Ada Tsunami 12 Senti

WaveWARGA Sumbar Panik, terutama yang berada di bangunan tinggi. Mereka berhamburan lari ke luar dan pasrah harus basah diguyur hujan. Pasalnya secara tiba-tiba, bangunan yang mereka tempati, dan tanah yang mereka injak bergetar cukup kuat dengan durasi dalam hitungan menit. Guncangan itu berasal dari gempa besar berkekuatan 7,2 SR yang berpusat 165 km barat daya Mukomuko, Bengkulu.

Gempa yang terjadi pukul 15:36:30 WIB ini berada di koordinat 2.66 LS – 99.63 BT atau persisnya di Samudera Indonesia sebelah barat Pulau Pagai Utara dan Pulau Sipora di kedalaman 10 km. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) langsung mengeluarkan warning bahwa gempa ini berpotensi tsunami.

Di bawah guyuran hujan dan berteduh di tempat seadanya, warga Kota Padang, terus menanti kemungkinan terjadinya tsunami itu. Ternyata apa yang dinanti memang terjadi, dan tidak banyak yang mengetahui. Cuma saja tingginya gelombang tidaklah setinggi yang pernah terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam dan kawasan Asia Selatan serta Afrika pada 26 Desember 2004 silam.

“Berdasarkan laporan yang kita dapat dari pemantauan alat Tidal Gauge yang mengukur tingginya gelombang, tsunami di Padang hanya berketinggian 12 cm,” sebut Kasubid Informasi Dini Gempa BMG Pusat Drs Budi Waluyo ketika dihubungi via Ponselnya.

Lantaran tidak terjadinya tsunami yang lebih besar, BMG tepat pada pukul 16.20 WIB mencabut warning tsunami ini.

“Sebenarnya warning tsunami kami keluarkan sesuai dengan kriteria yang telah disepakati. Di antaranya terjadi gempa di laut lebih dari 6,5 SR dan berkedalaman dangkal. Walau ada warning itu, belum tentu akan diikuti tsunami. Karena pada dasarnya gempa-gempa yang berada di sepanjang pantai barat Sumatera dari record (rekaman-red) sejarah selama ini hanya terjadi pada gempa di atas 8 SR,” jelas dia.

Gempa besar 7,2 SR itu disebutkan Kepala BMG Padangpanjang Ir Soemarso, bisa dikategorikan sebagai gempa utama. Pasalnya inilah gempa besar dari rangkaian gempa yang terjadi di lokasi yang sama. Getaran gempa ini dapat dirasakan dalam skala IV-V MMI (Merchalli Modified Intensity) di Painan, IV MMI di Kota Padang, Muko-muko, Jambi, III-IV MMI di Bengkulu,  III MMI di Pekan Baru, II-III MMI di Padang Panjang, II MMI di Singapura dan I-II di Jakarta.

Berbeda dengan Soemarso, Kabid Kesiagaan Bencana Kesbanlinmas Setdaprov Sumbar Ir Ade Edward, justru tidak setuju menyebutkan kalau gempa itu sebagai gempa utama. Dia lebih bersepakat bila dikatakan gempa ini akan men-trigger (memancing) gempa yang lebih besar. Karena dari gempa yang telah terjadi di lokasi itu, terlihat kecenderungan peningkatan skala. Dari 5,2 SR pada Rabu (20/2), naik 5,8 SR pada Jumat (22/2),  turun 5,6 SR pada Sabtu (23/2), turun lagi 5.3 SR dan 5,1 SR pada Minggu (24/2) dan naik drastis menjadi 6,5 SR pada malamnya.

“Sekarang muncul lagi yang lebih besar, 7,2 SR ini. Artinya ini bukan gempa utama, tapi yang memicu terjadinya gempa yang lebih besar,” jelasnya.

Melihat kondisi ini, usai gempa 7,2 SR, Gubernur Sumbar H Gamawan Fauzi SH MM langsung mengadakan rapat dengan Kepala Kesbanglinmas Syofyan SH dan Ade Edward pada pukul 4 sore. Diputuskan agar petugas siaga penuh selama 24 jam ke depan dan akan terus dievaluasi. Warga diminta untuk terus waspada dan tak perlu panik.

“Dari laporan yang masuk ke Pusdal Ops Sumbar, tidak ada satupun bangunan yang rubuh dan rusak, serta tidak ada korban jiwa. Masyarakat pun tidak panik menghadapi gempa ini,” kata Ade.

Dia mengimbau, kalau sempat terjadi gempa dengan getaran yang jauh lebih besar dari gempa 12 dan 13 September 2007 lalu, warga tidak perlu lari jauh-jauh. Cukup lari hingga radius 2 km lebih dari garis pantai. Karena dari simulasi dan model animasi yang telah dilakukan para ahli, tsunami itu kalaupun terjadi hanya mempunyai ketinggian 5 m dengan jangkauan sejauh 2 km. “Artinya tidak perlu harus lari jauh-jauh hingga ke Indaruang dan sebagainya,” ucap dia.

Warga juga diimbau untuk mendengar informasi dari radio, radio komunikasi (HT) dan televisi, daripada harus percaya dengan SMS-SMS yang belum jelas kebenarannya.

Sementara itu pasca gempa 7,2 SR, hingga postingan ini diturunkan, telah terjadi beberapa kali gempa susulan. Di antaranya pukul 16:03:59 WIB dengan kekuatan 5 SR di kedalaman 20 km di koordinat  1.02 LS – 99.62 BT atau 70 km barat daya Pariaman, persisnya di Selat Mentawai. Lalu pukul 17:38:45 WIB di koordinat 2.54 LS – 99.63 BT dengan kekuatan 5 SR berkedalaman 52 km di 165 km barat laut Mukomuko. Selanjutnya pada pukul 20:33:48 WIB, terjadi gempa 5,2 SR berkedalaman 32 km di koordinat 2.54 LS-99.55 BT atau di 174 km barat daya Painan.

Sementara itu dari Pesisir Selatan didapat laporan bahwa warga Kota Painan menyesali keluarnya warning tsunami dari pihak BMG yang dirilis televisi swasta membikin mereka cemas.

“Kami minta pihak BMG supaya dapat memberikan data yang valid dan benar. Pasalnya, statemen berpotensi tsunami seperti yang tertera dipenggalan berita running text di sejumlah televisi swasta yang sempat kami lihat usai gempa, sangat mencemaskan,” ujar Agus (35), nelayan Carocok Painan.

Herannya, tambah Agus, tatkala dia dan warga lainnya sampai di lokasi ketinggian guna menyelamatkan diri, statemen justru berbalik 180 derajat. Pihak BMG malah menyebut tidak ada potensi tsunami. Inilah yang sangat disesali. Statemen tersebut terkesan plin-plan dan tidak akurat.

“Kami minta, kalau bisa janganlah terlalu cepat mengeluarkan statement. Apalagi menyoal potensi tsunami,” tukasnya.

Hal senada ikut dikemukakan Boy (32). Ia menyebutkan, selaku warga pesisir pantai dirinya tidak pernah takut gempa, kecuali yang berpotensi tsunami. “Kalau begini statemen BMG, sama saja dengan menakut-nakuti warga. Kami bakal terkena serangan jantung duluan sebelum adanya tsunami. Yang pasti, kami sangat menyesali statemen tersebut,” kesal Boy saat dijumpai di kaki Bukik Langkisau Painan, salah satu lokasi ketinggian di Kota Painan. 

Sementara itu Camat Pancuang Soal Drs Fery yang dihubungi lewat Ponsel mengatakan belum ada laporan kerusakan berarti. Kondisi warga juga terlihat tidak begitu panik. Hal sama ikut dikatakan Camat Sutera Drs Syafrinal dan Camat Lunang Silauik Drs Darmadi. Sekadar diketahui, Pancuang Soal, Lunang Silauik dan Sutera termasuk kecamatan terparah mengalami kerusakan pada gempa September 2007 lalu. (max/tos)

5 Komentar

  1. unai said,

    26 Februari 2008 pada 12:23 pm

    semoga tak terjadi hal buruk da…Banyak berdoa, dan tetap waspada

    max -> aminnn

  2. putirenobaiak said,

    27 Februari 2008 pada 2:20 pm

    Masih gampo max? Banyak berdoa dan jangan panik, itu sajo nan paralu kali. Soalnya belum ada yg benar2 bisa memprediksi gempa.

    Semoga kampung halaman dilindungi Allah yo Max.

    max -> aminnnn. Insya Allah selalu aman Ni ;)

  3. Nada Taufik said,

    27 Februari 2008 pada 5:49 pm

    Hi salam kenal ya..

    max -> salam kenal juga Ni ;)

  4. 27 Februari 2008 pada 9:52 pm

    Ya … mau bagaimana lagi; aku ingat Apak jo amak, dunsanak kasadonyo. Tabah.

    max -> tabah juo Pak ;)

  5. olangbiaca said,

    3 Maret 2008 pada 4:05 pm

    Aslkm…hari ini senin, tajadi juo gampo yo da? pusatnyo di painan?

    moga Allah melindungi dunsanak2 awak dikampung sadonyo.

    max -> iyo komandan. sebenarnya nio posting soal gempa Senin itu. Tapi karena gak sempat, ambo posting di comments ko se yo…

    Gempa 6,3 SR, Kejutkan Warga

    SETELAH sempat “libur” selama seminggu, gempa besar kembali mengguncang lempeng Indo Australia-Eurasia di Samudera Indonesia di barat Pulau Sipora-Pulau Pagai Utara, Senin (3/3). Gempa berkekuatan 6,3 SR itu, terjadi sekitar pukul 09.37′.26″ WIB di koordinat 2,36 LS-99,57 BT di kedalaman 34 km.

    Gempa besar “terakhir” dirasakan pada 26 Februari 2008 dengan kekuatan 7 SR pada pukul 04.02′.17″ WIB di koordinat 2,45 LS-99,49 BT berkedalaman 27 km yang juga di episenter yang sama dengan gempa kemarin.

    Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Padangpanjang, Ir Soemarso melalui stafnya Widya AMg menyebutkan gempa 6,3 SR ini dirasakan III-IV MMI (Modified Merchalli Intensity) di Kota Padang, Pariaman, Painan dan Lubuak Basuang. Dan di Bukiktinggi, Padangpanjang, Solok, Batusangka dirasakan II-III MMI.

    “Untuk daerah di sekitar episentrumnya, bisa jadi dirasakan IV-VI MMI,” ujar Widya.

    Sebenarnya, kata Widya, pasca gempa besar 7 SR sempat juga terjadi gempa kecil sebanyak 2 kali. Yaitu pada 27 Februari pukul 05.24′.54″ dengan kekuatan 4,9 SR di koordinat 2,9 LS-99,08 BT dan gempa 4,1 SR pada 1 Maret di koordinat 1,97LS-99,91 BT pukul 17.32.55 WIB. (max)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: