Tempo, Memang Enak dan Perlu Dibaca

TempoTERUS terang saya tidak menyangka Majalah Tempo edisi khusus Soeharto terbitan 4-10 Februari 2008 akan menuai kritik. Ketika pertama kali disorongkan Satpam kantor yang nyambi jadi loper majalah dan tabloid, saya memang langsung mengambil dari tangannya pada Selasa 5 Februari. Ketertarikan saya pertama memang terhadap cover-nya selain edisinya yang khusus membahas Soeharto dengan tajuk “Setelah Dia Pergi”.
 
Ketertarikan calon pembeli pada cover goresan Kendra Paramita yang terinspirasi dari lukisan karya Leonardo Da Vinci itu pula, yang membuat dagangan sang Satpam jadi laris manis. Biasanya tiap minggu dia hanya menyuplai paling banyak 4 eksemplar majalah Tempo ke karyawan-karyawan di kantor, itupun dengan susah payah membujuk pembelinya (karena memang tidak ada yang berlangganan tetap, termasuk saya). Tapi untuk edisi khusus ini, dia berhasil menjual hingga 13 eksemplar lantaran tingginya permintaan, sehingga dia harus bolak-balik ke agen penyalur majalah ini yang lumayan jauh dari kantor.
 
Artistik, begitu alasan kawan-kawan sekantor yang membeli majalah ini soal cover-nya. Dan yang paling penting, isinya memang tuntas…tas…tas menguliti mendiang Soeharto luar dalam. Pun bagi saya, begitu pula adanya. Termasuk soal covernya –yang ketika majalah ini sudah berada di tangan saya– langsung mengingatkan pada lukisan The Last Supper milik Da Vinci. Ternyata justru inilah yang menyandung Tempo sehingga memaksa Pemrednya, Toriq Haddad harus perlu menyampaikan permintaan maaf setelah adanya komplain dari berbagai elemen umat Khatolik terhadap pemuatan cover ini.
 
Terlepas dari masalah gonjang-ganjing cover, saya benar-benar puas dan terpuaskan dari edisi khusus ini. Banyak hal tentang Soeharto yang tak pernah kita ketahui, menjadi tahu setelah melahap habis majalah ini. Dari 208 halaman terbitan kali ini, Tempo mengulas kisah dan sepak terjang Soeharto, keluarga dan kroninya, kasusnya, kesan, tanggapan, tulisan, dan foto-foto dalam 90-an halaman. Wajar isinya begitu lengkap, karena untuk edisi khusus ini telah mereka persiapkan sejak 7 tahun lalu. Bahkan beberapa narasumber dan penulis kolomnya sudah ada yang duluan mangkat dari sang Jenderal Besar itu.
 

Tempo1

Sesungguhnya, sangatlah beruntung bagi siapa saja yang berhasil mendapatkan majalah edisi ini. Di samping kini telah menjadi barang langka (karena diborong orang) menyusul munculnya polemik soal cover-nya, materi yang disajikan Tempo jauh lebih lengkap dari buku sejarah yang telah ada. Dan bisa jadi kita tidak akan pernah menemukan di buku sejarah, realitas sebenarnya tentang seputar kasus-kasus yang terjadi selama 32 tahun Soeharto memimpin. Dan Tempo, berani mengungkapnya. Maka jadilah edisi ini sebagai referensi baru sejarah Indonesia yang enak dan perlu untuk dibaca. (max)
 

10 Komentar

  1. unai said,

    11 Februari 2008 pada 2:56 pm

    Saya beruntungggg hahahaha…beruntung sekali hari ini, bisa mendapatkan Majalah Tempo setelah kelimpungan mencarinya ke semua agen. Horeee…nanti saya baca sampai tuntas tuntas tas… :)

    max -> ha3x selamat… selamat, sampeyan layak dapet bintang dengan perjuangan yg begitu mendebarkan ;)

  2. djunaedird said,

    11 Februari 2008 pada 9:27 pm

    Saya kehabisan ini edisi khusus. Sayang sekali. ;P

    max -> waduh…, kasihan bangets ya… Cari lagi deh, mana tahu anda beruntung ;)

  3. Sherlie said,

    12 Februari 2008 pada 4:00 pm

    wah..saya gak dapet.. boleh minjem ato fotocopy? pleasee..

    max -> difotocopy? Kanai HAKI Sherlie beko, ditangkok lo jo Polisi Tempo :D

  4. 12 Februari 2008 pada 9:25 pm

    Terimakasih infonya, saya bisa merasakan kebahagiaan Anda yang sedang beruntung.. Salam dari saya.

    max -> Bapak sedang bahagia juga? Salam kenal dari saya :)

  5. Herry said,

    13 Februari 2008 pada 6:18 am

    mantap…………..pokoknyo mantaplah………….

    Bang aku lagi belajar buat blog di http://sarolangunjambi.wordpress.com/

    max -> wah mantaps juga Herry. Teruskan ngeblog, dan kalau dapat bikin blog personal, bukan bertajuk daerah, biar ada yang bisa menyimak tulisan Herry :)

  6. unai said,

    13 Februari 2008 pada 9:37 am

    saya cuman mo bilang, horeee saya pengunjung yang ke 2.500…:)

    max -> Oh ya? Kalau gitu Nai berhak mendapat bonus Rp 2.500 dari Uda. Silahkan tinggalkan nomor rekening dan alamat Bank Becak terdekat :D

  7. indra1082 said,

    14 Februari 2008 pada 10:13 am

    Kenapa Covernya diprotes???
    Saya gak sempet baca nih

    max -> krn covernya bagoes kaleee, he3x

  8. DANIEL! said,

    19 Februari 2008 pada 5:18 pm

    salam kenal pak!
    saya katolik tapi bukan elemen umat katolik yg anda maksud ;)
    kalo gak percaya baca aja posting saya.. hehehe..

    blog bagus.. thx

    max -> salam kenal juga pak. Saya dah baca kok postingan yg bapak maksud. Bagoes ;)

  9. Widdi said,

    22 Februari 2008 pada 5:39 pm

    Yup..kenapa covernya diprotes..
    ayo, tanya ken..apa?

    max -> iya, tanyaken apa… hihihi

  10. termadhi said,

    18 Januari 2013 pada 3:04 pm

    apakah blog ini masih aktif? saya butuh informasi majalah ini untuk tugas kuliah kira-kira bisa berbagi informasi mengenai konten yang ada di majalah ini, mungkin hasil scanan majalah ini sangant membantu :)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: