“Diskotik Berjalan” itu Diburu

AngkotPERNAH ke Kota Padang? Pasti tahu dengan maksud kata-kata “diskotik berjalan”. Istilah itu ditujukan kepada angkutan kota (Angkot) dan buskota di sini. Bayangkan, suasananya persis dengan diskotik, terlebih di saat malam dengan kedap-kedip lampu warna-warni yang mengiiringi hingar-bingar musik “ajeb-ajeb” yang menyeruak dari sounds system oke punya. Speaker-nya pun segede gaban yang berdebam-berdebum memekakkan telinga

Kemeriahan itu belum cukup. Ada pula Angkot dan buskota yang punya mini monitor yang memutar lagu dari VCD bajakan. Yang diputar, tentu saja lagu triping yang ditingkahi goyangan maut dancer seronok berbaju minim. Asli, bikin mata puas bergoyang mengikuti lekukan tubuh si penari yang kadang tak nyambung dengan musik pengiringnya. Tapi asli pula bikin telinga pekak nyut-nyutan lantaran volume VCD player-nya yang naudzubillah

Kesemarakannya pun tidak cukup segitu. Lihatlah tampilan body Angkot dan buskota itu. Penuh warna dan beragam merek serta gambar-gambar yang oke punya menempel di dinding angkutan umum ini. Maka tak heran usaha airbrush dan kaca film laris manis di sini. Kendati warna dasar dinding masing-masing Angkot dibedakan berdasarkan jurusan, seperti oranye, putih, biru langit, biru tua, hijau, merah dan sebagainya, bukan pantangan untuk mempermak body mobil mereka. Bemper depannya pun, kadang ditrondoli seceper-cepernya yang kadang mirip mulut ikan hiu pula. Walah!

Maka jangan heran, keunikan Angkot dan buskota ini acapkali mengisi berita-berita ringan di televisi. Kalau di koran, mungkin sudah bosan, karena sudah menjadi pengisi berita langganan. Dan jangan heran pula bila banyak orang luar daerah sangat kepincut mencoba naik angkutan umum yang kata mereka murah meriah dan full music itu.  Jadilah kini mereka menjadi brand image Kota Padang sebenarnya.

Walau brand image di mata orang luar, tapi tunggu dulu untuk internal Kota Padang. Mereka dipuji dan dicaci. Dipuji dan diincar untuk ditumpangi ABG pulang sekolahan, dan dicaci oleh gaek-gaek yang sesak karena terganggu pendengaran. Itu pun belum cukup, mereka pun jadi buruan aparat karena sering melakukan pelanggaran. Seperti yang terjadi Selasa (5/2) ini. Sebanyak 549 Angkot diburu dan ditilang di tempat oleh petugas Dishub. Alasannya? Yang pasti melanggar UU No 14 Tahun 1992 dan seabreg aturan yang telah ditentukan.

Kapokkah supir-supir itu? Belum tentu. Karena bagi mereka, kemeriahan dan kesemarakkan Angkot yang dikemudikannya menentukan jumlah penumpang yang akan menumpanginya. Dan demi itu, mereka rela serela-relanya untuk berbuat apa saja, termasuk melanggar ketentuan. (max)

7 Komentar

  1. Mardies said,

    6 Februari 2008 pada 1:43 am

    Hebat! Mungkin usaha angkot di sana menguntungkan sampai full modif begitu. Saya pernah mendengar yang serupa dari teman di Jambi. Katanya seperempat bagian belakang angkot disulap menjadi speaker.

    max -> Bikin buntung malah, Mas. Karena butuh banyak biaya buat beli beragam aksesorisnya. Sementara ongkos yang ditarik tak seberapa

  2. Mega said,

    6 Februari 2008 pada 5:59 am

    Benarr..benar sekalee..aku sering kesel kalo naik angkot dipadang..tapi jangan salah,,taksi juga ga mau kalah,,pas wkt mau pulkam mendapatkan taksi yang bagasi belakang ga bisa dimasukin barang kita coz penuh dengan sounds system tadi

    max -> kadang kekreatifan mereka malah bikin susah orang lain ya Ni Mega. :D

  3. unai said,

    6 Februari 2008 pada 9:15 am

    pak Aprizal ; sopir angkot yang dulu saya ajak kencan juga bilang “kalo indak ajeb-ajeb, indak laku angkot ambo ko, diak” weleh..padahal saya beberapa kali minta dicarikan lagu yang ndak ajeb ajeb..PANIANG :)

    max -> He3x. Begitulah realitanya Nai

  4. ayahAksan said,

    7 Februari 2008 pada 2:43 pm

    Wakakakakak…. Pekanbaru sama aja kok, Angku. Angku se nan indak pernah naik angkot di Pekanbaru. Dulu sekolah PP jalan kaki kan? hehehe… tapi mau gimana lagi… Disatu sisi disenangi ABG, dilain sisi sebenarnya dengan kondisi seperti itu akan menjadikan rawan tindak kejahatan.

    max -> ambo raso, Angkot di Pekanbarulah yang mode iko pertamo kali. Dulu sejak SMP, Angkot2 di sinan alah “semarak”. Kemungkinannyo, supir2 atau stokar2 oplet yang alah “menimba ilmu” di Pekanbaru, lalu pulang kampung ke Padang (bukankah mereka umumnya memang urang Padang?) dan memperkenalkan “Angkot modis” di Kota Padang. Di Padang, fenomena “diskotik berjalan” itu baru berlangsung sekitar tahun 2000-an, di Pekanbaru sudah jauh lebih dulu dari itu. Begitu sejarahnya mungkin Ayah Aksan. Tapi lantaran data sejarah ambo lamah, ambo indak mungkin menyinggung soal “kemodisan” Angkot Pekanbaru sebagai pionirnyo. Beko disangko urang lo sok tahu, :D . Bukan begitu Bos?

  5. meiy said,

    15 Februari 2008 pada 4:59 pm

    ambo suko dg kreatifitas lukisan2 itu, tp tidak dg suara musik yg berisik, krn bisa membahayakan penumpang. sopir jadi budek hehe..halah sajak dulu di bis kotapun jadi diskotik max, jaman uni kuliah alah ado tu, kecuali gbr2 yg keren tuh.

    max -> batua Ni. Buskota nan mamulai dulu, kemudian baru Angkot yang tampil segeh :D

  6. catra said,

    8 April 2008 pada 6:42 pm

    wahhh tulisan ini mengobati saya yang lagi kangen kampung halaman

    thanks banyak uda

  7. ericx said,

    17 Januari 2011 pada 3:26 pm

    benar tuh angkot d padang kyak d diskotik berjalan liat ja klau malam hari
    huuuuuuuuuuuuuu
    asyik bget tuh naik nya
    gubernur sumbar ja mendukung modifikasi angkot tersebut
    tiap tahun ada pemedang modifikasi angkot terbaik
    makanya di daerah lain jangan sampai ketinggal kyak d padang dong angkotnya kalau bisa melebihi gaya anggkot d padang di baru hebat namanya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: