Selalu Begitu, Begitu Selalu

PhotoFunia-5479cBerpuluh hari, beratus hari bahkan, pemandangan mata ini rusak. Setiap waktu, setiap saat, di setiap tempat, disuguhi kibaran bendera Parpol, senyum palsu Caleg, iklan tak bermutu, sampai jualan kecap yang selalu mengklaim nomor satu.

Berhari-hari itu juga akhirnya apatis itu tumbuh. Terlalu banyak wajah, terlalu banyak partai, terlalu banyak janji, siapa yang mau dipilih? Yang karatan, yang lawas, yang kugiran, yang newcomer, yang newbie, yang coba-coba, yang niat banget, yang berhati malaikat, yang berperangai dubilih, berebut mau dipilih.

Besok, semua kekacaubalauan pandangan itu, akan lenyap dari kerlingan mata. Kalaupun tetap ada, itulah partai atau Caleg yang tak layak contreng. Belum apa-apa sudah melanggar aturan, apalagi kalau sudah duduk enak di parlemen, pasti pelanggaran-pelanggaran berikutnya bukan hil yang mustahal untuk tidak dilakukannya. Bukankah segala cara halal bagi mereka?

Empat hari kemudian, tepat 9 April 2009, kita akhirnya harus menentukan. Memilih yang terbaik dari yang baik, ataupun kalau tidak ada, memilih yang baik dari yang buruk, mungkin juga yang buruk dari paling buruk. Jika masih bingung? Memilih bukanlah sebuah pilihan, ada atau tidak ada fatwa larangan golput dari para ulama.

Setelah itu, hari-hari berikutnya, kita harus menunggu, siapa yang menang, siapa yang kalah, siapa merasa dicurangi, siapa yang mencurangi. Syukur-syukur tidak ada yang membikin rusuh. Karena peluang untuk itu terbuka lebar lantaran begitu banyaknya kambing hitam yang bisa disebar. Kinerja KPU, mulai dari pendataan pemilih sampai penetapan hasil terpilih, dianggap tidak belajar dari KPU-KPU sebelumnya yang telah bubar.

Seandainya seluruh proses dianggap benar dan semua partisipan Pemilu berjiwa besar dan bisa bersabar menerima hasil kumulatif total contrengan, roda pembangunan dan pemerintahan kembali berputar. Yang duduk di parlemen kini bisa tersenyum lebar.

Mereka mulai bekerja dan akan kembali mengulangi setiap apa yang pernah dilakukan pendahulunya dan mungkin lupa dengan janji-janjinya ketika kampanye. Membuat peraturan-peraturan yang lebih mementingkan kepentingan golongannya, garis partainya, bukan kepentingan bersama dan kebutuhan rakyat jelata yang dulu diumbar-umbar. Pergi kunker atau jalan-jalan berbalut studi banding yang entah apa dibanding-bandingkan, dan hasilnya tak pernah diterapkan, kecuali tinggal kenangan. Yang penting bisa menghabiskan anggaran yang telah dianggarkan.

Begitulah… roda politik berputar. Dan nasib kita, entahkan bersinar atau memudar, untuk kemudian menunggu janji-janji kembali diumbar. Semoga kita masih bisa bersabar! (max)

3 Komentar

  1. 5 April 2009 pada 4:33 pm

    […] Originally posted from Selalu Begitu, Begitu Selalu […]

  2. bang fiko said,

    7 April 2009 pada 1:12 pm

    Ya gitu deh Max… Tapi bukan berarti kita harus berhenti berharap kan? Karena bagiku segala sesuatu harus dimulai dari berharap. Kita tak akan melakukan apa-apa jika kita tak berharap.

    max -> berharap boleh, tp jgn kelewatan, ntar malah stres sendiri Kry

  3. avartara said,

    7 April 2009 pada 1:12 pm

    Pengalaman mengajarkan kita, betapa banyak kata-kata yang berhamburan, dan betapa tindakan tersebut tak lebih dari sekadar penjajahan kata-kata, sehingga menanggalkan makna yang sesungguhnya. Pembodohan yang disengaja, dan berdusta secara maksimal. Tindakan ini dilakukan secara turun-temurun dan secara turun temurun pula kita merencanakannya dalam kalender kenegaraan bangsa.

    max -> ciyehhhh… bijaksana bana mah komennyo.. indak sia2 baraja di plurk doh.. (lmao)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: