Cuci Otak

BotakPROYEK kloning isi kepala saya baru saja selesai. Seluruh pengambil kebijakan, terutama para Caleg yang baru saja duduk di parlemen setelah mendapatkan suara signifikan di Pemilu 2009, otaknya sudah saya cuci dengan brain washing machine.
 
Mereka sudah bisa secara sah dan meyakinkan untuk membuat peraturan perundang-undangan yang sesuai dengan isi kepala saya. Karena otak mereka merupakan hasil kloning dari otak saya, maka apa yang menurut saya benar dan betul, itu pula kebenaran yang terpatri di otak mereka.
 
Kepada mereka, sudah saya titahkan untuk mengesahkan UU Pemilu baru. Walau 45% hasil copy paste dari UU lama, namun 55% adalah murni hasil olah pikir otak saya yang dapat mereka pahami dan mengerti untuk kemudian mereka sahkan sebagai UU baru yang akan berlaku pada Pemilu 2014.

Pasal paling krusial adalah, peserta Pemilu lima tahun mendatang hanya 9 partai, yaitu yang tembus parliamentary treshold (PT). Tidak dibenarkan lagi ada pembentukan partai baru. Para Caleg dari 29 Parpol yang gagal melenggang ke parlemen, dilarang berpolitik untuk satu periode. Periode berikutnya boleh nyaleg lagi, itupun dengan bergabung ke Parpol yang 9 tadi. Dan 9 itupun terus disaring dengan tetap memberlakukan 2,5% PT tersebut. Sehingga pada akhirnya Parpol tinggal secuil, persaingan pun cukup di internal Parpol. Tak akan ada lagi beribu Caleg, berpuluh-puluh partai. Yang ada cuma 1 sampai 3 partai dengan beratus-ratus Caleg yang akan berkompetisi dengan teman seperjuangannya.
 
Kenapa begitu? Ya iyalah, masak ya iya dong, duren aja dibelah bukan dibedong! Logika simpelnya saja, rakyat saja sudah tidak percaya sama dia, kok tetap maksa maju lagi? Daripada nanti-nanti orang gila bertambah, lebih baik  dari kini dicegah.
 
Mengapa saya harus mencuci otak para pembuat undang-undang itu? Karena belajar dari yang “teralah” (sudah-sudah-red), selalu saja UU berubah tergantung kepentingan mereka dan partai mereka masing-masing. Bukan didasari kehendak rakyat yang telah memercayakan ke mereka untuk jadi wakilnya.
 
Bukti sahihnya, dulu ada electoral treshold lalu diganti dengan parliamentary treshold. Itu demi apa? Ya demi maunya mereka, bukan kita-kita. Bukti kedua, dulu para wakil rakyat itu hanya boleh 2 periode saja duduk di kursi dewan, kalau kini sampai karatan pun tak ada yang larang. Bukti ketiga, dulu DPD itu hanya untuk non partisan alias bukan dari Parpol, kini yang udah bangkotan di Parpol pun bisa maju sebagai senator. Itu demi siapa? Ya demi mereka. Demi kepentingan mereka untuk melanggengkan keasyikan berkuasa dan nikmatnya punya kuasa.
 
Lalu pasal penting lain menyangkut Pemilu adalah, tidak ada lagi keribetan-keribetan seperti DP4, DPS, DPT, undangan pencontrengan dan sebagainya. Kenapa yang seharusnya mudah harus dipersulit. Cukup berbekal KTP, siapa saja dia, apa saja suku bangsanya, apa pun pekerjaannya, di mana saja dia berada, boleh ikutan nyontreng. Toh kalau khawatir bakal ada yang memilih berulang di lokasi berbeda, tinggal lihat tinta yang melekat di jarinya. Nah, tinta itu harus tahan selama seminggu, bukan seperti sekarang yang hanya hitungan jam sudah bisa dihilangkan.
 
“Kapan perlu dibikin saja tato contreng bagi yang nyontreng,” usul seorang kawan melalui facebook.
 
Kesimpelan berpikir seperti itulah yang saya lakukan ke para pembuat kebijakan.
 
Sekali lagi, mengapa saya harus mencuci otak para pembuat undang-undang itu? Karena belajar dari yang “teralah” (sudah-sudah-red), selalu saja UU berubah. Paradigmanya: “Kalau bisa dipersusah, kenapa dipermudah?”
 
Begitulah… Para pembuat UU yang baru itu kini sudah berada di bawah kekuasaan pikiran saya. Sayangnya, mereka tidak berada di negeri yang bernama Indonesia, tapi di negeri bertajuk Impiansaya… (max)

4 Komentar

  1. juliach said,

    15 April 2009 pada 4:56 am

    Washing Machine-ku merk-nya Bosch bisa nyuci sampe bersih sekali apa lagi kaos kaki anak-anak yang kotor sekali sehabis dipake maen bola tanpa sepatu.

    Kalo untuk nyuci otak yang kotor bagaimana? Mau dicoba?

  2. avartara said,

    15 April 2009 pada 10:39 am

    Kalau para caleg terpilih memberikan kesempatan bagi saya untuk mencuci otaknya, maka saya akan ubah para digma mereka untuk menjadi rakyat jelata saja,…. Toh ga ada gunanya pemerintahan yang hanya mementingkan perut dan nafsunya saja,…. Tapi sayang otak mereka dilapisi dinding karang kerakusan dan keangkuhan,…

  3. 16 April 2009 pada 1:27 am

    setuju juga neh
    :)

  4. bang fiko said,

    16 April 2009 pada 4:10 pm

    Bantu cuci otak aku juga Max… Hehehehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: