Prosesi Pemakaman Mayat Tak Dikenal

Tpu tunggul hitamTak ada Isak Tangis, Kuburan Alakadarnya

TAK cukup 10 menit, tubuh ringkih berbalut kain kafan itu, sudah “resmi” menjadi penghuni alam barzakh. Di dalam tanah berair, berkedalaman seadanya, jasadnya bersemayam untuk selamanya. Tak ada isak tangis, tak ada tabur bunga, tak ada pelayat, pun tak ada papan penunjuk nama.

Sempat menghuni bunker mayat di Instalasi Pemulasaran Jenazah RS Dr M Djamil selama sembilan hari, mayat pria tua tak beridentitas ini diantarkan ke TPU Tunggua Hitam. Cuma sopir ambulance dan seorang petugas kamar mayat yang mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir itu.

Begitu ambulance bernopol BA 8030 JB tersebut memasuki pekarangan TPU, prosedur “pemakaman gratis” segera diurus. Tuntas. Dua penggali kuburan segera bergegas. Liang lahat pun digali. Tanahnya liat dan berair, karena persis berada di sebelah saluran air yang 5 meter ke arah selatannya merupakan aliran Batang Kurao Pagang.

Cuma butuh setengah jam, liang kubur yang tak begitu dalam itu selesai digali. Tepat pukul 11.40 WIB, jenazah tersebut dimasukkan ke lahat. Terlebih dahulu tali kafannya dibuka. Tubuhnya dimiringkan menghadap kiblat. Setelah itu, jangan bayangkan kubur ini ditutup dengan papan sebelum diurug dengan tanah. Sebagai penggantinya, pohon-pohon puring dijadikan sebagai penutup. Lalu tanah pun diurug untuk menimbun jenazah lelaki yang ditemukan di halte bus depan Kantor Daerah Telekomunikasi (Kandatel) Telkom Sumbar di Jalan Rasuna Said, pada Senin (1/6) lalu itu.

Usai dikubur, tak ada acara tabur bunga. Tak ada pemasangan nisan. Pembacaan doa pun nyaris terlupa. Syukurnya penggali kubur ingat, bahwa mayat itu belum didoakan. Petugas kamar mayat langsung mendoakannya. Sendirian. Sementara penggali kubur tak turut menengadahkan tangan.

Pukul 11.50 WIB, prosesi singkat itu selesai. Uang senilai Rp 15 ribu, diberikan ke penggali kubur untuk mereka bagi dua. Upah yang sekadarnya dan tak biasa. Mereka pun ikhlas menerima, karena memang tahu bahwa mayat terlantar ini “ditanggung negara”.

Pihak RS Dr M Djamil, tidak sembarangan menguburkan mayat lelaki yang diduga gelandangan ini. Seminggu lamanya ditunggu, tak juga ada yang mengaku sebagai keluarga korban. “Sesuai aturan, lalu kita kuburkan,” kata Rita Febriyenti, petugas administrasi kamar mayat.

Sebelum dikubur, ada prosedur yang harus dilalui. “Mereka melapor ke Dinas Sosial. Diteruskan ke polisi untuk dibuatkan berita acara. Baru setelah itu dilaporkan ke UPT Pemakaman Umum Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Padang begitu sampai di TPU ini. Makanya urusannya tadi cuma sebentar, karena berkasnya sudah lengkap,” kata M Iqbal SH, kepala UPT Pemakaman. (max)

7 Komentar

  1. aurora said,

    10 Juni 2009 pada 1:59 pm

    betapa kasihannya, dimana kita telah tiada, ga ada yang menangisi kita, mudah2an arwahnya diterima disisiNya, amiinn

  2. puji said,

    22 Juni 2009 pada 2:57 pm

    Mudah-mudahan semua amal ibadahnya diterima di sisi Tuhan..

  3. avartara said,

    23 Juni 2009 pada 5:20 pm

    Jiwa yang terbuang dari kumpulannya yg tersingkirkan,……

  4. unai said,

    26 Juni 2009 pada 12:09 pm

    miris membacanya da. semoga arwahnya diterima Allah swt.amiiin

  5. imoe said,

    17 Juli 2009 pada 6:33 pm

    jangan sampai kita semua begitu…

  6. Den Mas said,

    25 Juli 2009 pada 11:57 pm

    saya selalu berharap meninggalkan dunia ini dengan iringan isak dan tangis orang-orang di sekitar. tidak dengan cara seperti ini. Meninggal tanpa ada isak tangis seperti hidup tanpa jejak kebaikan

  7. Den Mas said,

    26 Juli 2009 pada 12:00 am

    mas, blognya saya link ke blog saya yah? saya suka tulisan2nya. semoga bisa lebih sering berkunjung :)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: