Kambing PLN Tak Lagi Hitam

Lampu“P@#%*^@#*& Ang!!!” Begitu bunyi sumpah serapah orang Padang yang mewakilkan kemarahannya melalui penyebutan bagian “ekor manusia”. Kalaulah carutnya serupa itu, dipastikan amarah di hati mereka sudah tak terbendung lagi. Bisa dikata, berangnya sudah lewat dari ubun-ubun.

Saat ini, satu-satunya hal yang bisa membuat orang se-Kota Padang ataupun orang se-Ranah Minang bisa memaki secara serempak hanyalah gara-gara ulah PLN. Pemadaman bergilir yang dilakukan perusahaan negara yang memonopoli listrik itu, sudah kelewatan banget. Tidak lagi 3 x sehari seperti yang dianjurkan dokter di setiap resepnya, tapi sudah overdosis. Ada 5 kali sehari,  6 kali sehari dan interval lainnya di kawasan berbeda, yang kadang jadwal pemadamannya tak pernah disosialisasikan sebelumnya.

Kini, sudah lebih dari tiga bulan (berhitung bulan mungkin-red) pemadaman itu tetap dilakukan hingga di bulan puasa ini. Sekali lagi, carut p@#%*^@#*& ang!!!” itupun semakin bertubi-tubi berbunyi dan meluncur dari mulut siapa saja. Tak peduli dia tua, muda, wanita, pria, atau waria sekalipun, pastilah akan mengumpat. Tak peduli pula, dia pekerja kantoran, pengusaha UKM, pengangguran, atau apapun profesinya dijamin akan menyumpahserapahi kebijakan main padam ala PLN itu.


Maaf saja, umat muslim yang akan pergi shalat tarawih pun sempat mengeluarkan kata-kata serapah itu, begitu lampu padam, justru disaat dia akan berangkat ke masjid. Siapa takkan kesal, kata dia, niat sudah baik-baik untuk menambah amalan ibadah, malah “disetani” pemadaman lampu oleh PLN. Akhirnya dia urung beribadah.


Untuk urusan ibadah ini, tak cuma pelaksanaan shalat tarawih yang acap terganggu. Kegiatan tadarus pun kini berkurang atau nyaris tak ada sama sekali, karena biasanya PLN pasti akan memadamkan lampu begitu tarawih selesai. Di pagi hari hingga siang, aktivitas Pesantren Ramadhan yang diretas Pemko Padang untuk murid SD, pelajar SMP, siswa SMA pun menjadi tak maksimal gara-gara mati lampu.


Dari segi ekonomi, berapa banyak pengusaha yang menjerit atas perbuatan sepihak PT PLN ini. Sekadar memberi contoh saja, rekan saya yang buka usaha warnet, mengaku rugi serugi-ruginya sejak pemadaman bergilir ini. Dari mulutnyalah umpatan sarkasme yang paling acap saya dengar ketika lampu mati, karena saya memang rajin nongkrong di warnetnya. “P@#%*^@#*& Ang!!!” katanya tanpa tedeng aling-aling.


Itu baru sebagian contoh. Akan sangat panjang bila dirunut terus contoh-contoh lain ataupun rangkaian dampak dari pemadaman sepihak ini.


Walau sering diumpat, disumpahserapahi, dicaci maki, “dipercarutkan”, PLN tetap punya jurus ampuh yang bernama Kambing Hitam. Beragam alasan yang bisa dikambinghitamkan, adalah kecilnya debit air PLTA anu, rusaknya pembangkit gara-gara anunya anu, tingginya pemakaian anu di tengah terbatasnya daya menganu si anu, dan bla bla bla lainnya.


Lucunya, PLN kadang lupa melakukan penyeragaman untuk menghitamkan kambing yang akan diperlihatkan masyarakat. Sehingga yang terlihat dan terbaca oleh masyarakat pelanggan PLN (yang mungkin terpaksa menjadi pelanggan setia, karena tidak ada kompetitor lain yang bisa dilanggani) adalah kambing itu sekadar dihitamkan, sehingga belangnya yang lain tetap kelihatan!


Untuk tahun ini (dan juga tahun-tahun sebelumnya), kambing hitam yang paling mangkus disampaikan ke pelanggan adalah, debit air PLTA  Singkarak, PLTA Maninjau, PLTA Batang Agam, atau PLTA Koto Panjang di Riau sana, tidak lagi memenuhi elevasi yang ditentukan. Ditambah pula ada kerusakan teknis pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Ombilin gara-gara gempa. Halah!


Dari rangkaian alasan itu, akan meluncur pula kata-kata bahwa PLN masih defisit untuk melayani beban pemakaian listrik, dan seterusnya. Maka dipaparkanlah angka-angka yang akhirnya membuat pelanggan setia apatis untuk sekadar mengingat berapa besar beban yang harus dipenuhi PLN di tengah tingginya kebutuhan pelanggan. Jawaban mereka (pelanggan) pasti akan nyelekit, “Ya iyalah.., siapa suruh memonopoli penyediaan listrik. Tanggung aja sendiri akibatnya!”


Sejumlah pelanggan yang pikirannya masih awam tapi bisa diterima akal, melontarkan kata-kata; “Sudah saatnya PLN punya kompetitor!”


“Bagi saya, tak masalah harus membayar mahal, asal pelayanan listrik tidak lagi acakadul seperti ini. Kapan perlu, pelayannya tak cuma PLN, bisa saja ada PLS-PLS yang pada akhirnya pastilah akan bersaing mati-matian berebut pelanggan. Untuk memenangkan persaingan, mereka akan dijamin meluncurkan trik memberikan pelayanan memuaskan dengan harga yang tak memberatkan. Perang tarif antar-provider telekomunikasi telah menjadi contoh yang baik soal ini,” kata teman saya yang rajin menyuarakan gerakan “Harus Ada Kompetitor PLN” di jejaring sosial seperti facebook dan plurk.


Mungkinkah??? (max)

9 Komentar

  1. aurora said,

    28 Agustus 2009 pada 6:59 pm

    pertamax!!!
    tapi da max, apa gunanya PLN melakukan pemadaman ekstrim ini? pasti ada alasannya….

  2. widya said,

    31 Agustus 2009 pada 2:42 pm

    mungkin ja da max, kayak di jakarta kan ada perusahaan penyedia jasa listrik yg bersumberkan tenaga surya. da keinginan jg sih bkin yg kyak gtuan tp blum mampu financial n ilmunya…

  3. aw4nk said,

    1 September 2009 pada 12:36 pm

    Kapan ya penderitaan warga Padang bisa berakhir?…
    Padahal diSumatera Padang sendiri kelebihan daya tapi kenyataannya sering Pemadaman Listrik secara bergilir. Namun di Palembang – Lampung (Sumatera Bagian Selatan) sendiri selama ini kekurangan daya akan tetapi tidak pernah terjadi pemadaman Listrik secara bergiliran

    Mungkin dari orang tua tidak akan mengijinkan putra/i nya untuk bekerja di PLN karena takut kena sumpah serapah dari Warga Padang dan sekitarnya

  4. morishige said,

    2 September 2009 pada 4:56 pm

    wah.. pulang besok saya harus siap2 sering gelap2an nih.. :mrgreen:

  5. kondiax said,

    7 September 2009 pada 3:53 pm

    P@#%*^@#*@ ANG!!!, Memang kata inilah yang pantas untuk kau max, ini baru ajaran marxisme, awas ajaran baru, jangan terpengaruh ajaran sesat ini, hati-hati jalan licin komunis baru muncul dihadapan kita, mari ummat beragama membasmi sampai keluar kata-kata P@#%*^@#*@ ANG !!!, sampai tabix jiriknya.

  6. bartele said,

    7 September 2009 pada 4:10 pm

    Kenapa sdr.maryulis max menulis demikian menebar kebencian, menghasut, menghina, mencaci maki, apakah tulisan kau ga kau sangka minta pertanggung jawaban di Yaumil Akhir nanti ?, entah kamu ga beragama, orang padang yang kau hasut itu, mana mungkin mau segolongan masuk neraka bersama kau, entah kau ga percaya neraka, terus hasutlah semau-maumu, namun orang padang banyak yang imannya kokoh tidak tergoyahkan (menghasut, memcaci, memaki itu adalah : DOSA BESAR !!!

  7. P@#%*^@#*@ ANG said,

    7 September 2009 pada 5:18 pm

    kamu yang P@#%^@#*@ ANG MAX KEBENCIAN

  8. Andres said,

    12 September 2009 pada 1:01 am

    Iapz..benar sekali da max!!
    Saya salah satu orang yg mengupat dan mencacai maki PLN tumbuang itu..

    Saya merasa..PLN ini dipenuhi orang PKI,masa pada saat berbuka juga dimatikan lampu!!

    Nah saya berpikir, PLN ini ada monopoli di balik layar ( KORUPSI )
    Menurut kabar burung, PLN menyuplai listrik ke daerah riau, palembang,jambi,bengkulu dan sumbar yang mesin terbesarnya terletak di sumbar yaitu di singkarak dan di lubung alung..

    Kalau di pikir secara logika, masa di sumbar kena dimatikan pula kan kita yg otak atau t4 letak mesinnya, ngapai juga menyuplai daerah lain, sedangkan di sumbar sendiri banyak masyarakat yg membuka usaha kecil
    contohnya WARNET yang setiap detik sangat memrlukan listrik..
    Lo lah tumbuang urang pln ko ma, kata2 itu keluar dari semua pecantu dunia maya!!!

  9. Arief said,

    14 Oktober 2009 pada 11:18 am

    Saudara-saudara, kalau tidak tahu persoalan dan tidak punya data, jangan sembarang menuduh, jika memang punya data mereka tidak benar (korupsi) laporkan saja ke KPK/POLRI/KEJAKSAAN.

    Kita baru ditimpa bencana, mari masing-masing kita merenung, apa kontribusi kita terhadap turunnya bencana ini, bertobatlah.

    Untuk Aparat tolong muda-mudi dipinggir pantai Kota pada di Razia, ngapain mereka bergelap2 ditenda dipinggir pantai. Jangan sampai azab yang lebih besar datang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: