(Lagi-lagi) Menumpuk Buku

BukujogSILAHKAN bilang saya gila. Gila buku, tentunya. Saya jamin, saya takkan marah dengan cacian itu. Justru saya bangga, walau kadang saya balik bertanya, “Benarkah saya gila?”

Kegilaan saya terhadap buku, memang sesuatu yang aneh. Untuk sementara ini (dan semoga tidak bertahan), saya tidak ragu membeli buku-buku lama maupun baru, untuk kemudian menumpuknya. Kapan akan membacanya? Belum tahu. Namun tentu saja, ada sebersit harap dan keyakinan, bahwa buku itu suatu saat nanti pasti akan terbaca. Kalau tidak oleh saya; minimal oleh istri, anak-anak dan keluarga saya.

Dengan keyakinan serupa itu, maka jangan heran kegilaan saya semakin bertambah. Dan semakin menjadi-jadi tatkala ada ajang-ajang book fair yang dipastikan sejumlah counter penerbit buku menawarkan diskon dan buku obralan, serta cuci gudang untuk buku-buku tertentu. Kalau memang sedang beruntung, bisa dipastikan dapat buku-buku bagus dengan harga yang sangat miring. Kalau lagi apes, ya pilih saja buku yang rasanya perlu untuk dibeli dan dikoleksi, hahaha.

Syukurnya, untuk Kota Padang ajang book fair digelar secara berkala sejak beberapa tahun belakangan. Cuma untuk 2009 lalu, karena agenda pesta demokrasi pemilu dan pilpres (ditambah pula kemudian musibah gempa), book fair baru sekali diadakan di Gedung Bagindo Aziz Chan. Itupun cuma Gramedia Book Fair 2009 yang memperjualbelikan buku-buku terbitan Gramedia Grup seperti Buku Kompas, Elex Media Komputindo, Grasindo, Gramedia Pustaka Utama dan sebagainya.

Di gelaran acara yang ditaja 8-16 Agustus 2009 ini, saya sungguh beruntung. Di sini, saya mendapat buku-buku kumpulan cerpen (kumcer) karya pengarang terkenal terbitan Buku Kompas yang harganya dibanderol cuma Rp 10 ribu saja! Seperti ‘Potongan cerita di Kartu Pos’ (Agus Noor, 2006), ‘Lelaki Ikan’ (Hudan Hidayat, 2006), ‘Pembunuh’ (Rayni N Massardi, 2005), ‘Sepasang Kera yang Berjalan dari Pura ke Pura’ (Sunaryono Basuki Ks, 2005). Lalu saya juga mendapat buku kumcer ‘Mandi Api’ (Gde Aryantha Soethama, 2006) yang cuma ditarif Rp 5.000.

Di luar buku-buku itu, saya juga membeli buku baru ‘Smokol; Cerpen Kompas Pilihan 2008’ seharga Rp 35.000 yang didiskon 10%. Ditambah dua seri buku Balada Si Roy; ‘Bad Days’  dan ‘Avonturir’ yang sama-sama cetakan keempat Februari 2002. Harganya, Rp 6.500. Buku karya Gola Gong ini, untuk melengkapi koleksi bukunya yang sudah beberapa buah saya miliki.

Buku-buku yang saya dapat di Gramedia Book Fair 2009 ini, jelas berbeda dengan buku-buku yang berhasil “saya kumpulkan” di stand Gramedia saat pelaksanaan Padang Book Fair IV 2008 yang dilaksanakan awal November 2008. Ketika itu, tidak satupun buku Gramedia Grup yang diobral. Hanya buku-buku terbitan Gagas Media dan Media Kita, yang dipatok seharga Rp 5.000 dan Rp 10.000. Umumnya, berupa novel adaptasi film dan chicklit atau teenlit.

Kendati begitu saya tetap membelinya, termasuk novel adaptasi film, dengan alasan lebih enak membaca jalan ceritanya melalui buku ketimbang menonton filmnya yang kadang kelewat buruk sound-nya dan bahkan kelewat lebay. Di antaranya, saya membeli ‘Mendadak Dangdut’ (Ninit Yunita, 2006), ‘Garasi (Noriyu, 2006), ‘Alexandria’ (Salman Aristo, 2005), ‘Kejar Jakarta’ (Adhitya Mulya, 2005), ‘Brownies’ (Fira  Basuki, 2004).

Lalu buku-buku ringan sejenis metropop, seperti ‘Gang Rebel’ (Ridwan Abang, 2006), ‘BijiKaka’ (Nuril Basri, 2007), ‘Nais Tu Mit Yu’ (Dina Mardiana, 2006), ‘Bukan Belahan Jiwa’ (D Sudrajat, 2007), ditambah buku Kahlil Gibran ‘Dunia yang Sempurna’ (2007). Semuanya seharga Rp 5.000.

Ditambah lagi buku-buku “agak berat”, juga saya bawa pulang, semacam buku ‘Melawan dengan Restoran’ (Sobron Aidit & Budi Kurniawan, 2007), novel ‘Dunia Paralel’ (Micki Mahendra, 2006), ‘Jakarta Metropolis Tunggang Langgang’ (Marco Kusumawijaya, 2004) dan ’10 Arrrrrgh’ (Melly Goeslow, 2004). Tak ketinggalan, saya membeli novel karya teman chatting/ngeblog saya Windry Ramadhina ‘Orange’ (2008) seharga Rp 35.000 yang didiskon 10%.

Jauh sebelum Padang Book Fair IV ini, saya juga sudah memborong buku pula saat pelaksanaan Minangkabau Book Fair 2008 yang diadakan akhir Mei 2008. Untuk ajang ini, stand Gramedia tidak ada melego murah buku-buku sastra. Hanya buku-buku tutorial dan referensi terbitan Elex Media Komputindo yang diobral seharga Rp 5.000 dan Rp 7.500.

Daripada tidak ada yang dibeli, saya terpaksa membeli. Minimal untuk dikoleksi atau dibuka sesekali apabila saya butuh tutorial sesuatu. Pilihan saya jatuhkan pada buku ‘Berkreasi Membuat Logo dengan CorelDraw 12’ (Yoga, 2005), ’26 Kreasi Web Buttons (Gregorius Agung, 2004), ‘Digital Painting dengan Photoshop CS’ (Teddy Awaluddin SE & Ir Bayu Adjie, 2004). Ketiganya seharga Rp 5.000.

Ditambah dua guidebook for parents lumayan tebal seharga Rp 7.500 pun saya masukan ke keranjang belanja. Yaitu buku ‘Petualangan Keluarga Shelby’ (Dr Ken West, 2002) dan ‘Aku Cinta Buku’ (Joko D Muktiono, 2003).

Sebelum membeli buku-buku obral itu, saya terlebih dulu membeli buku berdiskon kecil-kecilan (10%-red) di stand Gramedia. Di antaranya ‘Max Havelaar’ (Multatuli, 2008) yang ditarif Rp 68 ribu, kumcer Tamara Geraldine ‘Kamu Sadar, Saya Punya Alasan Selingkuh kan Sayang? (2005) yang masih ditarif Rp 40 ribu dan buku tutorial ‘Tip Membuat Foto Indah & Menarik’ (Vincent Bayu Tapa Brata, 2007).

Buku baru yang bisa saya beli murah, justru di stand Citrahati yang menjadi panpel Minangkabau Book Fair 2008 itu. Mereka mau lepas novel karya sastrawan Sumbar Wisran Hadi ‘Orang-orang Blanti’ (2008) dengan harga cuma Rp 10 ribu dalam kondisi 80% baik. Separoh halamannya ada bercak menguning bekas air yang mengering. Tak apalah, yang penting punya buku.

Saking sakaw-nya saya dengan buku murah meriah –dengan harapan mendapat buku sangat murah seperti tatkala pelaksanaan Pesta Buku Minangkabau 2008 yang dilaksanakan sebulan sebelum Minangkabau Book Fair 2008 ini–, saya mencoba melirik stand lain. Mana tahu ada stand yang obral besar-besaran. Tidak ada. Kalaupun ada, cuma mengobral buku-buku jadoel yang sudah menguning lusuh.

Kendati begitu, saya tetap juga membeli buku-buku jadoel ini buat koleksi, lantaran harganya cuma Rp 5.000. Di antaranya saya membeli ‘Kadarwati, Wanita dengan Lima Nama’ (Pandir Kelana, 1982), ‘Bunga Rampai dari Hikayat Lama’ (Sanoesi Pane, 1948) cetakan III 1987, ‘Ki Hadjar Dewantara Ayahku’ (Bambang Sokawati Dewantara, 1989), ‘Buku Pintar Islam; Seputar Sejarah & Muamalah’ (M Natsir Arsyad, 1993), ‘Surkumur Mudukur dan Plekenyun’ (Arswendo Atmowiloto, 1995), dan buku ‘Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia jilid 1’ karya S Takdir Alisjahbana yang dilansir pertama kali 1949 dan ‘Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia jilid 2’ keluaran pertama 1950. Buku jilid 1 yang saya dapat, merupakan cetakan ke-44 tahun 1983 dan jilid 2 adalah cetakan ke-32 tahun 1986 yang keduanya diterbitkan Penerbit Dian Rakyat.

Puaskah saya dengan 39 buku hasil berburu di beberapa ajang book fair itu? Belum!! Walau belum satupun dari 39 buku itu yang saya baca sampai tulisan ini dipostingkan di blog ini, dalam rentang waktu medio 2008 hingga sekarang, saya tetap menyempatkan diri berbelanja ke Gramedia Padang di Jalan Damar. Di sana, tidak sekalipun saya pulang dengan tangan hampa. Selalu ada saja buku baru yang saya bawa pulang untuk ditumpuk dulu untuk kemudian dibaca suatu saat nanti. (max)

8 Komentar

  1. Apit Kry said,

    27 Februari 2010 pada 8:58 pm

    Uodate update….Cihuiiii… WB Pak Guru Blog Ambo…
    BTW Buku dirumah aku juga numpuk tuh… Buku2 Kuliah yang baru tersentuh pas ujian semester… wakakakakaka….

    • max said,

      28 Februari 2010 pada 8:33 pm

      rajin2 membaca ya Nak, biar lekas pandai… Jgn tiru gurumu yg hobi menumpuk buku… :P

  2. 4 Maret 2010 pada 8:17 pm

    Berkunjung menjalin relasi, mencari ilmu yang bermanfaat.
    Sukses yach ^_^

  3. bujanggadih said,

    11 April 2010 pada 4:47 am

    koleksi buku memeng baik, tetapi apa bila dibawa ke ranah ilmu ekomoni, koleksi buku tanpa jelas dengan pasti kegunaannya adalah sesuatu yang sia-sia.

  4. Takodok! said,

    19 Mei 2010 pada 12:22 pm

    boleh lah dipinjamkan ke saya :P

  5. fietha said,

    14 Agustus 2010 pada 3:06 pm

    book fair 2010 kapan ya, da max?

  6. renimaldini said,

    15 Agustus 2010 pada 4:05 pm

    kalau awak gila noveeel..
    kini lah segudang di rumah hahahha

  7. 5 November 2010 pada 10:11 am

    […] kosakata Andrea Hirata, sakit jiwa yang ini patut dilabeli sebagai penyakit gila nomor 117; membeli buku untuk ditumpuk. […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: