Kisah Korban Selamat di The Ambacang Hotel

Weli-harti-(4)Perih Weli Tak Pernah Bertepi

SETIAP Metro TV menayangkan gambar evakuasi di The Ambacang Hotel, luka di kepala Weli Herti (51) terasa berdenyut. Perih. Sama perihnya dengan trauma mendalam yang dirasakannya sebagai korban yang selamat dari maut reruntuhan hotel itu.

Denyutan itu tidak hanya sekali. Karena stasiun TV swasta tersebut selalu mengulang-ulang gambar yang sama hampir setiap saat. Cucuran air mata dan isak tangis, tak bisa dibendungnya. Teringat detik-detik kejadian yang mengantarkannya harus menanggung luka di kepala, memar dan luka gores di punggungnya. Lengan kanannya pun menghijau lebam akibat material reruntuhan yang sempat menimpanya.

Semuanya bermula ketika Weli mendapat undangan mengikuti bimbingan teknis (bimtek) yang diadakan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar pada 30 September lalu. Posisi Weli dalam acara itu, sebagai pelaku usaha produksi hasil perikanan berupa lele asap yang digarapnya bersama 30 anggota kelompok Lumira sejak 3 bulan lalu.

Dari kampungnya di Korong Balai Satu, Nagari Lubuak Pandan, Kecamatan 2 x 11 Anam Lingkuang, Kabupaten Padangpariaman, dia sudah berada di Padang pukul 12.00 WIB. Pasalnya, sesuai jadwal di undangan, jam 12.30 WIB rencananya Kepala DKP Sumbar Ir Yosmeri bakal membuka sekaligus menjadi pembicaranya. Namun, acara itu molor.

“Baru jam 3 sore acara itu dibuka, lantaran banyaknya peserta yang datang terlambat. Usai Yosmeri memberi materi, kami diberi kesempatan ishoma,” ceritanya, mencoba meretas ulang memorinya sebelum gempa 7,9 SR memicu petaka dan duka.

Setelah ishoma, bimtek dilanjutkan dengan materi soal pemanfaatan kredit yang disampaikan staf Bank Nagari Budi Setiawan. Sebanyak 30 peserta, pun diberi kesempatan untuk berdiskusi di akhir penyampaian materi. Jarum jam sudah bergerak ke angka 5.

Tak lama berselang, gempa pun datang. Gedung hotel bergetar hebat. Peserta bimtek panik luar biasa. Mereka saling berebut keluar di detik-detik sebelum gempa semakin menguat. Begitu gempa semakin kencang, semuanya bergelimpangan. Ruangan bimtek di lantai II itupun akhirnya ambruk. Raung pekik dan rintihan menjadi satu. Suasana sontak menggulita.

Weli memegang kepalanya yang ditutupi jilbab putih. Ada rasa sakit di sana. Namun dia mengabaikannya. Mencoba bangkit dari reruntuhan yang menghimpit tubuhnya. Sejumlah orang yang tak bisa lekat-lekat dilihatnya, juga melakukan hal yang sama. Mereka berupaya mencari jalan keluar di tengah gelap yang dipenuhi tumpukan material itu.

Anak mantan wali Nagari Pakanbaru (yang kini dipecah menjadi Nagari Lubuak Pandan dan Sungai Asam-red) tahun 70-an Nurdin Dt Batuah yang menjabat selama 25 tahun itu, tak bisa berbuat banyak. Mereka hanya bisa berjalan dan kadang merangkak secara hati-hati untuk menghindari pecahan kaca yang berserakan di lantai. Lantai itupun tidak lagi datar. Sudah rengkah dan ada yang patah terbelah.

Seorang gadis bercelana pendek, berhasil menemukan jalan keluar. Tapi untuk keluar, ternyata tidaklah mudah. Pecahan kaca berserakan di bawah. Ditambah pula dengan material bangunan lainnya, siap mengancam jiwa.

“Pilihan lain tidak. Satu-satunya cara, kami harus segera melompat ke bawah.  Saya tidak bisa berpikir lagi. Tiba-tiba saja sudah berada di luar. Dan baru sadar, kalau lantai II yag kami tempati, sudah menjadi lantai dasar reruntuhan hotel itu. Dan yang mengejutkan, ternyata saya tidak memakai alas kaki saat melompat di atas pecahan kaca itu,” kata Weli seraya memperlihatkan tapak kakinya yang justru selamat dari luka.

Berada di luar, Weli tidak serta merta bisa berlari. Dia sempat terduduk cukup lama di sudut tikungan jalan yang tak begitu jauh dari reruntuhan hotel. Sekali lagi dia meraba jilbabnya. Merah darah telah mengganti kain putih kerudung yang dipakainya. Di tengah kepanikan warga, di tengah debu yang memerihkan mata, di tengah sakit yang semakin mendera, sepintas Weli sempat melihat rekan-rekannya sesama peserta bimtek. Ada sekitar 10-an orang yang selamat dari maut. Salah satunya seorang perempuan berumur 40 tahun dari Kecamatan Gasan, Kabupaten Padangpariaman yang akhirnya menjadi kawan seiringnya untuk menyelamatkan diri sepanjang Rabu malam hingga Kamis pagi (1/10).

“Sampai saat ini, saya tidak tahu namanya. Dia memanggil saya ibuk, saya pun memanggilnya ibuk. Walau secara umur, saya jauh lebih tua darinya,” ungkap istri dari Yanto (55) dan ibu dari 4 anak ini.

Karena perih semakin menyerang kepalanya, Weli berupaya meminta tolong kepada lalulalang pengendara yang berlomba-lomba mencapai daerah ketinggian karena takut dihantam tsunami yang diprediksi bakal terjadi. Seorang remaja yang mengendarai Yamaha Mio, bersedia mengantarkannya ke rumah sakit. Namun si ibuk dari Gasan, tak mau ditinggal. Akhirnya bertiga mereka berboncengan, menuju Rumah Sakit Tentara (RST) Reksodiwiryo Gantiang yang berada 3 km dari The Ambacang Hotel.

Lantaran tak bisa menembus macet, mereka akhirnya diantarkan di RS Bunda Medical Centre Jalan Proklamasi yang telah membuka tenda darurat untuk perawatan para pasiennya. Di situ luka Weli diobati. Tapi tidak dijahit, cuma sebatas diberi obat untuk menghentikan kucuran darah, lalu dibebat dengan perban.

“Usai ditangani tim medis, kami berdua berlalu. Saya tak sempat mengucapkan terima kasih ke dokternya, karena dia telah sibuk menangani pasien lainnya,” aku Weli yang ditemui mengungsi di rumah kakaknya di Jalan Famili Raya No 7 RT 1 RW 2 Gurun Laweh, Kecamatan Lubuak Bagaluang, Kota Padang. Dia harus mengungsi di situ, karena Lubuak Pandan telah luluh lantak dihoyak gempa.

Luka itu, baru dijahit keesokan harinya di RST, setelah dia dirujuk oleh ponakannya seorang Kowad yang tinggal di Asrama TNI Gantiang. Weli tak pernah tahu, berapa jahitan yang dihadiahi di kepalanya itu. Yang dia tahu, lukanya itu benar-benar perih. Seperih hatinya mengenang tragedi maut di Hotel Ambacang. (max)

1 Komentar

  1. Rahmi said,

    21 Oktober 2009 pada 7:17 pm

    Alangkah besar syukur-nya pada ALLAH SWT…karena telah diberi kesempatan ntuk selamat.

    Andai sahabat baik saya, narasumber Bank Nagari yang saat itu tengah presentasi juga diberi kesempatan yg sama… :-((

    Telah 3minggu berlalu…tapi saya masih belum percaya rasanya kalau beliau telah tiada.

    Semoga cepat sembuh…kuatlah kembali.. Syukuri “hidup kedua” yg diberikan ALLAH SWT.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: