Menangisi Pemimpin

Kampanye-MaxSAYA menangis. Tak hanya menangisi diri sendiri, keluarga, sahabat, sanak kerabat, tapi juga calon pemimpin dan pemimpin yang ngaku-ngaku hebat. Kesombongan, ketakaburan, ditebar di mana-mana. Hasilnya.., bangsa ini tetap melarat dan diisi orang-orang keparat yang doyan main sunat.

Saya semakin menangis. Lihatlah calon-calon pemimpin, atau yang sudah pernah memimpin masih kepengen memimpin, dan yang sedang memimpin ingin bertahan memimpin. Gambar-gambar ditebar di mana-mana. Poster-poster dipajang di mana saja, persis seperti orang narsis kekurangan tempat buat ber-narsis ria. Tak peduli orang suka atau tak suka, tak peduli lingkungan sekitarnya bakal awut-awutan. Jurus jitu pun dikeluarkan; “tebar pesona, sebar kharisma”. Kapan perlu baliho dibuat segede gaban biar orang semakin penasaran.

Lihatlah…, berbagai cara pun dilakukan. Kawan menjadi lawan. Keburukan lawan disebarluaskan. Dan itu dianggap sebagai permainan. Laksana mainan yoyo atau pun sirkus yang acap dipertontonkan. Siapa yang main yoyo, siapa yang bermain sirkus, jangan tanyakan ke saya, karena saya cuma pandai bermain air mata.

Lalu muncullah kesombongan-kesombongan itu. Jargon-jargon berserakan. Bak tong kosong yang nyaring bunyinya. Dipukul dulu baru bersuara. Kalau sedang tak berselera, cukup diam saja karena diam dianggap emas.

Semuanya mengaku pernah berbuat. Berbuat a sampai z, bersuara vokal konsonan-vokal konsonan. Tapi mana hasilnya? Bangsa ini tetap melarat. Padahal setiap saat selalu didengung-dengungkan bahwasannya bangsa ini bangsa besar dengan limpahan sumberdaya alam yang belum akan habis untuk tujuh turunan. Kenyataannya, bangsa ini tetap menjadi bangsa dengan jumlah koruptor yang besar, bangsa dengan jumlah penduduk melarat yang besar, bangsa yang doyan membesar-besarkan yang tak patut dibesar-besarkan. Maka patutlah disebut bangsa ini korban omong besar.

Akankah kita tetap mempertahankan “kebesaran” itu? Masihkah kita terbuai dengan mimpi-mimpi semu yang ditebar calon pemimpin itu? Karena itulah saya menangis. Dan sepatutnyalah kita semua menangis. Tapi mohon maaf, saya bukan penebar virus tangis. Saya menangis dan mengajak menangis, agar kita meyakinkan pada diri sendiri bahwa sanubari kita sebagai bangsa besar belum lagi disentuh dan tersentuh oleh prilaku para pemimpin.

Pertanyakanlah dalam tangisan itu, “Kapan kita akan punya pemimpin yang benar-benar mampu memimpin dan mempunyai jiwa kepemimpinan?” Tak perlu neko-neko menyusun kriteria calon pemimpin yang layak dipilih untuk memimpin. Cukup cari saja calon yang jujur. Jujur dalam arti sebenarnya. Bukan jujur yang dibuat-buat. Bukan jujur yang sesaat. Tapi orang yang betul-betul jujur. Seperti saya yang telah jujur menangis, dan mengakui salah dan kesalahan bangsa ini, dan berjanji untuk tidak mengulangi.

Tapi kembali saya tegaskan, “Saya bukan salah satu calon yang harus dipilih untuk jadi pemimpin. Karena jujur saya katakan, saya tidak pandai memimpin.”

Makanya, tentukan pilihan Anda sebaik-baiknya. Salah mencontreng, nasib bangsa ini akan tetap coreng moreng!! (max)

12 Komentar

  1. 9 Februari 2009 pada 10:54 am

    dari parpol mana da max ? :D hehehe…

  2. v3rdee said,

    9 Februari 2009 pada 2:40 pm

    hidup Norak Obangmax…
    saya tidak akan pilih kamu Wkkkkkk….

  3. kurniadi said,

    9 Februari 2009 pada 3:00 pm

    begini mas,it’s real and you must do that,pilih aja kok repot.intinya kampanya,pemilihan,janji-janji itu adalah urusan mereka.lagian mereka pasti empertaggungjawabkannya nanti di akhirat.cuma kita sebagai WNI yang baik,seharusnya ikut seorang pemimpin selagi dia benar.jangan kita menyalahkan karena rasis,agama,bahkan parpol dan kepetingan pribadi sekalipun.catatan penting!!! tidak apa-apa memilih mas jika aku bilang mas mampu untuk mejadi pemimpin. ya gak?

  4. 9 Februari 2009 pada 10:38 pm

    Wow … aku pilih foto bannernya aja …

  5. imoe said,

    11 Februari 2009 pada 6:24 pm

    mantap pak ketua foto e…dima di pajang tuh…lai ado di jalan….

  6. Catra? said,

    12 Februari 2009 pada 9:24 am

    hajar da max

  7. oktaveri said,

    12 Februari 2009 pada 9:50 am

    Benar kata max, kita mengalami krisis kepemimpinan. Sebab, pemimpin kita sebenarnya benar-benar telah pergi. Pemimpin seperti Bung Hatta yang sederhana, jujur dan bijaksana. Atau buya Hamka yang religius. Bahkan, Natsir serta Dt Palimo Kayo yang terakhir. Pasca itu, kita tak lagi memiliki the trully leader. Yang ada hanya, orang2 munafik, rakus, arogan dan yang buruk2 lainnya.
    Begitulah max, kebenaran benar-benar telah ditarik dr kita.

  8. unai said,

    13 Februari 2009 pada 10:55 am

    lalu, ada pertanyaan…segede apakah GABAN itu?

  9. 13 Februari 2009 pada 12:58 pm

    Mungkin menjadi Cul De Sac, jalan buntu karena tak ada pilihan..Akhirnya prinsip pilih yang paling kurang buruknya dari yang terburuk..

  10. masduqi said,

    20 Februari 2009 pada 7:34 am

    salut buat tuan !

  11. 21 Februari 2009 pada 12:55 pm

    padahal saya sudah siyap nyontreng… :o

    btw, pemimpin yg sebenarnya, tidak akan merayu2 para pendukungnya, malah para pendukungnya yg merayu2 dia untuk mau menerima amanah kepemimpinan…

  12. hendri said,

    21 Februari 2009 pada 11:26 pm

    indonesia seperti album photo skrg


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: