Ya Sudah.., Maafken Saja

HartoTAK ada niat saya menyakiti hati korban-korban kekerasan rezim Orde Baru. Tulisan ini bukan pula sebagai keberpihakan saya terhadap pelaku kekerasan, penganiayaan, pelanggar HAM, dan tindak ketidakmanusiawiaan lainnya. Ini hanya sebatas saran, juga dalam konteks kemanusiaan.

Sama halnya dengan imbauan Amien Rais yang mengajak anak bangsa untuk memberi maaf kepada mantan Presiden Soeharto dengan dasar moralitas keagamaan, saya pun ingin menyampaikan itu dengan melihat begitu sulitnya dia menghadapi masa-masa sakaratul mautnya. Mungkin benar kata banyak orang, sebelum ada kata maaf dari orang yang pernah disakiti, memang sulit bagi orang yang tengah sekarat untuk melewati masa-masa sulitnya.

Di kampung saya, kejadian serupa sering terjadi. Dan mungkin juga di daerah-daerah lain. Cerita tentang begini pun sering diangkat majalah Hidayah dan pernah pula difilmkan dalam sinetron Rahasia Illahi yang sempat booming pada 2006 lalu. Dalam keadaan yang begitu kritis, setelah dibisikkan kata maaf, barulah yang bersangkutan pergi untuk selamanya. Apakah ini hukuman dalam konteks hablumminnanash, hanya pakar agama yang bisa menjelaskan lebih lanjut.

Mungkin tidak berbeda dengan kondisi Pak Harto, yang sampai saat ini sangat banyak yang tidak mau memaafkannya, terutama para korban yang pernah dizhalimi ketika dia memerintah dan tentu saja kusut masai proses hukumnya yang kini terus tarik ulur.

Terus terang, secara langsung saya belum pernah jadi korban yang bersangkutan. Namun ketika era-era demonstrasi 1998 lalu, saya dengan sepenuh hati dan sadar sesadarnya turut bersama mahasiswa seangkatan saya berdemonstrasi menuntut pengunduran dirinya. Jam kuliah menjadi tak pernah efektif ketika itu, karena kampus selalu diisi dengan aksi unjuk rasa yang saya sendiri tidak tahu berapa SKS nilainya. Yang pasti ada situasi, kondisi, yang benar-benar tak kondusif yang membikin orang tua saya harus memberi ingat kepada saya untuk hati-hati.

Kini, bapak tua itu benar-benar sedang payah. Yang dalam bahasa media dikatakan kritis, dan kadang kondisinya berfluktuasi yang dalam pemberitaan dibahasakan bahwa kondisinya sedikit membaik. Banyak orang yang menyimpulkan, harapan hidupnya kecil. Atau yang lebih sakartis, ada yang bilang Soeharto menunggu ajal.

Karena itu, belajar pada kejadian di kampung-kampung, di daerah lain, atau cerita-cerita yang pernah dimuat majalah Hidayah dan majalah sejenis lainnya, saya hanya bisa berkata, “Ya Sudah.., Maafken Saja…”

Tapi sebelum ada silang sengketa yang akan menanggapi postingan saya ini, baiknya saya alas dulu kata maaf itu. “Walau diberi maaf, kasus hukumnya harus tetap jalan. Kalau Soeharto mangkat, kejar terus kroni-kroninya. Agar kasus yang merugikan negara ini tidak menjadi preseden buruk di kemudian hari.” Itu saja…. (max)

2 Komentar

  1. unai said,

    21 Januari 2008 pada 8:06 am

    Maafken saja…iya lebih baik begitu, bagaimana pulak mau menghakimi orang yang sedang terbaring tak berdaya, biarlah SKS unjuk rasa kita yang melebihi SKS mata kuliah wajib itu menjadi tonggak sejarah :) …

    Max -> emang unjuk rasa itu berapa SKS ya Nai? Kalo sering2 ngunjuk rasa, dijamin langsung tamat gak ya? :D

  2. kemusuk said,

    3 Februari 2008 pada 5:04 am

    Dari mana Anda tahu waktu dia sekarat mengahadapi masa sulit,…pas sekarat tapi ya….sok tau km..matinya aja jam 1:10 dini hari mangnya km ada disitu apa

    max -> :)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: