Ke Batubusuak Kami Tak Menyesal

Disela-rantingSebuah Hiking Story

NAFAS pria berbadan tambun itu tersengal-sengal. Dia menghenyakkan pantatnya di atas tanah. Debar jantungnya serasa saling buru. Sebotol minuman isotonik belum mampu mengganti tenaganya yang nyaris habis setelah berjalan seharian penuh.

Dia memalingkan wajah ke atas. Masih ada 100 meter lagi medan yang harus ditempuh. Walau jaraknya pendek, itupun bukan hal yang mudah baginya untuk mengakhiri. Karena jalannya mendaki dengan kondisi tanah yang masih lembek bekas siraman hujan. Sekali lagi dia harus terduduk diam menghimpun tenaga. Sebentar lagi, perjalanan panjang itu akan berakhir. Jam menunjukkan pukul 17.15 WIB. Rekan-rekannya yang berjalan duluan, telah sampai di belakang Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unand, tempat di mana mereka mengawali perjalanan yang membuatnya lelah itu.

Seluruh power yang dimilikinya sudah tersita sejak pagi tadi (Senin, 29 Desember 2008) mengikuti hiking yang digelar Komunitas Blogger Sumbar “Palanta“. Amar Putra, begitu dia punya nama, rela dan mengaku tidak menyesal mengikuti acara yang sudah direncanakan jauh-jauh hari tersebut. Bersama Sihendri, Ai, Danu, Ryan, Max, Ami dan kawannya, Amar harus menempuh rute yang di luar dugaan. Dimulai dengan melipir punggungan curam di belakang cikal bakal Gedung Futsal Unand, perjalanan mereka diiringi hujan gerimis yang sudah berlangsung sedari pagi.

Hati-hatiTidak hanya jalan yang becek, ilalang yang tajam, medan licin yang curam memaksa mereka untuk berjalan hati-hati. Terpeleset tentu bakal membikin cedera yang akan menghalangi perjalanan yang dimulai dari pukul 10.00 WIB tersebut. Jurang curam terlewati, anak sungai berarus deras menghadang. Kedalamannya mungkin tak seberapa –hanya setinggi paha manusia dewasa–, tapi arus yang besar jelas mengancam bila tak hati-hati menyeberang.

Begitu anak sungai itu berhasil diseberangi, persawahan penduduk terhampar di depan mata. Pematang sawah harus dititi dengan hati-hati. Cukup panjang, karena berpetak-petak sawah terpampang. Usai itu, langkah kembali terhalang. Sungai besar menghadang. Batang Kuranji –begitu nama sungai itu– tengah meluap. Airnya keruh kekuning-kuningan. Tidak mungkin untuk diseberangi. Pun jembatan yang bakal menyeberangkan mereka tidak pula ada. Terpaksalah perjalanan dilanjutkan dengan bertanya kepada petani yang tengah bekerja di sawahnya.

Ternyata ada jembatan gantung yang bakal menjadi titian buat mereka untuk melewati Batang Kuranji. Tapi jembatan itu masih jauh. Pematang sawah ke arah timur terpaksa kembali dititi. Hujan mulai membesar. Syukurnya tak jauh dari situ ada pondok milik peladang. Di sanalah lelah dilepas.

Tak perlu berlama-lama istirahat. Mereka kembali bergerak. Secara bergantian mereka menjadi pembuka jalan, hingga akhirnya jembatan itu berhasil ditemukan. Berhasil melintas, medan yang sempat menurun, kini semakin berat karena mereka harus mendaki rute terjal berkemiringan 45 derajat. Ngos-ngosan. Berkali-kali semuanya harus berhenti. Mengambil nafas, melepas lelah. Bangkit dan mulai berjalan, lalu berhenti lagi. Hingga akhirnya rute sebenarnya ditemukan.

Meniti-jembatanRute ini adalah bandar kecil selebar 1 meter yang panjangnya berkilo-kilo yang berhulu ke Patamuan, lokasi akhir dari hiking mereka. Sesekali mereka berpapasan dengan penduduk setempat. Dua jembatan panjang (tepatnya bandar air yang terpaksa dijadikan jembatan karena melewati dua lembah) terlewati. Perjalanan berakhir 15 menit kemudian. Sebuah posko pemantau debit air Batang Kuranji dan pengatur suplai air buat PLTA Lambuang Bukik, Batubusuak itulah tujuan akhir perjalanan ini.

Debit air yang besar dari Batang Karuah dan Batang Janiah yang bertemu di satu titik –sehingga kawasan itu dinamakan Patamuan dalam bentuk bendungan–, menjadi pemandangan yang mengejutkan. Airnya diterjunkan melalui sekat-sekat beton, membentuk air terjun Niagara mini. Di situ mereka beristirahat. Makan siang. Bercengkerama. Sayangnya niatan untuk mandi-mandi di sungai tak mungkin dilaksanakan di tengah besarnya arus sungai.

Sekitar dua jam di situ, mereka bergerak kembali menuju titik start di PKM Unand. Di sanalah sepeda motor mereka diparkirkan. Perjalanan pulang inilah yang berakhir seru. Ketika mereka memutuskan untuk mandi-mandi di bawah jembatan bandar air yang mereka lewati tadi. Airnya sungguh jernih. Karena berasal dari punggungan perbukitan yang berbeda. Hulu dari sebuah anak sungai yang akan bergabung dengan Batang Kuranji.
 
SegerrrrHendri, Max, Danu, dan Ryan memilih untuk mandi. Badan gerah dan penat, langsung segar begitu nyemplung di anak sungai yang dipenuhi bebatuan besar itu. Yang lain cuma bisa leha-leha di atas bebatuan besar sambil cekikikan melihat rekannya yang bermain air. Puas beberapa menit di sana, mereka harus pulang, karena sore semakin menjelang. Rute yang ditempuh tentu berbeda dengan awal keberangkatan mereka. Perkampungan di Lambuang Bukik ditempuh.

Di ujung perkampungan, seusai melintasi jembatan besi, perbukitan harus kembali didaki. Itulah yang membuat Amar harus ngos-ngosan. Tiap sebentar berhenti. Duduk terdiam menghela nafas sembari melepas pandang ke bawah, bekas perjalanan yang telah ditapaki. Perjalanan hiking yang tak pernah disesali. Perjalanan yang mungkin membuat sesal ratusan anggota Palanta lainnya yang tak bisa turut serta karena berbagai alasan yang tak terungkapkan…. (max)

2 Komentar

  1. medapri said,

    13 Januari 2009 pada 11:48 pm

    Iyo taragak ka patamuan mah bang….

    max -> hahaha…main2lah ka padang liak Med, singgah ka patamuan tu :D

  2. kecoaksuci said,

    18 Februari 2009 pada 12:19 am

    hak hak…

    ulang laagi duonkkk….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: