Buku Digital Bikin Ribet Anak Sekolah

BseBUKU digital untuk anak sekolah yang dilansir Depdiknas melalui  website http://bse.depdiknas.go.id, ternyata bikin ribet. Unsur efesiensi dan efektivitasnya justru kalah jauh dibanding buku fisik yang biasa dipakai anak sekolahan.

Dari penelusuran sana-sini, buku sekolah elektronik (BSE) ini malah menyelesaikan masalah dengan masalah. File buku yang akan diunduh (download) dan dibagi per bab, ternyata berukuran sangat besar dan butuh waktu berhari-hari hanya untuk mengunduh 1 bab saja. Terakhir, kemarin (23/7) file-file buku yang bisa di-download itu justru kosong sama sekali alias berukuran 0 MB (megabita), dan tak bisa diunduh.

Sebelum trouble terjadi yang membuat pengguna tidak bisa mengunduh file BSE ini, keluhan bertubi-tubi disampaikan masyarakat. Yang paling mengemuka adalah soal filenya yang begitu besar. Sebagai contoh, buku Matematika 1 SD saja, tercatat ukuran sampul depan (cover-red) yang sudah dikompresi  ke file Zip ukurannya mencapai 1.052.493 KB (kilobita). Untuk Prelim.zip (59.566.384 KB), Bab 1.zip (209.190.633 KB), Bab 2.zip (19.905.940 KB), Bab 3.zip (23.585.486 KB), Bab 4.zip (22.820.139 KB), Bab 5.zip (28.798.119 KB), Bab 6.zip (20.008.555 KB), Bab 7.zip (12.817.459 KB), Bab 8.zip (20.508.964 KB), Sampul Belakang.zip (771.512 KB).

Dosen Teknologi Informasi Politeknik Negeri Padang Yuhefizar SKom yang dimintai tanggapannya menyebutkan, besarnya file buku yang akan diunduh itu bisa jadi pengelola BSE ingin cepat dalam mengerjakan proyek ini. “Seharusnya mereka bagi menjadi ukuran yang kecil. Herannya…, ngurus sederhana seperti itu aja kok gak bisa ya…,” ujarnya.

Menyangkut efektivitasnya, kata pria yang akrab disapa Ephi itu, program ini hanya cocok diterapkan jika infrastruktur internet telah merata dan pengetahuan IT siswa telah baik. Untuk saat ini, sekolah di pedesaan yang belum tersentuh internet dan tidak memiliki komputer, tentu tidak bisa menikmatinya. Jika semua buku sekolah diwajibkan melalui buku elektronik, maka harus dibarengi dengan bantuan penyebaran ke daerah-daerah.

Besarnya file yang diunggah (di-upload-red) pengelola BSE, kata Ephi, jelas sangat menyulitkan siswa yang mengunduhnya. Apalagi yang mengunduh dari warung internet (Warnet) dengan kapasitas bandwidth (saluran-red) yang tak seberapa. Umumnya di Warnet yang pakai Speedy cuma punya kecepatan 384 kbps. Belum lagi untuk men-download dari server utama di Jardiknas Jakarta, hanya dibantu server mirror yang cuma ada di Universitas Indonesia, Open Source Telkom Jakarta, Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya dan Universitas Hasanudin Makassar. Untuk Sumatera apalagi Sumbar belum ada server mirror-nya.

“Dengan begitu, mungkin tidak bisa diunduh dari Warnet. Jika siswa masih harus ke Warnet maka gagallah proyek ini, karena biaya Warnet lebih mahal dari bukunya. Yang harus dipikirkan, berapa biaya yang dikeluarkan untuk BSE ini. Setelah itu, kalau memang bisa diunduh, mereka baca e-book di mana? Kalau harus di-print, mereka harus nge-print di mana dan biaya print-nya berapa? Artinya mereka mending beli buku fisik saja. Karena ini bisa bikin tekor dua kali,” tukasnya.

Penulis buku Cara Mudah Membangun Website Interaktif Berbasis Content Management Joomla dan Database Management Menggunakan MS Access 2003 ini, menolak kalau program ini disebutkan sia-sia. “Cuma belum dikelola dengan baik dan tidak mempertimbangkan koneksi internet di daerah. (max)

8 Komentar

  1. hendri said,

    24 Juli 2008 pada 8:28 pm

    maklum ajha. Pemerintah kan “baru” melek internet :(

    max -> hehehhe, kesimpulan yang pas sekali :P

  2. Rian said,

    24 Juli 2008 pada 9:44 pm

    pertanyaannya.. pemerintah serius ga sich ngasih buku gratis?

    kayaknyo koq jadi ga iklas gitu yach. ngedonlod 1 buku aja, bisa ngabisin jatah bandwith sebulan.

    max -> wakakak… jatah bandwidthmu sdh habis ya Yan?

  3. 24 Juli 2008 pada 10:23 pm

    […] versi lengkapnya silahkan kunjungi disini […]

  4. ephi said,

    24 Juli 2008 pada 10:32 pm

    negara serba gak sempurna…..kalau dulu belum ada….di protes…sekarang sudah ada…namun kerja belum maksimal di protes juga…., memang sebaiknya kita harus banyak memberikan saran dan jangan terlalu banyak memprotes..:))
    “menolak kalau program ini disebutkan sia-sia. “Cuma belum dikelola dengan baik dan tidak mempertimbangkan koneksi internet di daerah.” hihihi, kita masih dalam proses menuju kesempurnaan….

    max -> benul daratista Pak… :D

  5. icha farma said,

    29 Juli 2008 pada 3:28 pm

    Wah, sama aja donk harga tu buku ama harga warnet, lamaaaaaaaaaaaaaa……!!!
    lebih baik beli buku second aja, gak mahal2 amat

    max -> icha jualan buku bekas yak? jual aja Cha :P

  6. 30 Juli 2008 pada 7:24 am

    itulaaaaah… endoneeeesaaaaa… *khidmat* :?

    max -> merdekaaa!!! *lebih khidmat* :D

  7. Deddy said,

    2 Agustus 2008 pada 7:59 am

    Saya sepakat dengan da Ephi, mestinya admin BSE membagi book tsb ke ukuran yg lebih kecil, sayang project ini kalau sampai tidak bermanfaat, karena pemerintah mengeluarkan biaya yg tdk sedikit untuk membeli hak cipta buku tsb…

    max -> begitulah Pak… kayaknya harus dikasih pelatihan lagi ya Pak :D

  8. putirenobaiak said,

    8 Agustus 2008 pada 12:08 pm

    kok apa2 yg dikelola pemerintah suka ngaco sih, tadi uni baru niat mendonlod (‘unduh’ berasa aneh aja)buat anak, msh sibuk baru sempat buka, blm dibaca :D


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: