Jam Gadang Menghitung Hari

foto ini milik Yuni AmbarwatiTAHUN 2009 masih 317 hari lagi. Tapi sedari dini, Walikota Bukiktinggi Drs H Djufri telah membuat orang menghitung hari. Semua menanti, semua ingin melihat dengan pasti, benarkah dia akan unjuk gigi.

Adalah sebuah wacana yang bikin orang heran pada Djufri. Wacana yang tak pernah dibayangkan orang bakal terjadi. Dan hanya Djufri yang inginkan ini terealisasi.

Walikota yang menjabat untuk periode kedua itu, ternyata punya mau yang tak terduga. Rencananya, dia akan menutup Jam Gadang pas di detik-detik pertukaran tahun yang selalu ramai oleh orang. Di situlah massa tumpek-blek menyesaki areal landmark Kota Bukiktinggi ini, untuk menanti. Menunggu jarum pendek dan jarum panjang menyatu di titik angka 12 romawi, pertanda hari berganti, permulaan tahun di dini hari.

Oleh Djufri di awal 2009 nanti, itu takkan lagi terjadi. Dia ingin mengantisipasi berbagai kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi dalam suasana keramaian yang disesaki ribuan manusia di seputar Jam Gadang ini. Maka lahirlah kebijakan ini, “Jam Gadang Dinyatakan Tertutup untuk Semua Orang!”

Tapi asli kebijakan ini setengah hati. Karena yang ditutup itu bukanlah areal Jam Gadang yang lebarnya tak sebesar lapangan bola kaki. Hanya sebatas menutup jarum jam di 4 sisi yang ada di Jam Gadang ini. Sehingga tak ada lagi yang mengarahkan pandangan seraya menanti guliran jam, menit, dan detik yang terus berotasi hingga menyatu di 12 romawi.

Inilah cara “pengusiran” massa yang tak terencana. Kawasannya tetap terbuka, sementara jamnya ditutupi biar tak terlihat mata. Padahal selalu ada dentangan yang berbunyi sebanyak 12 kali, bahwa itulah saatnya hari berganti. Dipastikan semua orang akan tetap di sini untuk menanti. Menanti sebuah bunyi pertanda waktu ada di 12 romawi.

Efektifkah wacana Djufri ini? Dipastikan jawabnya tidak. Secara makro, kebijakan ini jelas bikin rugi Bukiktinggi. Jauh hari,  sebulan sebelum hari yang dinanti itu tiba, sejumlah hotel, penginapan, wisma dan apa saja yang bisa menampung orang untuk menginap di kota wisata itu, dijamin tidak ada lagi yang tak terisi. Mulai dari kelas melati, hingga “kelas tinggi-tinggi sekali” takkan didapat kalau tak di-booking jauh-jauh hari. “Full booked,” kata setiap resepsionis yang bikin calon tamu gigit jari.

Itu baru dari sisi tingkat hunian hotel yang notabene menambah pundi-pundi manajemennya. Belum lagi tingkat kunjungan ke objek wisata yang biasanya sesak oleh orang luar kota dan wisatawan mancanegara. Jika Jam Gadang itu ditutup, siapa pula yang akan mau ke sana. Karena itulah pesona kota di saat tahun baru tiba. Pun begitu dengan jumlah orang yang akan berbelanja. Begitu banyak pasar di sana, mungkinkah pedagang hanya berharap pada warga kota saja untuk belanja?

Begitulah. Akankah Djufri tetap unjuk gigi? Mari kita sama-sama menghitung hari… (max)

15 Komentar

  1. 18 Februari 2008 pada 10:21 pm

    Ada kemungkinan itu akal-akalan yang cerdik. Aku mendukung ‘gaya’ dia, dia ahli promosi tu. Biar orang pada tertarik dan membicarakan, e … menjelang waktunya, justru … dibuka. Cara promosi handal dan murah meriah.

    Kemungkinan kedua, memang ditutup. Kalau begitu, dia tidak cerdas. Saya mau kirim email ama dia. Apa Max punya?

    max -> bisa jadi Pak EWA. Kalo emailnya (mungkin) Pak Wako tak punya. Tapi coba buka link ini http://bukittinggikota.go.id/

  2. yoki said,

    19 Februari 2008 pada 1:44 am

    Mungkin………bapak walikota terhormat ituh mau membuka peluang baru untuk PADnya, retribusi meilhat jam gadang setelah ditutup nanti, makanya dia berani (emang?) pariwisata biar 0% :P

    max -> wah… jadi objekan baru maksudnya? bisa jadi… :D

  3. mitra w said,

    19 Februari 2008 pada 2:40 am

    heran, kok adaa aja pemikiran yg gak penting itu dihinggapi seseorang yg seharusnya melakukan hal penting.

    max -> Iya ya… saya juga heran nih ;)

  4. buanajaka said,

    19 Februari 2008 pada 5:20 am

    ayo blogger Minang..suarakan suaramu!!

    max -> Pasti Mas. Kami akan selalu menyuarakan, walau suara itu tak pernah didengar…. Tq supportnya

  5. unai said,

    19 Februari 2008 pada 8:39 am

    Jam gadang ditutup, walikotanya open house…tahun baruan di rumah dia aja..nginep sekalian, lumayan kan, gak usah di hotel :P

    max -> hahaha, ide bagoes…, mana tahu pak walinya baik hati dan mau open house :D

  6. daeng limpo said,

    19 Februari 2008 pada 10:19 am

    Hmmmmm….cukup membingungkan dan membangunkan pikiran orang-orang cerdik pandai

    max -> semoga yang cadiak pandai gak keenakan tidur Pak Daeng :)

  7. realylife said,

    19 Februari 2008 pada 11:14 am

    harapannya jangan ditutup dech , masalahnya meski saya orang padang , tapi saya belum pernah pulang kampung bapak saya dan melihat jam gadang , moga – moga ngga d i tutup ya
    o iya saya mau mengundang untuk baca tulisan ini
    makasih
    http://realylife.wordpress.com/2008/02/19/berdoa/

    max -> Ayo segera pulang kampung Mas, biar gak nyesal bisa lihat Jam Gadang sebelum ditutup :D

  8. realylife said,

    20 Februari 2008 pada 3:26 pm

    makasih ya kemarin sudah silaturahmi
    sering – sering silaturahmi ya

    max -> Insya Allah…. Terimakasih juga sudah main ke sini :)

  9. titov said,

    22 Februari 2008 pada 8:02 am

    mungkin ditutup kamsudnya dikasih pager, yang mau masuk bayar karcis dulu :)

    *yang belom pernah bertaon baruwan di jam gadang*

    max -> Hahaha…, biar bisa nambah PAD ya Mas. Boljug tuh idenya

  10. reena said,

    23 Februari 2008 pada 8:32 pm

    monggo, silahkan dibaca…

    Ada tambahan untuk jam gadang yang diambil di pojok Singgalang : …… berdasarkan laporan petugas kebersihan pagi hari, banyak ditemui ‘balon’, maksudnya kondom bekas. Ada apa ini? Nah, dari pada acara menyambut tahun baru berlanjut ke maksiat, Pemko Bukittinggi bersama Muspida sepakat akan menutup Jam Gadang dan tidak memberikan izin keramaian pementasan.

    Bentuk penutupan Jam Gadang itu direncanakan mempergunakan marawa Minangkabau dengan tiga warna, yakni hitam, merah dan kuning. Ketiga warna tersebut adalah warna kebesaran Minangkabau. Soren­ya, 31 Desember sekitar pukul 17.00 WIB diadakan upacara penutupan Jam Gadang, dan esoknya, 1 Januari sekitar pukul 06.00 dibuka lagi, juga dalam sebuah upacara. Begitulah benarlah…..

    *Kalau pake upacara adat, bagus lho itu … kan ada nilai pariwisatanya. Dari milist orang awak sudah ada pengumuman hotel2 di bukittinggi hampir full, berikut pengumumannya :
    Walaupun 31 desember 2008 masih sangat jauh, tapi kamar di Bukittinggi untuk malam tahun baru sudah hampir full , Puncak Acara akhir tahun 2008 di Jam Gadang sekaligus penutupan VIY 2008 akan dilakukan Penutupan Jam gadang yang merupak simbolik kota Bukittinggi dengan kain yang disebut Marawa (sepotong kain yang dijahit menjadi satu dengan tiga warna yakni merah-kuning-hitam)

    Acara Ritual Pembersihan Jam gadang atau yang disebut Jam Gadang Hening dillakukan yang pertama kali di sumatra barat sejak seratus tahun Jam gadang ini berdiri , Acara Bersih Jam gadang memilki makna bagaimana kita merenung dengan perjalanan sepanjang 2008 dan untuk berfikir apa yang alan kita lakukan lebih baik pada tahun 2009, Buat Anda yang bosan dengan acara hiruk pikuk dan butuh ketenaangan ini lah tempatnya dan pada tanggal 01 januari 2009 rencananya akan digelar Food Festival , Semua jajanan pasar untuk yang benar-benar ingin mencicipi makanan khas sumatra barat dengan waktu yang terbatas dapat dicoba pada tanggal ini, Silahkan tentukan hotel yang anda inginkan untuk menginap bersama keluarga.

    So, ada positifnya juga kan ….
    by auliahazza

    tolong cek n ricek dulu sebelum ngomong yang ngga2 ya mas…

    max -> kalau soal ditemukan kondom bekas pas malam tahun baru, saya tidak percaya. Mana mungkin di saat orang begitu bejibun, ada yang “manganai” di sana. Bagaimana cara mereka bisa bercinta di tengah banyaknya manusia di sana. Kalau di hari-hari di luar itu, bisa saja terjadi karena sepi. Tapi kalau malam tahun baru, saya asli tidak percaya!!! Pernahkan sampeyan ke sana pas malam tahun baruan dan menyaksikan lautan manusia? Kalau belum, jgn kelewat percaya pula soal kondom bekas itu. :)

  11. reena said,

    25 Februari 2008 pada 7:48 pm

    Jangan khawatir mas, saya orang bukittinggi kok, dan rumah saya ga begitu jauh dari jam gadang, dan saya pernah menyaksikan lautan manusia di sana.
    saya juga kaget membaca berita (oleh auliahazza) yang saya post di sini.
    sebenarnya saya lebih menyorot tentang apa yang sebenarnya direncanakan dengan “ditutupnya” jam gadang pada tahun baru 2009 nanti. berdasarkan artikel yang saya post ini, bukittinggi sama sekali tidak rugi, bahkan kamar hotel2 di bukittinggi untuk malam tahun baru sudah full (ini jelas2 bukan mengindikasikan kerugian kan?).

    max -> cepat banget full-nya. Tetapi setahu saya dan pengalaman saya, saya masih mendapatkan hotel pada 29 Desember walau harus bayar mahal. Jadi kalau dikatakan full booked, blom tentu juga ;)

  12. reena said,

    25 Februari 2008 pada 7:56 pm

    Coba anda baca juga postingan dari salah satu teman dekat saya (insya Allah kebenarannya bisa dilacak):

    “Saya merayakan taon baru 2008 di jam gadang dan kegilaan benar2 terjadi di sana, di sekitar jam gadang, di tugu pahlawan tak dikenal, bioskop eri, dsb, dengan berbagai cara yg tak terpikirkan oleh saya sebelumnya, spt mojok, ke toilet bareng, menyuruh tmn2nya berkerubung untuk menghalangi, dll, dll, pasangan2 itu melakukan zina. saya sendiri menyaksikan paginya kancut2 cewek dan kondom2 bekas pakai berserakan di mana. That’s true. opini dan argumen dan perdebatan mungkin terlalu sempit untuk ditampung pada tempat yang sangat terbatas ini, jadilah saya hanya menyodorkan fakta, untuk bahan perenungan, bahan pemikiran bagi yg ingin berpendapat, bahan pertimbangan bagi yang berhak bertindak.”

    max -> saya tetap tidak percaya!!! Karena saya pribadi belum pernah menemukannya :D

  13. putirenobaiak said,

    27 Februari 2008 pada 4:49 pm

    konyol kalipun ide walkotmu itu max hahaha…gak mutu!

    jadiurangmedan aden oi :)

    max -> indak Walkot awak gai tu doh Ni. Walkot rang Bukiktinggi tu mah :P

  14. putirenobaiak said,

    27 Februari 2008 pada 5:03 pm

    waah baru baco komen di atas, aneh juga, kalau yg memang niat maksiat gak di jam gadangpun bisa, tp kok bisa ya, di tengah ribuan orang? apa kampuang halaman sudah sedemikian bobrok max…ck…ck…astagfirullah

    max -> itulah Ni, awak yo sabana indak pacayo kalau ado urang nan barani begituan di tampek rami. Alah putuih mungkin urek malunyo :))

  15. reena said,

    5 Maret 2008 pada 1:10 pm

    Bukan full booked, da…hampir full (itu bukan berarti full booked, kan).
    Kalau soal kondom bekas tu, mungkin uda paralu ngecek jo kawan wak tu kalau indak picayo. Petugas kebersihan alah nampak, kawan awak alah nampak, ndak mungkin nunggu uda mancaliak jo mato kapalo uda surang, mangko pak wali bertindak do kan da? ;)
    Ndak sado hal mesti wak tentang kebenarannyo, mantang2 awak alun mancaliak jo mato kapalo surang da. Tau kan uda ado kasus pornografi yang melibatkan remaja bukittinggi, itu salah satu tando pergaulan anak mudo bukik tu alah sabana parah da.

    max -> hehehehe, Iyolah… ;)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: