Menunggu Ledakan “Bom RR”

IMG_7703 copyPASCAGEMPA 30 September 2009, Sumbar akan terus didera cobaan. Saya tidak dalam kapasitas memprediksi bakal ada gempa lebih besar setelah gempa 7,9 SR. Tapi bakal ada guncangan hebat di tengah masyarakat yang persoalannya rentetan dari musibah bencana alam itu.

Apa itu? Setelah sempat digoyang “gempa kecil” bernama penyaluran uang lauk pauk (ULP) yang menuai protes di sana-sini, kini kehebohan massal bakal meletus seiring dengan akan disalurkannya bantuan di masa rekonstruksi dan rehabilitasi (RR). “Letusannya”, bakal lebih hebat  dari ULP.

Kenapa sebegitu hebat? Ya pasti saja, karena semua ini awalnya berpangkal dari yang namanya uang. Uang bisa membuat siapa saja, melakukan apa saja, walau hanya dapat segitu saja. Dan ULP, sudah menunjukkan gejala guncangan dari riak-riak yang dipantik oleh uang yang hanya Rp 750 ribu.

Demi uang Rp 750 ribu itu, yang tidak dapat pembagian, tega mengungkit-ungkit kerusakan tetangganya yang tak seberapa, rela merusak bangunan rumahnya agar terkesan parah, sudi menghiba-hiba agar diperlakukan sama dengan yang telah menerima.

Itu baru Rp 750 ribu. Bayangkan apa yang terjadi untuk Rp 15 juta yang 20 kali lipat lebih banyak dari Rp 750 ribu. Uang sebanyak itu, katanya akan dibagi-bagi buat korban gempa yang bangunan rumahnya rusak berat. Lalu ada lagi Rp 10 juta atau 13 kali lipat lebih dari Rp 750 ribu untuk rusak sedang dan Rp 1 juta atau Rp 250 ribu lebih banyak dari pembagian ULP.

Untuk Rp 15 juta yang notabene penerimanya adalah orang-orang yang menerima ULP, dapat dipastikan guncangan sosial yang bakal timbul sangatlah besar. Demi Rp 750 ribu saja, orang rela berbuat apa saja, apalagi kalau sudah menyangkut angka yang 20 kali lipat lebih banyak dari itu. Saling bunuh-bunuhan, mungkin saja terjadi, kalau iri dan dengki, disulut pula oleh api ketidakadilan.

Kalaupun tidak dapat yang Rp 15 juta, minimal mereka akan berjuang mati-matian untuk dapat yang Rp 10 juta. Rumahnya rusak lebih parah dari si anu dan lebih ringan dari si itu, alias rusak sedang, tetap dikemukakan sebagai alasan untuk dapat dikategorikan layak sebagai penerima uang Rp 10 juta itu.

Atau semati-mati angin, masyarakat akan berjuang sekeras-kerasnya untuk menerima jatah Rp 1 juta, walau rumahnya cuma retak “sedikiiiiittt” saja.  Yang pasti mereka merasa berhak, karena mereka adalah korban gempa, minimal korban perasaan (atas ketidakadilan yang dimunculkannya).

Itulah alat pemicu untuk meledakkan (sengaja diledakkan?) bom RR. Biangnya? Ketidakberesan dalam pendataan, menjadi amunisi yang berdaya ledak kuat. Dan kita, tak bisa menyalahkan siapa-siapa, karena saling berkait satu sama lainnya. Pak RT yang mendata, lalu sepengetahuan RW diserahkan ke lurah, dari lurah dilapor ke camat, dari camat disampaikan ke bupati/wali kota yang kemudian meneruskannya ke gubernur dan ditunggulah kebijakan presiden melalui menteri atau badan yang ditugasi khusus untuk bagi-bagi santunan itu.

Karena namanya bantuan, tidaklah berdosa bila si pemberi memberi lebih dari kebutuhan si penerima. Maka demi itu, data calon penerima “digelembungkan” entah oleh siapa, demi mendapat bantuan yang berlebih-lebih itu. Syukurnya, si pemberi (pemerintah pusat) tidak mudah percaya dengan data yang diterima. Walhasil, ada verifikasi ulang.

Hasil verifikasi ulang, yang melikuidasi pendataan awal “yang telah menyelamatkan korban untuk mendapat jatah lebih”, menjadi pemantik ledakan lainnya. Kenapa datanya berubah-ubah? Tanya kenapa…

Pembentukan pokmas sebagai persyaratan sah untuk dapat menerima pencairan dana bantuan RR, menjadi hulu ledak yang lebih besar. Sejauh ini, belum lagi ada sosialisasi bagaimana membentuk pokmas, gerangan apa itu pokmas, kenapa mesti berpokmas dan sebagainya. Yang cuma diketahui soal pokmas, ya sekadar kepanjangan dari pokmas yang sama-sama diketahui berarti kelompok masyarakat. Ataukah masyarakat yang dikelompok-kelompokkan?

Dinamika berkelompok yang kadang diwarnai fenomena “yang lalok makanan yang jago“, juga menjadi pemantik ledakan lainnya. Belum lagi kasus-kasus lainnya.

Sebegitu banyak ledakan yang ditimbulkan bom RR, sudah siapkah kita menghadapinya? Silahkan tanya kepada kumis dan jenggot yang bergoyang… (max)

1 Komentar

  1. 30 Mei 2011 pada 3:32 am

    This mainly causes me see how idiotic is actually present structure. I additionally enjoy that this posting would not claim it really is improper, just that you will get detected and you ought to be worried. Anyways, i just get sleeping at this time, i most certainly will reveal that to my own partner tomorrow, simply because he’s working currently. Continue posting!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: