Ahli Alih Bahasa

LettersPemerintah kita ini kelewat sopan atau memang membudidayakan kehalusan? Begitu tanya yang nyangkut di kepala saya, setelah berkutat dengan berbagai istilah dan penggunaan bahasa untuk berbagai kasus yang saya temui di lapangan.

Asli, pembelokkan makna atau tepatnya penghalusan istilah (eufemisme) yang kita temui sejak dahulu kala, membikin saya bertanya-tanya. Atau inilah cara abdi negara menyembunyikan “kekasaran” sebuah kekuasaan? Saya tidak tahu dan tidak mau menuduh. Bisa-bisa dianggap subversif dan nginap gratis di penjara.

Tapi cobalah kita kembali pada realita dan membaca apa yang dituliskan media yang “mengakomodir” penghalusan bahasa ini. Di antaranya soal penggusuran yang dihaluskan menjadi penertiban. Digusur dan ditertibkan, jelas sesuatu yang berbeda. Lalu soal pelacur yang diperhalus dengan istilah pekerja seks komersial (PSK). Apakah melacur itu sebuah pekerjaan yang diakui dan berada di bawah naungan sebuah perusahaan, saya juga tak pernah tahu. Kalau memang ini sebuah pekerjaan, adakah yang mencita-citakannya saat masih kanak-kanak? Semoga tidak….

Selain itu, ada juga istilah korupsi dihaluskan dengan kata penyalahgunaan wewenang. Bukankah korupsi itu lebih pasnya “pemanfaatan kesempatan”? Karena ada kesempatan, maka terjadilah korupsi. Atau pengistilahan buat orang-orang kelaparan dengan bahasa rawan pangan yang dialami orang-orang miskin yang diistilahkan pula sebagai kalangan kurang beruntung.

Masih banyak lagi sebenarnya istilah halus yang beredar di sekitar kita. Tapi yang paling parah adalah penghalusan bahasa untuk kasus busung lapar yang dijadikan gizi buruk. Ketika ditanya kepada pejabat yang membahasakannya, mereka akan mentah-mentah menolak bahwa busung lapar itu bukanlah gizi buruk. Katanya, tidak semua yang mengalami gizi buruk menderita busung lapar. Apakah benar? Saya tidak tahu. Karena saya bukan orang halus yang berbahasa halus dan mengerti dengan segala kehalusan…. (max)

2 Komentar

  1. 21 Februari 2008 pada 11:07 pm

    ini mungkin taktik pembiasan issue issue..
    jadi inget istilah dulu ‘ tidak bersih lingkungan ‘ …..maksudnya tersangkut PKI

    max-> kalau dibawa dalam konteks yang berbeda, ‘tidak bersih lingkungan’ itu bisa tak dapat Adipura, Mas :D

  2. avartara said,

    22 Februari 2008 pada 2:35 pm

    fenomena yang aneh,….buktinya aja lumpur lapindo lagi diusulkan sebagai suatu bencana alam,….hik hik,..Indonesiaku sayang indonesiaku malang

    max ->syukurnya lumpur itu belum dikasih nama Kuala Lumpur ya OM :D


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: