajar-wajar saja jika ada yang bilang bahwa pemuka-pemuka agama sekarang akan senang-senang saja menerima sumbangan dana meski si pemberi jelas-jelas seorang koruptor!

    Kontradiksi

    Beberapa tahun lalu, dari lingkungan sebuah organisasi keagamaan, muncul fatwa bahwa koruptor yang meninggal dunia tidak wajib disalati. Pasalnya, koruptor identik dengan munafik. Fatwa demikian selayaknya menjadi otokritik. Sebab, selama ini banyak koruptor yang gemar mendatangi kiai-kiai untuk memberikan sumbangan dana pembangunan masjid dan pondok pesantren. Mereka bermaksud mendapatkan dukungan politik dari kiai dan pengikut mereka.

    Adanya fatwa dan perilaku kemunafikan tersebut tentu saja merupakan kontradiksi yang bisa saja akan membingungkan masyarakat awam. Bagaimana mungkin pemuka agama bisa akur dengan koruptor?

    Dengan demikian, agaknya, juga perlu segera ada fatwa baru untuk menjelaskan kontradiksi tersebut, agar ke depan tidak semakin membingungkan masyarakat awam. Sejauh ini, kontradiksi itu memang belum pernah dikaji secara serius oleh komunitas-komunitas keagamaan di Indonesia. Bahkan, belum ada pemuka agama yang mempersoalkan kontradiksi tersebut secara terbuka. Dengan begitu, hal ini pun kemudian mengundang pertanyaan baru: benarkah telah terjadi kompromi antara koruptor dan kalangan pemuka agama, karena sebagian hasil korupsi digunakan untuk mendanai kepentingan pengembangan agama?

    Revitalisasi Agama

    Fenomena semakin merajalelanya korupsi cenderung dibiarkan oleh pemuka-pemuka agama karena, sepertinya, telanjur dianggap bukan masalah yang perlu dipersoalkan lagi. Jika kini sejumlah perangkat hukum yang ada tidak bisa memberantasnya, sepertinya, perlu dilakukan upaya-upaya alternatif. Misalnya, melakukan revitalisasi agama oleh kalangan pemuka agama. Langkah-langkahnya sebagai berikut. Pertama, memandirikan semua organisasi keagamaan di Indonesia dengan menerapkan sikap tegas untuk tidak menerima sumbangan dana dari pihak-pihak yang terindikasi korup.

    Kedua, pemuka-pemuka agama menolak terlibat dalam politik praktis dengan cara tidak bergabung atau sekadar bersimpati kepada kekuatan politik yang korup. Dalam hal ini, pada saat menjelang pemilu atau pilkada, pemuka agama harus netral dan tidak mendukung secara langsung maupun tidak langsung yang menguntungkan para koruptor.

    Ketiga, mengembangkan sikap kritis masyarakat terhadap indikasi-indikasi korupsi agar tidak memberikan dukungan politik kepada siapa pun yang terindikasi korup.

    Keempat, pemuka agama serta umat beragama segera memutuskan hubungan dengan semua pejabat negara yang terindikasi korup. Dalam hal ini, menolak tegas undangan doa bersama atau acara syukuran yang diselenggarakan oleh pejabat negara yang terindikasi korup. Dengan cara demikian, ada kemungkinan kaum koruptor tidak semakin ugal-ugalan menjadikan agama sebagai kamuflase.

    Dengan revitalisasi agama, fenomena koruptor tampak religius yang identik dengan merajalelanya kaum munafik dalam melakukan korupsi berjamaah mungkin akan segera dapat dikikis habis. (*)

    • maryulismax said,

      4 September 2010 pada 3:08 pm

      @pak iwan: ondeh… niatnya mau komen atau posting tulisan di blog saya ini?

      • Omar Mekasen said,

        27 Juli 2016 pada 8:48 am

        Agama apapun itu adalah Iman. Sedangkan korupsi adalah amaliah (atau rapor dalam aktifitasnya). Yang Bagus adalah BERIMAN YG BAIK DAN BERAMAL YANG BAGUS PULA. Begitu pula tentang KORUPSI ada banyak macamnya. Ada yg korupsi yang mengambil keuntungan dari bukan haknya, tapi ada juga yang sama sekali tidak ambil keuntungan material sama sekali tapi yg menimbulkan kerugian terhadap negara karena TANGGUNG JAWABNYA sebagai Pejabat yg berwenang, karena kebijakannya menimbulkan kerugian negara. Pengadilan menjatuhkan vonis KORUPSI. Belum lagi kita kaitkan bagaimana kalau yg lagi berkuasa adalah lawan politiknya,BENAR atau SALAH adalah apa kata PARTAIKU..

  2. iwan bahari said,

    4 September 2010 pada 10:03 pm

    ondeh salah masuk ambo da , sabananyo elok diposting , ambo dapek artikelnyo di http://www.jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=101869

    • max said,

      5 September 2010 pada 10:47 pm

      seharusnya sampeyan bikin postingannya di blog sendiri.. kalo gak punya blog, bikin saja.. krn bikin blog itu gampang…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: