Jeffrie Geovanie, Jago Bangun Image

JeffriePRIA ganteng berbaju kuning gading itu hanya tersenyum-senyum. Tangannya bersedekap di dada. Bukan kedinginan. Karena suhu ruangan di Carano Room pada Minggu malam (7/9) terhitung adem. Pun cuaca di luar cukup cerah tak ada hujan seperti malam-malam sebelumnya.

Dia bersedekap sembari melemparkan pandangan ke segenap ruangan, lantaran lagi serius menyimak analisa politik ala H ST Zaili Asril, Kepala Divre Riau Pos Grup (RPG) Padang soal Pemilu 2009. Dia bukanlah peserta diskusi, tapi justru pembicara kunci yang ditunggu-tunggu olah kata dan olah pikirnya yang secara rutin mengisi rubrik di halaman pertama harian Padang Ekspres setiap Senin.

Dialah Jeffrie Geovanie. Pria yang belakangan kerap menjadi pembicaraan karena tampil beda dalam mengiklankan diri sebagai salah satu calon legislatif yang akan maju ke Senayan dari Partai Golkar untuk wilayah Sumbar. Tak ada kata-kata diiklannya itu, setidaknya seperti kata magis “Hidup adalah Perbuatan” milik mantan “induk semangnya” di Partai Amanat Nasional (PAN) yang kini telah ditinggalnya pergi ke pokok batang beringin yang kini semakin rindang.

Hanya kuning. Ya kuning.., kuning Golkar, satu halaman penuh di beberapa media di Sumbar. Sedikit terselip namanya di pojok bawah, “Jeffrie Geovanie”. Inilah iklan kreatif yang tentu mengundang tanya dan jadi pembicaraan di mana-mana.

Beriklan, di situlah kemenangan Jeffrie yang tentu saja orang akan tetap ingat dengan namanya yang sedikit berbau kebarat-baratan walau sebenarnya dia orang Minang tulen. Asal Kabupaten Limapuluh Kota di timur laut Sumatera Barat.

Semua orang tentu ingat ketika dia akan maju di Pilkada sebagai calon gubernur Sumbar periode 2005-2010. Saat itu baliho “segede gaban” bertebaran di mana-mana. Sontak wajah gantengnya itu masuk ingatan warga Sumbar. Hasilnya, sebagai new comer dia duduk di peringkat tiga bersama pasangannya Dasman Lanin yang diusung Koalisi Sakato dari lima pasang kandidat yang bertarung di ajang pemilihan langsung itu. Dia berada di bawah Gamawan Fauzi-Marlis Rahman dan Irwan Prayitno-Ikasuma Hamid. Itu jelas buah dari kekreatifan itu.

Begitulah. Saat itu cara beriklannya jelas mendobrak gaya beriklan tokoh-tokoh lainnya. Digital printing berukuran besar yang dipasang jauh hari sebelum dia memastikan kereta yang akan mengusungnya di Pilkada. Sedangkan para pesaingnya cuma mengandalkan spanduk kain yang masih terhitung konvensional ketika itu.

Akankah kekreatifan itu kembali berbuah? Untuk sementara jelas sudah nampak hasilnya. Seperti hasil survei yang dilansir Lembaga Survei Indonesia (LSI) untuk periode Juni 2008, menempatkan Jeffrie sebagai tokoh yang “paling diingat” konstituen untuk saat ini, mengalahkan tokoh-tokoh politik Sumbar lainnya.

Namun pertempuran belum lagi berlangsung. 9 April 2009 masih cukup lama. Tapi tenggat waktu sekian bulan itu, jelas semakin menguntungkan suami Diana Singgih (anak mantan Jaksa Agung Singgih) ini. Bisa jadi iklan-iklannya semakin gencar, mengingat informasi terakhir dia masih tetap membidik kursi BA 1 yang akan ditinggalkan Gamawan pada 2010 mendatang, walau akhirnya dibantah Jeffrie bahwa dia takkan maju lagi sebagai Cagub.
 
Ya bisa jadi, masih panjang karir politis yang bisa dibidiknya di usia yang masih muda ini. Tapi Jeffrie tetap adalah sosok yang paham betul bagaimana beriklan yang baik dan benar. Karena dia merupakan salah satu pendiri Fox Indonesia bersama Rizal Malaranggeng yang dikenal sebagai lembaga yang cukup berhasil menjual figur seseorang melalui iklan-iklan.
 
“Beriklan itu harus netral,” demikian kata kunci yang terlontar darinya tanpa ditanya dalam paparannya di depan forum diskusi Carano Room yang tak hanya diisi awak redaksi Posmetro, Padang Ekspres, Padang TV dan Padang-Today tapi juga tokoh-tokoh politik lintas partai seperti Partai Golkar, Partai Amanat Nasional dan Hanura yang turut hadir bersama dirinya.  

Tak beriklan pakai media pun, Jeffrie sebenarnya tetap punya keunggulan untuk menjual diri secara verbal. Kemampuannya bercerita politik sungguh runtut. Soal data pun kadang tak terlewatkan, dia bisa mengingatnya di luar kepala. Seperti malam itu, dia bisa bicara runtut tentang perjalanan Partai Golkar hingga sekarang dan hal-hal lain selama 4 jam lebih yang mengantarkan hari menunjukkan pukul 00.30 WIB Senin dinihari. (max)

 

17 Komentar

  1. 8 September 2008 pada 3:07 pm

    […] bertanya kepada tokoh muda yang menggebrak peta politik Sumbar dan nasional sejak 2004 lalu. Dia Jeffrie Geovannie, yang malam itu pakai kemeja kuning. Tidak terlalu kental kuningnya, sedikit muda. Tapi […]

  2. 8 September 2008 pada 11:14 pm

    Ya ya kalau boleh tahu apa keahliannya dan pekerjaan, boleh kan MaX? Saya suka dengan gayanya di TV, juga (sedikit) pemikirannya.

  3. hendri said,

    9 September 2008 pada 11:40 am

    huhuhuhu…JG jagoan wak dulu :D

  4. avartara said,

    10 September 2008 pada 6:45 pm

    Mudah2an apa yg dikampenyekan sesuai dengan apa yg dilakukan,…. kadang kepercayaan mulai tergoyahkan dengan banyaknya janji yang bertaburan :) da max,….. min2 karumah awak yg baru yo :)

  5. Catra said,

    15 September 2008 pada 3:51 am

    JG, politikus muda yang prefer main di ranah perpolitikan nasional. Semoga JG bisa mewakili aspirasi masyarakat sumbar nantinya

  6. danu said,

    15 September 2008 pada 9:08 am

    setuju ama da elpi,
    jangan nantinya janji tinggal janji…

  7. Deddy said,

    16 September 2008 pada 8:08 pm

    Saya gak begitu respect lagi dgn tokoh2 yg mengiklankan diri, kebayang jumlah duitnya, kebayang lg ntar kepilih sibuk nyari gantinya… :D Tokoh2 alami yg benar2 berangkat dari hati nurani, itu yg sy tunggu… Mudah2an ada Agus Salim dan Bung Hatta baru…

  8. 18 September 2008 pada 12:01 pm

    hallo mas. slm kenal ya! oh ya saya add ya di blog saya..mampir ya ke butik saya mbak…dan juga personal blog saya di http://www.tasniemrais.blogspot.com

  9. dejavu said,

    20 September 2008 pada 4:33 pm

    yang penting sih…apa yang telah mereka lakukan demi pembangunan, masyrakat sudah mulai kritis, media informasi tidak akan begitu berhasil jika tidak ada tindakan nyata demi pembangunan yang dilakukan oleh org-org yang akan berperang di dunia politik.

  10. aversaja said,

    23 September 2008 pada 12:22 am

    JG bagus, tulisannya tentang peta politik luar negeri (khususnya amerika) juga layak dijadikan referensi, tapi yang jadi perhatian bagi saya tentang sosok JG belakangan ini tentang iklan kosongnya yang ternyata “pemberitahuan” pindah kereta. Cukup kreatif, cukup mengesalkan bagi pembaca karena satu halaman itu bisa diisi dengan banyak berita kan? Tapi bagi pemilik media tentunya cukup menguntungkan, ya kan.. (salam buat maryulis max, ketua bloger kota padang)

  11. unai said,

    23 September 2008 pada 2:06 pm

    apdet napa?

  12. 24 September 2008 pada 5:08 pm

    ditunggu ide-ide kreatibnya utk kemajuwan sumbar, secara saat ini propinsi lain di sumatra udah mulai melaju kencang pembangunannya, ridar, sumsel, jambi dst…

    sumbar jangan sampe kalah donk… :)

  13. bearnuts said,

    25 September 2008 pada 10:20 pm

    dulu sempat penasaran juga sama iklan JG yang model begini :D

    yang ada di pikiranku, buat pasang iklan sehalaman penuh dll n pake digital printing itu kan biayanya ngga sedikit. modalnya apa dari kantong sendiri apa pake duit hasil pinjaman?

  14. sonny said,

    7 Oktober 2008 pada 1:52 am

    kalau soal artikulasi (hrsnya) gak usah dibahas lagi. Intelektual
    masalahnya adl apa dia punya konsistensi, persistensi, kesabaran untuk menjalani proses mencapai level politisi terdepan ?

    mulai dari pilgub Sumbar, DKI hingga berganti perahu ke Golkar sdh terlihat bhw dia bukan idealis. Dan tragisnya pragmatis & suka yg instan-instan. Soal inovasi model kampanye itu kan artifisial, gak substansial. Org marketing blg soal kemasan aja. Packaging. Ujung2nya jg duit

    pertanyaan relevannya: apa dia mampu melakukan perubahan lwt kendaraan politik Golkar yg warisan OrBa itu ? Apa Golkar bnr2 sdh berubah atau trll established u bs berubah ? Ataukah dia yg akhirnya dirubah oleh Golkar. Intellectual abortus !

    Saya pernah melihat Indra J Piliang dlm Debat di TVOne. Ah, setelah berbaju kuning kok artikulasinya jd murahan gitu. Seperti kusir bendi ! Malu saya..

  15. febri diansyah said,

    11 Oktober 2008 pada 11:39 pm

    ku kira ada yang menarik sekaligus kontradiktif dalam tulisan plus tanggapan lembaran ini. tapi, ini tentu penting, dan justru baik. sebuah pertentangan. mungkin semacam antinomi.
    tentang hal sederhana, patutkah JG memimpin Sumbar dari iklan? Walikota pilihan iklan, Gubernur pilihan iklan, presiden pilihan iklan?
    adakah teman Maryulis Max yang baik bisa jawab?

    sebelumnya mohon maaf, ambo mengetuk pintu, lewat tulisan ko. assalamualaikum.

    tentang Penkhianatan Kaum Intelektual versi Julian Benda yang pernah dinukil rekan kita Sonny agaknya cukup substansial ditanggapi. Misal, apakah sebuah tradisi intelektual dapat (dan patut?) menjadi alat kekuasaan? (ditambah frase “kendaraan orba”?), atau sebaliknya, justru intelektual yang punya kekuasaan (dalam arti “legal formal”)dapat menjadi salah satu jalan menciptakan perubahan?
    Pertentangan tesis seperti ini yang terus terjadi sampai sekarang.

    Belajar dari catatan sejarah, sayangnya,yang pertama jadi lebih dominan. Tradisi Intelektual yang cenderung lebih dekat pada “mitos” intelektual yang jadi alat kekuasaan.
    Apakah JG bisa buktikan sebaliknya? Misal, menjadi satu pilar atau minimal katalis untuk perbaikan di kampung kita? Jawabannya, bisa jadi YA atau TIDAK.
    Tapi, bisakah itu dilakukan dengan iklan semata?
    tentu, tidak.

    Dalam komentar ini saya justru berpikir, JG perlu jelaskan pada publik, apakah ia punya konsep, Pertama: Membaca realitas kemandekan kita, Kedua: Konsep apa yang bisa diterapkan secara kontektual di Sumbar, dan, Ketiga: Hal kongkrit apa yang akan dilakukan berdasarkan pemataan masalah tersebut (selain beriklan)?

    Teman Maryulis Max yang baik,
    semoga ini jadi satu khasanah baru diskusi kita.
    Mohon maaf, atas kekurang santunan. Mungkin, kadang dialektika sulit menjadi “santun”.

    Salam hormat,
    Febri Diansyah

    nb: jika sempat berkunjulah ke rumah ide ku.
    http://febridiansyah/wordpress.com/

  16. Aufa said,

    23 November 2008 pada 8:22 am

    Setelah membaca tulisan Bung Maryulis, saya perhatikan satu persatu komentar2nya. Hampir saya kecewa, sampai kemudian saya temukan jg pada Bung Sonya dan Febry. Yang tetap bisa melihat persoalan pada tata nilai, tentang intelektual, pengkhianatan, golkar dan orba. Tidak serta semua dinilai sebagai sebuah kehebatan, ketokohan,kepintaran, kecerdikan atau kepopuleran sehinga patut dipuji dan dikedapankan, tanpa berpijak pada sejarah dan nilai keadilan.

    Hey Man….., harus kah kita kembali membuka baratus2 atau beribu lembar catatan kejahatan politik,ekonomi,dan kemanusiaan orde baru, dimana golkar adalah salah satu mesin politik yg paling bertanggung jawab? Hanya untuk mengingatkan kembali bahwa apa yang dilakukan oleh Jeffry (dan jg Indra JP) bukankah sebuah pegkhianatan? Sebagai orang Minang,sama seperti bung Sony, saya malu melihat tingkah polah politik generasi muda Minang seperti JG dan IJP. Jg sedih melihat mainstream masyarakat Minang umunya yang seperti tidak punya ‘garis batas’ dan tata nilai lagi dalam melihat tokoh atau persoalan. Semoga saya salah.

    Salam kenal, Aufa

  17. Meizar Arani said,

    27 Juli 2010 pada 5:14 pm

    Jefrrie sebaiknya mundur saja dari anggota DPR Pusat, kalau masih suka bolos sidang. Saya malu sebagai orang sumbar yg memiliki wakil rakyat seperti Anda. Mundur Lebih baik…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: