Ingin Jadi Noordin

NoordinSAYA bukan Noordin. Tapi saya sempat punya impian menjadi Noordin barang sehari saja. Bukan karena ingin ikut-ikutan top seperti Noordin M Top. Bukan. Bukan itu alasannya.

Saya ingin jadi Noordin, sebatas merasakan bagaimana dia memaknai hidup. Sebatas ingin mengetahui gumpalan hati macam apa yang dimilikinya, sehingga tega-seteganya menebar bom di mana-mana. Menebar kebencian, ketakutan, dan maut yang katanya jalan jihad fisabilillah.

Andai saya jadi Noordin –sehari saja–, ada waktu 24 jam bagi saya untuk melakukan banyak hal. Saya tak perlu bersembunyi. Saya justru akan wara-wiri. Mencari psikiater yang paling mumpuni untuk mengetahui penyakit jiwa seperti apa yang menjangkiti hati ini. Memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui apa  jenis darah yang mengaliri urat-urat yang berseliweran di tubuh ini. Kapan perlu, saya akan ikuti ruqyah untuk sekadar tahu nenek moyang jin jenis mana yang telah merasuki pikiran saya sehingga seenak perut saja menjadikan agama sebagai landasan untuk menebar kerusakan di muka bumi ini.

Saya yakin, psikiater akan menyebut satu kesimpulan untuk penyakit jiwa yang saya derita sebagai seorang Noordin. Gila. Ya, gila. Pasti dia menuding saya sebagai orang gila. Gila membunuh untuk alasan yang tak masuk akal.

Saya pun haqqul yaqin, dokter akan menyebut saya sebagai orang yang haus darah. Walau darah saya tetap merah. Tapi apalah beda seorang Noordin dengan drakula yang meminta darah di mana-mana.

Saya semakin yakin, ustadz yang me-ruqyah saya akan pusing tujuh keliling mengusir jin yang merasuki jiwa rapuh saya ini. Dia pun akan pasti bingung, kalam Illahi macam apalagi yang akan memulihkan keyakinan saya untuk kembali ke jalan yang benar. Toh bagi bagi Noordin, jihad telah dipelintir dan menjadi sebuah kebenaran yang hakiki.

Saya tak hendak menghakimi. Tapi saya juga punya pikiran yang saya anggap benar, sebagaimana Noordin menganggap apa yang dilakukannya itu benar. Jadi apakah itu kebenaran?

Adalah benar apabila Allah memerintahkan kepada umatnya untuk menegakkan agamaNya. Tapi tidak dengan jalan kekerasan. Tidak dengan pemaksaaan. Tidak dengan pengeboman. Tidak dengan alasan apapun di luar apa yang telah digariskanNya dalam al Qur’an dan hadist. Laa akroha fiddiin.

Demikianlah, impian saya untuk menjadi Noordin, setidaknya akan kembali meluruskan apa itu jihad. Kalau ingin berjihad, kenapa tidak berperang saja dengan Israel, ketimbang mengebom orang-orang yang tidak bersalah, orang-orang yang belum tentu membenci agama Allah.

Tapi, saya tidak pernah diberi kesempatan untuk menjadi Noordin. Jika memang begitu adanya, saya pun meminta siapa saja untuk tidak menjadi Noordin. Jangan lakukan cara-cara Noordin, apalagi sampai menjadi pengikut Noordin. Mari kita bersama-sama memerangi Noordin. Katakan padanya,”Kami tak pernah takut denganmu, Noordin!!!” (max)

foto dicomot dari: http://www.suaramerdeka.com/harian/0612/23/sm1noordin23.jpg

7 Komentar

  1. 15 Agustus 2009 pada 10:16 pm

    Haha, sebuah perenungan yang bagus, jika seandainya saya bisa jadi Noordin sebentar saja saya juga ingin melihat sebenarnya apa sih yang diyakininya, kok bisa-bisanya dia mau membunuh sesamanya sendiri..

  2. adi isa said,

    15 Agustus 2009 pada 10:21 pm

    wow…oek juga nih..hehehhe
    salam hangat

  3. adi isa said,

    15 Agustus 2009 pada 10:21 pm

    wow…oke juga nih..hehehhe
    salam hangat

  4. aw4nk said,

    16 Agustus 2009 pada 12:31 am

    Drakula era modern yang ngak kenal siang dan malam lagi untuk menghisap darah-darah Manusia

  5. renimaldini said,

    20 Agustus 2009 pada 7:16 pm

    wak kok jadi noordin agak sari se (kok tuhan mangizinan pulo), yang pasti awak ka mancari mor untuk maarean pasak pintu kapalo nan alah agak longga ko ha.. hi.. hi..

    btw: mantap mah pak redpel, dapat ide dri mana tuh… yang jelah si noordin tu bana kurang aja mah

  6. chandra said,

    26 Agustus 2009 pada 3:33 pm

    Oek…mantap jg tuh crita nya….
    salam knal yach……

  7. enno said,

    18 September 2009 pada 4:08 pm

    maak………jad apa kek yang lebh keren teroris koq dipinginin Cuapek dech gak usa riweh mas…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: