Ke WC Mereka Menuntut Jawaban

Sma 3 gunung panggilun ujian (8)SUDAH 3 hari ini anak-anak SMA “basitungkin” (bekerja keras) mengikuti ujian nasional (UN) yang digelar sejak Selasa 22 April lalu. Mereka membebani otak dan pikirannya untuk dapat menjawab semua soal yang tertera di kertas ujian. Gagal, masa depan taruhannya.

Bagi yang pintar, mungkin UN bukanlah beban. Hanya sebatas penguji kemampuan sampai di mana ilmu yang telah mereka dapat bisa dipahami dan dimengertinya. Mereka akan enjoy menghadapi berbagai variasi soal yang tentu tak ada yang tak punya jawaban.

Beda halnya dengan siswa yang punya kemampuan otak pas-pasan. UN adalah neraka yang bisa mengantarkan kesuraman masa depan buatnya. Maka berbagai jalan ditempuh biar hasil yang didapat tidak kelewat hancur-hancuran. Salah satunya adalah bersengkokol dengan kawan yang cerdas untuk mau berbagi jawaban.

Media berbagi yang paling gampang adalah menjadikan WC sebagai lokasi “transaksi” berbagi kunci jawaban. Bisa dituliskan di kertas lalu disimpan di celah-celah kamar kecil yang telah ditentukan, bisa pula di dinding WC agar lebih mudah dilihat oleh siapa saja.

Saya terkenang masa lalu ketika masih berseragam abu-abu ini. Memang untuk beberapa mata pelajaran tertentu, saya bukanlah anak yang cerdas dan mampu untuk menjawab sebagian soal yang rumit. Terutama matematika yang tentu membikin mumet isi kepala. Berbagai upaya saya lakukan, di samping lirik kiri kanan, tentu saja memohon pertolongan. Pertolongan yang diharapkan adalah dengan melobi teman sebelum ujian agar membagi kunci jawaban. Dan WC menjadi pilihan untuk mendapat bagian itu.

Ternyata langkah ini diikuti peserta ujian lainnya. Jangan heran ketika itu, WC begitu rame dan menjadi tempat favorit yang wajib disinggahi. Dengan dalih buang air besar ataupun kecil, di ruang sempit yang baunya minta ampun, “kelangsungan hidup” terselamatkan.

Tapi asli saya tak kelewat percaya dengan berbagai jimat yang bertebaran di WC. Bisa saja yang membagi-bagi jawaban itu mau mengerjai dengan memberi jawaban yang salah. Saya sendiri dengan teman yang berbagi jawaban malah bersepakat agar jawaban yang dicoretkan di dinding diganti dengan huruf sandi yang membolak-balik jawaban. Misalnya a=e, b=d, c benaran c. Sehingga kalau yang tak tahu itu, pastilah hanya betul ketika menjawab soal yang kebetulan berjawaban c. Sisanya acak kadul… Rasain!

Begitulah. Ternyata ritual serupa itu masih tetap berjalan. Kendati EBTANAS (evaluasi belajar tahap akhir nasional) telah berganti UAN (ujian akhir nasional), diganti lagi jadi UN, semua itu tetap berlangsung sampai kini. Sebuah warisan turun temurun yang entah siapa pewaris sebenarnya.

Perilaku ini akhirnya terungkap ke permukaan. Di Sumbar, pada 2007 soal coretan di dinding WC ini terekspos oleh media massa. Semua malu, tentu saja para guru. Maka ketika UN 2008, WC dijadikan kawasan steril yang tak boleh ada coretan. WC dicat baru, kinclong. Efektifkah? Tidak!

UN

Sebuah kasus ditemukan di SMAN 6 Padang. Walau itu belum tentu benar kunci jawaban, namun coretan huruf-huruf layaknya kunci jawaban menghiasi dinding yang baru dicat itu. Sang kepala sekolah yang kebetulan menemani wartawan menyigi WC sekolahnya pun terperanjat. Malu. Lalu berdalih. “Belum pasti itu kunci jawaban soal. Wah ini pasti kerjaan dan ulah anak-anak,” tukasnya kepada wartawan.

Inilah gambaran dunia pendidikan kita. Ketika ujian yang hanya beberapa hari menentukan lulus tidaknya anak-anak yang sudah 3 tahun menimba ilmu di bangku SMA yang penuh romantika itu. Siapa yang salah? Tanyakan saja ke WC yang bau… (max)

8 Komentar

  1. unai said,

    24 April 2008 pada 1:16 pm

    wakakak ketahuan juga ya suka mencontek. Gila gak kepikiran tuh mau nyontek di wc, apalagi jawabannya ditulis di dinding begitu. Dulu sukanya nyontek teman aja, lirik2 dikit..daripada bikin contekan sendiri, bisa sangat ketahuan, karena saya gampang gemetaran hihihih

    max -> dulu kalo lirik2 teman pas ujian itu istilahnya “zikir”, kalo buka buku istilahnya “buku takambang jadi jimat”. hehehehe :D

  2. olangbiaca said,

    24 April 2008 pada 6:04 pm

    Aslkm

    hehhe..ado2 sajo karajo adiak2 awak tu….awak sajak dulu iyo ndak pernah mode itu do…, ado guru kali yo da di WC..haha..

    “bahaso uda asli minang bana..”basitungkin” hahaha

    sakik paruik ambo mambaconyo da…hahaha

    max -> hehe3x, awak harus memperkenalkan kedahsyatan bahasa Minang yang bunyi begitu ruaarrr biasa anehnya bagi orang lain :D

  3. wong fei hung said,

    24 April 2008 pada 7:47 pm

    wkwkwkw…..

    malo mede tu…..
    pengawas dri DB ngeri2 nma da….
    kawan wak sampai manangih di buek nyo………

    max ->Anak DB yo? Syukurlah kalau indak mode tu :)

  4. Fa said,

    24 April 2008 pada 9:10 pm

    hehehe, sama kayak mbak unai, aku baru denger metode canggih cara aman nyontek ini :D *jd nyesel kenapa dulu nggak ngelakuin hal ini yah?*

    max -> kalo gitu, mbak Fa kudu masuk SMA lagi deh. Biar bisa menerapkan ilmu baru ini :D

  5. auliahazza said,

    28 April 2008 pada 2:03 pm

    sekarang ujiannya cuma 4, sedikit kan ;)
    Sayang ya .. sudah sekolah 3 tahun, cape2 sekolah yang diuji cuma 4 mata pelajaran.

    Dan sekarang pake bonus yaitu super stress. Biasanya kalau stress, tegang dan gugup, lupa apa yang di otak walaupun anaknya pintar.

    max -> jangan stress…, kalo gak lulus masih ada Paket C :P

  6. Imoe said,

    30 April 2008 pada 9:47 pm

    hahahaha batua tuh mah pak….kalau kapatang WC dijago polisi. Ndak pernah dalam sejarah kepolisisn awak doh. polisi nan manjago WC bantuak itu hahahahahahahahahahahaha, berarti ado surek tilang WC mah ndak pak…hahahaha

    max -> hahahahahaha… iyo batambah karajo Pak Polisi dibueknyo :P

  7. moneng said,

    6 Mei 2008 pada 9:13 am

    cegak lah lai

    max -> alah dari dulu cegak mah me. Me se nan alun lai :P

  8. taufikasmara said,

    7 Mei 2008 pada 11:33 pm

    Max… Apakah yang kau maksudkan itu diriku? ssstttt… janganlah rahasia ini bocor ke anak cucu kita… Kalau sukses nggak apa, tapi kalau gagal n ketauan… Itu yang repot.

    max-> hahahahaha, akhirnya dikau tau juga. Asli ambo takana jo polah laku kito dulu. makonyo ambo posting di siko… :D


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: