Sesat Bertanya, Akhirnya Jalan-jalan

BuswaySETIAP kali saya ke Jakarta, pastilah selalu mempromosikan kata-kata kepada kolega saya, “Bisa gila bila saya menetap di sini. Hari-hari habis di jalan ditelan macet tak berkesudahan.” Maka sedapatnya saya tidak bisa berlama-lama di Jakarta bila tidak perlu benar dan benar-benar perlu.

Pengalaman mengajarkan, setiap datang ke kota belantara beton yang penuh sesak ini, saya selalu berhadapan dengan kemacetan. Apa pun moda angkutan yang saya pakai, tak pernah bisa terhindar oleh yang satu itu. Baik tol, maupun jalan arteri biasa, pastilah kondisinya sama.

Macet memang tak pernah habis di sana. Dulu saya lebih cenderung “mengurung” diri dan tak mau jalan jauh-jauh ke lokasi yang saya anggap tak perlu untuk disinggahi. Namun sejak busway beroperasi, saya mulai suka mengitari kota ini walau saya sendiri tak tahu persis, ke mana saja jalur yang ditempuh dan dilalui bus Transjakarta itu.

Modal saya cuma bertanya sana-sini, “kalau ke lokasi A, naik busway di mana.” Atau bertanya langsung kepada penjual tiket busway, “di mana saya harus berhenti bila ingin ke sana dan kemari.”

Namun seminggu lalu saya benar-benar apes. Setelah sibuk wara-wiri di Tanah Abang mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Padang, saya bermaksud balik ke Grand Menteng, tempat saya menginap. Bila pakai bajaj, taksi atau metromini, pastilah macet yang akan menghadang. Maka pilihan saya jatuhkan kembali ke busway. Setelah bertanya ke sejumlah pedagang, saya disarankan naik ojek ke Sarinah. “Dari situ baru naik busway,” kata salah seorang dari mereka.

Begitu sampai Sarinah dan masuk ke halte busway, hal pertama yang saya lakukan adalah bertanya. “Saya mau ke Matraman, bus jalur sebelah mana yang harus saya naiki?” tanya saya ke penjual tiket yang sibuk meladeni calon penumpang.

“Naik saja yang sebelah kiri,” jawabnya singkat, tak memberi celah untuk saya bertanya lagi.

Saya turut ngantri bersama penumpang di pintu sebelah kiri seperti yang disebut si penjual tiket. Begitu busnya datang, saya langsung masuk dan berdiri berjejalan bersama penumpang lain yang rame tak ketulungan. Satu persatu halte persinggahan terlewatkan. Saya simak terus pengumuman dari corong pengeras suara setiap bus ini akan berhenti di halte terdekat. Karena tidak juga melihat tanda-tanda bahwa bus ini akan masuk ke kawasan Matraman, saya memilih diam saja. Hingga akhirnya di Blok M juga dia bermuara. Tersasar? Pasti! Tapi bukan suatu yang mengawatirkan. Toh, saya masih bisa bertanya, busway mana lagi yang saya harus tumpangi.

Ternyata, saya harus naik lagi busway ke arah mula saya datang. “Cuma saja nanti transit di Dukuh Atas, dan ambil busway ke Matraman,” begitu kata penjual tiket busway di Blok M. Oalahhh…, muter-muter Jakarta dunk saya. Dan benar saja, pemandangan yang saya lihat adalah pemandangan yang sama dengan sebelumnya. Kali ini saya harus awas, berjaga-jaga bila sudah tiba di Dukuh Atas. Saya harus bergegas karena malam mulai menjelang.

Sesampai di Dukuh Atas, saya langsung menuju ke halte Dukuh Atas 2. Ternyata…, Jakarta tidak hanya macet oleh antrian kendaraan. Kali ini saya harus menerima kenyataan, bahwa naik busway pun harus mengalami macet dengan antrian yang meluber panjang hingga berjejal di ujung jembatan penyeberangan. Dan faktanya, 1 jam lebih ngantri, barulah busway bisa saya tumpangi.

Ah.., Jakarta. Asli saya tak mau menetap di kotamu, yang selalu memerangkap hari yang habis di sepanjang jalan. (max)

5 Komentar

  1. unai said,

    10 Maret 2008 pada 9:41 am

    hahah terdampar di rimba beton yang hiruk pikuk ya? lebih enak padang dong, walau gempa terus :P

    max-> ya, enakan di Padang. Gak ada macet separah Jakarta. Macet cuma ketika gempa besar tiba :))

  2. djunaedird said,

    10 Maret 2008 pada 7:44 pm

    Busway :?:
    Saya belum pernah coba. Soalnya sudah lama saya nggak pernah nengok Jakarta.

    max -> dicobain Mas, biar gak kesasar kayak saya :P

  3. titov said,

    17 Maret 2008 pada 9:55 pm

    Ah.., Jakarta. Asli saya tak mau menetap di kotamu, yang selalu memerangkap hari yang habis di sepanjang jalan.

    betoel da Max, cukuplah sesekali aja ke jakarta, tapi hariyannya di Padang :D
    kalo untuk sesekali dikunjungi jakarta cukup nyaman, tapi kalok setiyabh hari bisa setress :lol:

    max -> iya Mas. Bikin stress kalo lama2 di Jakarta. Apalagi kalo kantong pas2an :D

  4. auliahazza said,

    21 Maret 2008 pada 9:06 am

    Kata orang Jakarta, “tua dijalan”. Dulu waktu pertama kali busway muncul memang cepat jalannya. Tapi sekarang karena ada banyak protes macet di jalur non busway akibat bertambahnya pembangunan jalur busway, jalan busway diizin untuk pengguna lain, jadi jalan busway ga lancar lagi. Beberapa hari lalu, jalur busway sudah tidak boleh digunakan oleh pengendara lain.

    Titip pesan buat komunitas urang minang, Budi Putra menawarkan nama url komunitas untuk ditaruh di blognya, ambil ya Pak … alamat url budi putra yaitu http://thegadgetnet.com/2008/03/20/daftar-komunitas-blogger-indonesia/

    max -> tq Aulia atas infonya. Palanta siap untuk sosialisasi di situ ;)

  5. 28 Maret 2008 pada 3:20 pm

    Kalau boleh memilih memang sebaikya tidak tinggal di Jakarta! Tapi bagi orang2 rantau seperti saya sudah tidak ada pilihan! ibarat maju kemedan tempur, nggak mungkin utk mundur!

    max -> he3x. selamat menikmati hari di jalan yo Pak :D


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: