Di Banda Bakali, Ikan Sapu-sapu Unjuk Gigi

Ikan sapu2Jalan inspeksi tepi banjir kanal Banda Bakali mendadak macet. Ratusan pengendara berhenti, dan memalingkan wajahnya ke badan sungai yang bau, kotor dan berlumut. Di situ puluhan warga sudah mengobok-obok air yang berubah hijau diselimuti algae (lumut).

Ado a (ada apa)?” tanya salah seorang pengendara.
Ikan-ikan gadang marapuang (ikan-ikan besar mengapung),” jawab yang lain seadanya. “Antah dek a (entah kenapa),” jawabnya memutus tanya agar lawan bicaranya tak lagi bertanya.

Setelah dilihat benar, memang begitu adanya. Puluhan ikan mengapung dengan posisi terbalik. Seperti ikan mati. “Bukan mati. Memang begitu gayanya. Kalau didekati, ikan-ikan itu langsung lari,” jelas Fahmi (60), warga RT 2/XI Kelurahan Alai Parak Kopi sembari menunjuk ke ikan yang mulutnya megap-megap menghisap lumut.

Beberapa anak-anak mencoba menangkapnya dengan tangguk. Tak dapat, karena ikannya lebih lincah. Tapi mereka tak kehilangan akal. Di saat ikan merapat ke tepian, seorang dari mereka berhasil menangkapnya dengan tangan.

“Ikan sapu-sapu mah,” ucap seseorang begitu wujud ikan itu kelihatan jelas.

IMG_0222Ketua RT 2/XI Zulkarnaini menyebutkan, unjuk giginya ikan sapu-sapu itu sudah kali kedua. “Dulu pada bulan tiga (Maret-red), juga ada kejadian seperti ini. Semula warga gempar juga. Tapi setelah tahu itu ikan sapu-sapu, tak ada yang berminat mengambilnya. Katanya tak bisa dimakan, karena kulitnya keras seperti tulang. Makanya dibiarkan saja,” ceritanya.

Zulkarnaini tidak tahu persis, apakah Banda Bakali merupakan habitat ikan yang punya nama latin Hypostomus plecostomus (Suckermouth Catfish) ini. Biasanya yang ada itu ikan nila dan ikan panjang. Itu pun kini payah, karena kondisi badan sungai yang kotor dan berlumut.

Ikan sapu2 a“Kalau ikan sapu-sapu itu, mungkin punya orang yang lepas ke banda ini. Lalu membiak dan beranak pinak sebanyak ini. Tapi herannya, kami tak pernah lihat ikan sapu-sapu kecil di sini. Yang ada cuma yang sebesar itu,” tunjuknya ke ikan sepanjang 30 cm yang berhasil ditangkap seorang anak.

Pemilik Teletesthai Aquarium yang ditanya mengenai keberadaan ikan ini di Banda Bakali, mengaku tak tahu pasti apakah memang di situ habitatnya. Cuma, kata dia, ikan itu memang hidup di alam dan mudah berkembang biak. “Ikan jenis ini tidaklah mahal. Seukuran yang 30 cm itu harganya cuma Rp 15 ribu. Saya jual yang ukuran kecil, seharga Rp 2.500 sampai 5.000-an ukuran 10 cm. Guna ikan ini untuk pembersih kaca akuarium, karena dia pemakan lumut,” kata pria yang tak mau menyebutkan namanya itu.

Ditambahkannya, ikan sapu-sapu yang paling mahal itu berasal dari Amazon, Amerika Selatan. Karena langka, harga jualnya tinggi. Kalau spesies yang ada di Indonesia, harganya tak seberapa. “Makanya saya tak mau ambil, kalau ada warga yang mau jual ikan sapu-sapu Banda Bakali itu kemari. Karena kalau stok saya habis, saya tinggal menelepon penangkarnya untuk memasok ke tempat saya,” ucapnya.

Warga Banda Bakali pun tak tahu kalau ikan sapu-sapu berwarna hitam pekat berlurik gelap itu bisa dijual. “Tak ada yang mau menangkapnya. Tadi ada yang mau menjala, tapi setelah melihat bentuk ikannya, dia ogah lalu pergi ke lokasi lain,” sebut Fahmi. (max)

Versi di balik cerita tentang liputan ikan sapu-sapu ini, lihat di sini

2 Komentar

  1. unai said,

    6 Mei 2008 pada 8:40 am

    kan emang ikan sapu2 itu makanannya lumut. Lah kalau sungainya berlumut ikannya bisa pesta pora kan. Selamat deh buat para ikan… dan pak KL dengan kamera barunya, hmm jepretannya boleh juga :)

  2. Abdul Rahman said,

    29 November 2008 pada 5:10 pm

    Salam Kenal Boss,
    Anne mau order bisa tidak ???
    Min. 1 Kwintal dan harganya Rp. 1.000,-/kg
    KAlau bisa kasih info ya…
    Syukron.
    Abdul Rahman
    abdul_sendiri@yahoo.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: