Di Gorontalo Bentor Meraja

bentorBumm.. bumm… bummm…. Dentuman bas dari speaker yang bunyinya disetel high volume, memecah keramaian lalu lintas di Kota Gorontalo. Jangan dikira musik dari sounds system memekakkan telinga itu berasal dari Angkot seperti halnya di Kota Padang. Justru dari sebuah becak motorlah musik full stereo itu menguar.

Padang boleh berbangga punya “Diskotik Berjalan” serupa Angkot dan bus kota. Tapi di Kota Gorontalo, jangan harap akan ketemu Angkot dan bus kota seperti itu. Kalaupun ada, itu pun hanya satu-satu, tapi tak ada musik keras yang mengalun darinya.

Namun keeksotikan dunia lalu lintas di Kota Gorontalo, tentu tak kalah dengan Kota Padang. Di sana, bencak (bukan becak-red) motor yang kerap disingkat Bentor justru meraja. Mereka wara-wiri di jalanan dengan berbagai hiasan, seperti halnya kesemarakan body Angkot di Padang. Di samping bercorak warna beragam rupa, kelebihan lain dari Bentor itu adalah musik yang disetel pengendaranya yang naudzubillah keras suaranya. Tapi itu pun tidak banyak jumlahnya.

Mereka hanya menyalakan musik dengan lagu-lagu terbaru itu, bila hanya mengincar dan membawa penumpang “berkasta” ABG serupa pelajar, siswa dan mahasiswa. Di luar itu, saat malam meredam siang, beberapa pengendara Bentor yang berusia muda, juga mencari perhatian orang dengan hilir mudik di jalanan dengan musik kegemarannya.

Mursyid (27), seorang pengendara Bentor yang ditemui tengah mangkal di depan Gedung DPRD Kota Gorontalo menuturkan, tidak semua pengemudi bencak yang mau dan mampu untuk melengkapi Bentornya dengan seperangkat alat musik. Di samping biaya yang ditimbulkannya cukup mahal, aspek keamanannya pun tak terjamin.

“Biasanya Bentor bermusik hanya dipasangi alat musik oleh pemilik yang masih berusia muda. Sedangkan yang tua-tua, lebih cenderung mempermak Bentornya dengan beragam warna,” tuturnya.

bentor lagi

Bagi Mursyid, yang Bentornya tak bermusik, piranti sounds system itu tidaklah mendesak benar. Yang penting baginya bagaimana uang setoran ke induk semang bisa tercukupi dan sisanya bisa menghidupi dia dan keluarga.

“Tapi sekarang asli serba susah. Dulu saat jumlah Bentor masih tak seberapa, kami bisa bawa pulang minimal Rp 80 ribu ke rumah. Sekarang dapat Rp 30 ribu saja sudah syukur,” ujarnya.

Untuk memiliki Bentor ini, kata Uti Jhoni (47) yang ditemui ngetem di depan Hotel Yulia, sungguh memerlukan biaya cukup tinggi. Beda halnya bila cuma menjadi pengendara Bentor milik orang yang dibebani kewajiban menyerahkan setoran. Untuk yang berminat jadi pemilik, mereka harus membeli sepeda motor seharga Rp 10-15 jutaan, lalu dipermak menjadi Bentor di bengkel-bengkel khusus yang ada di sepanjang Jalan Agus Salim dengan biaya Rp 2,5 juta.

“Kalau mau lebih bagus, minimal harus bayar Rp 2,75 juta. Itu belum termasuk dengan piranti sounds system yang paling murah seharga satu jutaan dengan mutu kacangan. Umumnya Bentor nyentrik memakai perangkat sounds yang paling mahal sekitar Rp 5 juta. Coba bayangkan, berapa modal yang harus ke luar hanya demi menarik calon penumpang untuk mau naik ke Bentor mereka. Itu semua gara-gara semakin tingginya persaingan antarsesama Bentor lantaran jumlahnya yang membludak,” ungkap Uti Jhoni.

bentor mangkal

Membludaknya jumlah Bentor, diakui Kadishub Kota Gorontalo Drs Hendria A Sinyal. Katanya, saat ini ada sekitar 8.600-an Bentor yang hilir mudik di ruas jalan Kota Gorontalo. Jumlah sebanyak itu, tak hanya berasal dari daerahnya, tapi juga dari daerah luar sebagai konsekuensi Kota Gorontalo menjadi ibukota provinsi yang menjadi daerah tujuan bagi masyarakat di sekitar kotanya.

Sebelum Bentor meraja, sebut Hendria, di kota yang memiliki luas 0,53% dari luas Provinsi Gorontalo itu, ada banyak bendi yang wara-wiri. Namun karena seleksi alam, jumlahnya terus menyiut kian hari. Sedangkan Angkot pun sudah mulai “menepi” dari persaingan, karena Bentor yang menghegemoni. Dan di sini, Bentor menjadi urusan pelik yang belum tertangani. (max)

4 Komentar

  1. 5 Maret 2008 pada 12:07 am

    lagi jalan jalan ke sana…
    salam buat fadel mohamad he he

    max -> Fadel justru berada di Padang, Mas. Membahas masalah jagung dalam kapasitasnya sebagai ketua Dewan Jagung Nasional.

  2. unai said,

    5 Maret 2008 pada 9:03 am

    wuah makanya ilang, pergi jauh rupanya bawa oleh oleh bentor pulak…saingan dunk dengan angkot ajeb ajeb :)

    max -> masih menang Angkot ajeb-ajeb, karena lebih nyaman dan kayak diskotik beneran :))

  3. avartara said,

    5 Maret 2008 pada 9:09 am

    Yups da max,..bentor nyo keren juo ma,…oyo oleh2nyo bilo bisa wak ambiak?

    max -> Kalah Betor Siteba dibueknyo Pak :)

  4. 7 Maret 2008 pada 8:08 pm

    Wow kreatif tu … baru tahu. Bagus infonya, dan mana tahu nanti sampai ke Gorontalo he he kaya Pak Max.

    max -> kalau ke Gorontalo jangan lupa beli Krawang buat rang rumah Pak :D


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: