Si Kembar itu Akhirnya Tersenyum

LoloMENJADI miskin bukan impian. Kemiskinan identik dengan kebodohan. Hal itulah yang ingin diputus pasangan Fachrizal (42) dan Kasmanetti (40) dari kehidupan mereka. Pasangan suami istri ini tak mau anak-anaknya menjadi bodoh hanya karena mereka tak sanggup membiayai sekolahnya. Selalu ada jalan untuk mewujudkan mimpi.

Fachrizal sempat panik ketika anak kembarnya Lolla Fachmairiati dan Lolli Fachmairiati tidak lagi mau bersekolah. Mereka ogah menginjakkan kaki di SDN 37 Anduriang karena hampir tiap hari selalu “terteror” dengan beragam biaya yang belum juga dibayarkan sang ayah. Ketidakmampuan membayar itu pun menjadi perbincangan dan bahkan bahan ejekan dari teman-teman sekolahnya. Maka tak perlu persetujuan siapa pun, termasuk dari ibu bapaknya, kembar kelahiran 19 Mei 1997 itu akhirnya mogok ke sekolah.

Selama sebulan kejadian itu berlangsung. Padahal di sekolah itu, mereka terbilang murid baru yang pindahan dari sebuah SD di Pasie Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah. Mereka harus pindah dari domisili lama orangtuanya tersebut, lantaran tak ada lagi mata pencaharian yang bisa diandalkan Fachrizal di sana. Dia hanyalah seorang tukang urut nelayan yang orderannya antara ada dan tiada. Dan tinggal ngontrak di sebuah kontrakan yang sewanya naik dua kali lipat dari biasanya. Dengan apa harus dibayar, karena kebutuhan sehari-hari buat istri dan 5 anaknya, Fachma Heranda (15), Randi Ulul Azmi (14), Lolli dan  Lolla, Aisyifa Rahmatullah (1,3) cukuplah susah buat memenuhinya.

Kini keluarga itu menumpang di rumah tipe 21 milik adik Fachrizal di Perumahan Pilano Indah Tahap II GG-V No 7. Di rumah batako yang tak tersentuh plesteran semen dan tidak pula berloteng yang bikin gerah di siang hari itu, anak beranak ini tinggal. Tak ada ruang MCK yang layak, perabotan pun alakadarnya. Sebuah dipan besi bertingkat yang reot menjadi penghias ruang tamu 4 x 4 m yang hanya berisi pesawat televisi hitam putih dan sepasang speaker yang tak lagi berfungsi. Hanya itu, dan setumpuk piala yang menandakan rumah tangga miskin (RTM) ini mempunyai anak-anak berprestasi, menjadi sedikit kebanggaan yang terpendam.

Lolli dan Lolla memang murid berprestasi. Dia pernah menjadi juara I lomba Asma’ul Husna antarsekolah di Kecamatan Koto Tangah. Kembarannya, Lolli meraih juara II untuk lomba hapalan ayat-ayat pendek. Itu belum seberapa. Mereka berdua, silih berganti menjadi juara kelas di sekolah lamanya. Prestasi yang dibukukan itu terancam suram, ketika pendidikan menuntut biaya lebih. Mereka menunggu karam.

LolaloliNamun Tuhan selalu punya jalan. Ketika “parasaian” Fachrizal memikirkan kelanjutan sekolah Lolla-Lolli diekspos oleh reporter Favorit TV, jalan itu menjadi lempang. Seorang dermawan datang mengulurkan tangan. Dialah Drs H Afrizal BAc MBA. Terketuk hatinya atas kenelangsaan hidup keluarga itu dan kesuraman pendidikan Lolla-Lolli, Afrizal meniatkan menanggung biaya sekolah si kembar hingga tamat. Sebuah peran yang sebenarnya tanggung jawab pemerintah.

“Sebagai masyarakat biasa, terus terang saya terenyuh mengetahui kondisi memiriskan ini. Sangat sayang bila kedua anak pintar itu harus terputus sekolah di kelas IV saja. Makanya dengan nawaitu untuk cari pahala, saya bantu mereka berdua,” ucap mantan anggota DPRD Sumbar periode 1999-2004 itu.

Sekolah baru pun dicarikan, karena tak mungkin tetap bertahan di sekolah lama yang tentu masih menyisakan tekanan bathin bagi mereka. Di SDN 32 Andaleh kini keduanya menuntut ilmu sejak Sabtu (5/4) lalu. Kendati sebulan lamanya tak bersekolah, bukanlah hal yang susah bagi keduanya untuk melanjutkan ketertinggalan mereka.

“Mereka memang pintar. Dari tes yang kami berikan, mereka berdua bisa menjawab lebih dari separohnya. Artinya, sebulan libur, pelajaran-pelajaran lama masih mereka ingat dengan baik,” ucap walikelas Defriyenita. (max)

8 Komentar

  1. fa said,

    7 April 2008 pada 9:39 pm

    indonesia memang butuh lebih banyak lagi org2 spt pak afrizal, karena menunggu pemerintah, spt mengharap hujan di musim kemarau.

    max -> Fa benar…, kalau menunggu terus, bisa2 punguk merindukan bulan

  2. 10 April 2008 pada 10:49 am

    […] Artikel terkait : Pajak Kertas Pembodohan Bangsa Anak-Anak dan Kemiskinan Kelaparan dan Disfungsi Negara Sikembar itu akhirnya tersenyum […]

  3. avartara said,

    10 April 2008 pada 10:50 am

    Da max wak pakai sebagai taut artikel wak yo da max,…….

    max -> silahkan boss….

  4. titov said,

    10 April 2008 pada 8:38 pm

    sekarang pasal 34 emang udah jadi pajangan aja..
    belom juga kelar ngurusinnya udah mau bikin pasal2 yg laen pulak,

    salut dengan aksi nyata pak afrizal, inilah yg dibutuhkan bangsa ini,
    negeri dengan populasi muslim terbesar di duniya seharusnya bisa memanpaatkan kekuwatan zakat dalam program kepeduliyan sosiyal seperti ini…

    max -> saya mau jadi Pak Afrizal juga Mas… Tapi masih miskin nih. Tolong Mas aja yg jadi donaturnya ya :D

  5. putirenobaiak said,

    18 April 2008 pada 12:50 pm

    ini yg kadang2 bikin ambo jadi kepingin kaya hehe, saat ada sodara yg minta bantuan utk menguliahkan anaknya, tp uni juga pas2an saja.

    moga aja yg berlebih harta sadar ayat2 cinta yg diseru utk nolong orang miskin

    max -> semoga Uni capek kayo… bia ambo bisa minta tolong kuliah S-3 :P

  6. ciplok said,

    21 April 2008 pada 9:46 pm

    kenapa pendidikan dan kesehatan menjadi mahal di indonesia yang kaya raya ini?

    max -> Indonesia kaya? Kaya apanya Plok? Kaya koruptor? :D

  7. 7 September 2008 pada 9:59 pm

    […] Artikel terkait : Pajak Kertas Pembodohan Bangsa Anak-Anak dan Kemiskinan Kelaparan dan Disfungsi Negara Sikembar itu akhirnya tersenyum […]

  8. 30 Agustus 2013 pada 6:03 pm

    […] Artikel terkait : Pajak Kertas Pembodohan Bangsa Anak-Anak dan Kemiskinan Kelaparan dan Disfungsi Negara Sikembar itu akhirnya tersenyum […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: