Kisah Miris Korban Gempa

00--kristin-mailindaBantuan itu Tak Pernah Tiba

RUMAH seukuran 3 x 3 m itu, tidak lebih bagus dari sebuah garasi milik warga kelas menengah. Dan tidak pula lebih luas dari kamar kontrakan mahasiswa. Dindingnya hollowbrick (batako) tak berplester. Atapnya sebagian seng baru dan seng bekas yang berkarat. Langit-langitnya tak berloteng. Tapi itulah satu-satunya “kekayaan” Kristin Mailinda (36).

Di dalamnya, tak ada lemari penyimpan perkakas rumah tangga, lemari kayu untuk pakaian, kursi untuk penerima tamu, atau sekadar karpet untuk pengalas lantai. Pun tak ada potret keluarga penghias dinding. Yang ada cuma kalender caleg perempuan Golkar yang maju pada pemilu lalu, kasur kapuk merah pudar berdaki, sebuah kursi plastik hijau, meja kantor bekas yang entah didapatnya dari mana.

Kalaupun ada yang sedikit berharga di ruang pengap yang jendelanya ditutupi seng itu, hanyalah sebuah televisi Sharp 17 inchi keluaran tahun 90-an. Ini pun tak lagi berguna. Karena reruntuhan batako telah menghimpitnya akibat gempa 7,9 SR lalu. “Kemewahan” yang dibanggakan Linda itu, kini jadi rongsokan.

Rumah yang berada di tepi rel kereta api di Alai Parak Kopi RT 03/RW 11 itu, berdiri di atas tanah milik PT KAI Sumbar. Dibangunnya pada Desember 2008 lalu, bermodalkan sedikit warisan dari mendiang suaminya Yanto yang meninggal setahun sebelumnya. Di sanalah janda ini hidup dengan anak gadis semata wayangnya Rahma Anita (15) yang tercatat sebagai siswi kelas VIII MTs PGAI.

Kristin-mailinda-(1)Untuk bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi yang tak menguntungkan, Linda melakoni profesi sebagai buruh cuci. Pendapatannya tak seberapa, tapi cukuplah untuk makan dan menyekolahkan Rahma. Kadang, kalau tak punya uang, Linda terpaksa berutang.

Kini, anak-beranak itu benar-benar nelangsa. Kehidupannya semakin pahit pascagempa melanda. Dia tak lagi punya apa-apa. Rumah mungilnya sudah tak layak untuk ditempati. Dindingnya runtuh di bagian depan dan kanan. Dinding yang tersisa, retak yang siap berderak jika gempa kembali menghoyak.

Dia tak berani menempati rumah itu. Tapi dia cukup punya malu bila harus menumpang di rumah tetangganya yang rata-rata hidupnya tak pula lebih baik darinya. Linda lebih memilih tinggal di depan puing rumahnya. Ketika hujan turun, barulah dia mengungsi. Itu pun tidak jauh-jauh, cukup berteduh di sebuah rumah kosong yang ditinggal penghuninya.

Kristin-mailinda-(2)Pascagempa ini, dia tak lagi bisa memasak, karena kompor minyak tanahnya juga sudah luluhlantak. Untuk makan, kadang cuma mie instan. Mirisnya, tidak setiap hari dia bisa makan. Sebagai pengganjal perut, dia memperbanyak minum air putih yang dimintanya ke tetangga sebelah rumah.

Sebegitu tragisnya nasib Linda, sejauh ini bantuan tidak pernah tiba. Jangankan bantuan, aparat pemerintah pun tak pernah menyambanginya. Pak RT, Pak RW apalagi, mereka belum sekalipun melihat kondisinya untuk melakukan pendataan.

Linda hanya bisa bermenung. Merenungi nasib yang kurang beruntung. (max)

1 Komentar

  1. bang FIKO said,

    9 Oktober 2009 pada 8:53 pm

    Mungkin karna Pak RT dan Pak RWnya juga sedang susah karena ikut jadi korban, Max…
    Tapi memang selalu begitu dari gempa yang satu ke gempa lainnya. Selalu terlambat dalam pemberian bantuan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: