Kutu Buku (memang) Gila

KubugilSebagai generasi baru dalam dunia resensi buku, kiprah blogger buku memang tidak bisa dinafikan. Mereka tumbuh dan menggeliat di dunia maya yang siapa saja bisa membuka dan membaca. Persoalan kualitas, itu masalah personal. Yang penting keberanian dalam menimbang dan menilai buku yang telah dibaca dengan menggunakan kacamata sendiri. Tak perlu takut dengan rambu-rambu “layak baca dan sesuai selera” yang dianut media massa konvensional. Kendati penilaian akhir tetap kepada pembaca blog, tetap tidak akan memasung kreativitas blogger buku ini.

Tak sekadar meresensi buku, para blogger ini juga menjadi komunitas sendiri yang disatukan oleh “kebiasaan” meresensi buku yang dibaca. Di dunia maya mereka bersua. Dan itu berlanjut dalam hubungan yang intens di dunia sebenarnya. Kubugil (kutu buku gila) salah satunya.

Komunitas yang mengaku bergerak diam-diam selama setahun ini, akhirnya unjuk gigi. Sabtu 17 Mei 2008 lalu, bekerjasama dengan Indonesia Buku dan penyelenggara Festival Mei Veteran, mereka menggelar perhelatan Temu Blogger Buku se-Indonesia dengan tajuk “Menjadi Kutubuku Itu Keren” yang dihelat di Mata Hari Domus Bataviasche Nouvelles Cafe, Jalan Veteran I/30-33 Jakarta Pusat.

Karena acara serupa ini termasuk langka, dan mungkin hanya sesekali dilaksanakan seumur hidup, saya memaksakan diri untuk mengikutinya. Kendati demi itu, tentu butuh pengorbanan uang (mengingat mahalnya harga tiket pesawat) dan waktu (di tengah bejibunnya tugas kantor yang sebenarnya tak boleh saya tinggalkan).

Pasang-aksiBenar saja, para kutu buku ini memang keren-keren. Antusiasme mereka memang tinggi untuk mengikuti acara yang menghadirkan pembicara seperti Taufik Rahzen (budayawan dan kolektor buku), Hetih Rusli (editor Gramedia Pustaka Utama), dan Hernadi Tanzil (moderator milis resensibuku dan pasarbuku). Cafe Mata Hari Domus yang penuh dengan berbagai display-display cover surat kabar tempo doeloe hingga terkini, membikin nuansa acara benar-benar hidup dan sesuai dengan selera peserta yang hobi membaca. Sayangnya, kapasitas tempat duduk yang memang minim, memaksa audiens harus rela berdiri mendengarkan cerita, pengalaman, petuah dan kritikan serta sharing ilmu yang dipaparkan pembicara.

TercenungHernadi Tanzil yang akrab disapa anak-anak Kubugil dengan panggilan Rahib, memberi ingat tentang pentingnya komitmen untuk bisa menulis resensi di blog secara rutin dan kontinyu. Keseriusan itu perlu, karena inilah bentuk tanggung jawab moral kepada para pengunjung dan pembaca blog kita. (Saya merasa tersindir, he3x).

Keseriusan mengelola blog itu memang perlu, karena dengan begitu, seperti kata Endah “Yia-yia”, penerbit buku akan senang hati meminta blogger untuk merensikan buku yang diterbitkannya. Dan ini memang terbukti, saya sendiri sudah berkali-kali mendapat “titipan” buntelan buku dari perorangan dan penerbit untuk diresensi.

Dan dari meresensi, seperti dikemukakan Taufik Rahzen, blogger buku merupakan sarana demokratisasi pemaknaan sebuah buku. Kesimpulannya –versi saya–, penilaian terhadap sebuah buku menjadi lebih berwarna, karena keberagaman blogger buku dalam meresensi. Hetih Rusli pun mengakui adanya pengaruh terhadap pasar buku seiring dengan maraknya blog-blog buku beberapa tahun terakhir ini.

Bahkan, jujur saja, tak jarang resensi yang ditulis para blogger ini jauh lebih berkualitas dari resensi yang ada di media massa. Maka jangan heran, beberapa blogger berhasil “menembus” ketatnya penyaringan resensi yang masuk ke redaksi. Dan untuk yang satu ini, saya belum pernah (tepatnya; jarang) “masuk” ke surat kabar nasional dan lokal, karena ogah mengirimkan resensi yang pasti saja bakal masuk daftar tunggu (kecuali bila saya mau dan ingin memasukkannya sendiri di media tempat saya bekerja, he3x).

Terlepas dari bahasan yang dibincangkan dalam acara ini, sebuah nilai yang bisa saya petik dari pertemuan ini adalah kutu buku memang keren! Itu saja…. (max)

Nb: Foto2 bisa dilihat di http://maryulismax.multiply.com.

4 Komentar

  1. bayusaja said,

    27 Mei 2008 pada 12:06 pm

    Woww…Poto yang terakhir kayaknya keren banget tu mas!! :D

    max -> oalahhh ambo dipanggia Mas :P

  2. n mursidi said,

    27 Mei 2008 pada 10:30 pm

    wah, aku baru tahu jika anda datang jauh untuk ikut pertemuan. teruslah berkarya, dan meresensi buku……

    max -> gak jauh2 amat Mas, masih selingkaran Indonesia bukan? :D

  3. taufikasmara said,

    28 Mei 2008 pada 12:01 am

    Woww…Poto yang terakhir kayaknya keren banget tu mas!! :D

    max -> oalahhh ambo dipanggia Mas :P

    Komentar oleh bayusaja — Mei 27, 2008 @ 12:06 pm

    Hahaha…. Mas Uda Max tepatnya. BTW, kok g ngomong k Jakarta? aku mau nitip barang (oleh-oleh tepatnya).
    Makin semangat ngeresensi buku kayaknya neh… Banyak hutang yang harus dibayar cepat tuh angku

    max -> sori Kry, ambo takaja-kaja, dapek lo tiket maha… indak ado pangana maagiah athu doh… Bsk2 ambo agiah tahu kalo ka pai, mamintak angku jadi sponsor :D

  4. titov said,

    28 Mei 2008 pada 12:05 pm

    Salut buwat para kutubuku-ers :D

    Kalok dikirimin buku grates sama penerbit aku mau juga tuuh… *ngarep*

    max -> siapa aja pasti tahu Mas… tapi kudu intens dan serius merepiyu buku, biar penerbit ngiler agar bukunya direpiyu...


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: