“Cubolah Bongka…, Kami ka Lalok di Balaikota!!!”

Pkl histeris crop olahKALIMAT bernada ancaman itu disampaikan dengan lantang oleh Sakila (36) di hadapan anggota Pol PP Padang. Masih ada rentetan kalimat caci maki yang terlontar dari mulut PKL yang berdomisili di Puruih Baru itu. Dia, dan juga kawan-kawannya, “mete-mete” (sewot-red) dengan kebijakan Pemko Padang yang akan membongkar lapak mereka di sepanjang Taplau (tapi lauik-red) kawasan Danau Cimpago.

Jo a ka kami agiah makan anak-anak? Kami indak cari kayo bagai doh mangaleh di siko. Bisa manyakolahan anak se, alah untuang, mah. (dengan apa akan kami beri anak-anak makan? Kami tak mencari kaya dengan berjualan di sini. Bisa menyekolahkan anak-anak saja, sudah untung),” lontar Net (36), tak kalah kerasnya.

Noverman yang memimpin tim Pol PP hanya bisa diam. Diserang bertubi-tubi dengan kata-kata yang memanaskan kuping, membuat dia turut panas. “Tolong agiah ambo kesempatan mangecek! (tolong beri kesempatan kepada saya untuk berbicara!),” tegasnya.

Hanya sebentar Noverman bisa “berbla-bla-bla” menjelaskan rencana penertiban yang akan dilakukan pihaknya, PKL yang umumnya ibu-ibu, kembali “menguasai” perang mulut itu. Cuma setengah jam, akhirnya perang kata-kata ini berakhir setelah Noverman dan rombongan meninggalkan TKPM (tempat kejadian perang mulut-red).

Bayangan se lah dek Adiak. Kami disuruah bongka takah ko, sadangkan solusi indak ado diagiah ka kami. (Bayangkan sajalah, Dek. Kami disuruh bongkar (lapak kami), tapi tidak ada solusi diberikan,” kata Net.

Diceritakannya, sehari-hari PKL yang umumnya warga setempat itu, membuka usaha jagung bakar, makanan siap saji dan minuman ringan mulai pukul 4 sore hingga jam 11 malam. Untung yang didapat tak seberapa. Paling banter cuma Rp 25 ribu saja. Itupun kalau malam minggu atau di malam liburan. Karena di saat itulah pengunjung ramai kongkow-kongkow di warung tenda mereka sembari menikmati deburan ombak Puruih yang badantuang-dantuang (seperti disenandungkan artis Minang ternama, mendiang Tiar Ramon).

“Dengan pendapatan sebanyak itu, apalah yang bisa kami berbuat. Suami tak lagi melaut. Anak ada 4 yang harus ditanggung biaya sekolahnya. Minimal dalam sehari harus keluar uang Rp 15 ribu untuk ongkos mereka ke sekolah. Sisanya pembeli beras. Kini kami mau “diutak-atik” pula serupa ini. Siapa yang takkan melawan?” tukas Net menggebu-gebu.

Ditimpali Sakila, dia dan teman-temannya bukan tak mau ditertibkan. Tapi sebatas penataan. Kalau digusur, jelas mereka akan menolak rame-rame. Kapan perlu, mereka akan menginap di Balaikota Padang demi memperjuangkan tuntutan mereka.

Cubolah Bongka…, Kami ka Lalok di Balaikota!!! (coba saja bongkar, kami akan nginap di Balaikota!!!),” ancamnya sekali lagi. (max)

Puruih

4 Komentar

  1. udateddi said,

    9 Mei 2008 pada 9:28 am

    hehehe…PKL vs Satpol PP lagi yo bang… bilo lah ka damai nyo yoh ??

    max -> He3x… antahlah Da…. inyo takah anjiang jo kuciang mah, bacakak taruih se :P

  2. Alex said,

    9 Mei 2008 pada 4:15 pm

    ass.

    dilematis memang

    max -> begitulah…. harusnya ada solusi utk hal beginian ya Bro…

  3. f said,

    10 Mei 2008 pada 10:45 pm

    Kalau manggaleh ndak buliah, jo a urang-urang yang manggaleh tu ka makan? Nagari aneh…

    max -> itulah Boss…. mode itu se taruih mah kondisinyo..

  4. taufikasmara said,

    12 Mei 2008 pada 11:53 pm

    Kejadian umum di semua kota… Paniang awak

    max -> kalau awak indak paniang doh, krn bukan PKL. Tapi yg pas tu ibo awak :p


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: