Sesungguhnya Kita Telah Salah Pilih

RSJDPR ingin bubarkan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Demikian pemberitaan sejumlah media yang tentu saja mengagetkan kita semua. Alasannya, KPK dianggap sudah menjadi lembaga yang superbody.

Sungguh saya tercengang, mendengar alasan yang tak masuk akal ini. Inilah bagian dari konflik berkelanjutan antara wakil rakyat yang telah kita pilih pada Pemilu 2004 lalu dengan lembaga bentukan mereka sendiri melalui UU 30/2002 tentang KPK.

Pasca penangkapan Al Amin Nasution yang diduga menerima suap, lembaga pimpinan Antasari Azhar itu ingin menggeledah ruang kerja yang bersangkutan di Senayan. Justru jawaban penolakan yang diberikan dewan.

Tak hanya menolak adanya penggeledahan, muncul pula keinginan mereka untuk membubarkan KPK. Sungguh mereka kekanak-kanakan. Maka wajar bila dulu Gus Dur pernah bilang kalo wakil rakyat yang katanya terhormat ini sama dengan taman kanak-kanak.

Memang wacana pembubaran KPK itu hanya dilontarkan satu-dua anggota DPR. Tapi ini telah menunjukkan betapa bodohnya mereka dalam menyikapi suatu masalah. Yang terbaca, –dan tentu saja boleh kita simpulkan–, mereka ketakutan kalo kebobrokan DPR akan semakin terungkap bila KPK tetap dibiarkan menjadi kuat dalam membabat siapa saja, termasuk wakil rakyat.

Sebagai lembaga yang dibentuk untuk memberantas korupsi, sudah sepatutnya apa yang dilakukan mereka didukung penuh oleh siapa saja. Tak perlu mencari kesalahan bahwa lembaga ini dibilang gagal segala dengan merujuk hasil kinerja tahun-tahun sebelumnya. Seperti penyampaian fakta oleh anggota Komisi III DPR RI Ahmad Fauzi yang menyebutkan sepanjang 2006, dari pengaduan dugaan korupsi sebanyak 6 ribu kasus, hanya tujuh yang ditindaklanjuti. Dan dari target ratusan miliar uang negara yang dikorupsi, hanya Rp 17 miliar yang dapat dikembalikan. Apa guna itu disebut? Bukankah itu hasil kinerja KPK sebelum dipimpin Antasari?

Kini di bawah Antasari, KPK bergerak maju. Kenapa justru DPR yang menghalangi itu? Bukankah mereka sendiri yang memilih dia untuk memimpin KPK? Atau mereka telah merasa salah pilih pula?

Sungguh.., sebenarnya kitalah yang telah salah pilih mereka melalui Pemilu. Kalau saja ada opsi, bubarkan KPK atau DPR, maka sayalah yang nomor satu mengangkat tangan agar DPR saja yang dibubarkan. Untuk apa punya wakil rakyat, kalau kerja mereka hanya bisa menghambat. Untuk apa disebut terhormat, kalau perilaku mereka bikin malu rakyat.

Sungguh kita telah salah pilih. Dan jangan sampai ini terulang lagi di Pemilu 2009. Pilihlah wakil yang betul-betul tahu apa gunanya mewakili orang yang telah memilihnya untuk menjadi wakil. (max)

10 Komentar

  1. catra said,

    27 April 2008 pada 2:02 pm

    anggota dewan lagi… lagi..

    mo disalahkan mereka apa daya, yang memilih kita semua.

    oh tuhan, tolong beri hidayah mu untuk wakil rakyat kita ini
    http://catra.wordpress.com/2008/04/09/wakil-rakyat-oh-wakil-rakyat/

    max -> wah kebetulan aku gak milih tuh… mungkin krn gak milih itu, mereka yg terpilih ya :D

  2. 27 April 2008 pada 10:02 pm

    iya kita salah memilih orang yang menjadi wakil kita..
    sungguh memalukan

    max -> benar2 memalukan, Mas :D

  3. danalingga said,

    28 April 2008 pada 5:54 am

    Saya salah memang karena saat itu memilih untuk tidak memilih. Jadinya mereka-merekalah yang terpilih. Hiks.

    max -> saya juga gak milih, makanya saya merasa bersalah :P

  4. fa said,

    28 April 2008 pada 11:00 am

    bubarkan DPR?? setuju! :D

    saya juga nggak ikut milih, hmm… apakah tahun depan saya mesti milih ya? klo harus milih saya nggak tau mesti milih siapa. pada umumnya, ‘org baik2’ ogah mencalonkan diri :D

    max -> bingung ya Mbak? aku juga bingung… :D

  5. Nada taufik said,

    28 April 2008 pada 9:11 pm

    Waduh kayaknya makin ceria aja neh page nya..
    Apakabar mas? Sedang sibuk apa sekarang?? Sibuk politik kah?

    max-> ceria? ada2 saja :D lagi sibuk blogwalking. Daripada jadi berpolitik, bisa2 menuai kritik :P

  6. juliach said,

    28 April 2008 pada 11:26 pm

    Wakakaka….mereka (DPR/MPR) itu lulusan Sekolah Pelawak Nasional

    max -> tahu dari mana mbak? :D

  7. 30 April 2008 pada 10:58 am

    Siang uda, sorry aga melenceng setek comment nya, itu go ranah minang kenapa ?

    max -> i dont know why

  8. taufikasmara said,

    6 Mei 2008 pada 9:00 pm

    Sebenarnya “tidak memilih” itu bukan opsi yang baik. Kita punya hak untuk memilih, maka gunakan itu. Yang baik itu, malam Tahajjud dulu, minta petunjuk, mudah-mudahan gak salah pilih. Nah, kalau akhirnya salah pilih juga, Wallahualam… Atau, pilih saja saya. Saya? siapa Saya?

    max -> saya pilih sampeyan saja.., biar nanti bisa ngritik habis2an kalo salah jalan :P

  9. 7 Mei 2008 pada 11:42 pm

    Mohon ijin foto satire ini ‘dipinjam’ ya Max dan ditampilkan di blog saya. Saya kepincut, duh … keren. Pembaca http://www.webersis.com dirujuk kesini kalau mau nerusin baca tulisannya. Moga ngak dimarahin. Makasih Max.

    max-> ndak masalah doh, Pak. Tapi iko bukan foto ambo. Punyo koran Rakyat Merdeka nan ambo scan dan posting kemari. Makonyo kalo gambar tu di klik, mako linksnyo ka Rakyat Merdeka, Pak.

  10. callharis said,

    13 September 2011 pada 10:36 am

    cara yang baik adalah dengan tidak memilih mereka yang dengan alasan apa pun, membagi2 uang saja kerjanya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: