Ketika Bendera Berkibar Tanpa Jeda

Upacara benderaSEBUAH tindakan “heroik” dilakukan Polresta Bukiktinggi. Kenapa saya memberi tanda kutip di kata heroik, lantaran apa yang sudah dilakukan jajaran kepolisian itu, menunjukkan kepada kita –sekaligus menampar ketidaksadaran kita selama ini– bahwa betapa pentingnya sebuah bendera.

Dalam sebuah razia yang dilaksanakan pada Rabu malam, 16 Januari lalu, pihak kepolisian menurunkan bendera Merah Putih di 9 kantor instansi yang berada di kota wisata tersebut. Sayangnya, kantor-kantor mana saja yang benderanya diturunkan, pihak kepolisian enggan menyebutkannya.

Apa pasal sampai-sampai polisi bela-belain bersusah payah menurunkan bendera itu? Ternyata semua ini gara-gara betapa tidak disiplinnya instansi tersebut dalam mengibarkan bendera. Sebagaimana diketahui, sesuai aturan, bendera dikibarkan dari pukul 06.00 WIB hingga 18.00 WIB. Sementara di 9 instansi tersebut, bendera dibiarkan berkibar hingga larut malam –dan mungkin saja tetap berkibar keesokan harinya dan terus menerus di hari-hari berikutnya. Maka jangan heran bila banyak bendera di sebuah kantor sering sudah lusuh dan kusam karena dibiarkan berkibar tanpa jeda. Bahkan bukan tak mungkin ada yang compang-camping.

Bendera bukan untuk disakralkan, tapi inilah wujud penghormatan kita terhadap betapa susah payahnya pejuang dan pahlawan kita untuk memperjuangkan negeri ini demi berkibarnya Sang Saka Merah Putih. Di sinilah jiwa nasionalisme kita dipupuk. Coba kita bayangkan, bagaimana perasaan yang berkecamuk di dada ini bila melihat bendera kita disalahgunakan atau diinjak-diinjak oleh orang lain. Jika kita merasa biasa-biasa saja, sudah saatnya bertanya balik kepada diri sendiri, “Seberapa besar ke-Indonesia-an kita ini?”

Apa arti sebuah bendera? Gunawan Mohammad dalam Catatan Pinggirnya dengan cantik memberi sebuah penjelasan. “Selembar kain yang diberi harga untuk menandai “kami” yang “bukan-mereka” dan “mereka” yang “bukan-kami”. Bendera adalah saksi sejarah bahwa identitasku punya arti karena ada perbatasan dengan “dia” yang di luar diriku. Dalam arti itu, yang di luar itu jugalah yang membentuk diriku, hingga “aku” jadi sebuah totalitas yang seakan-akan utuh. Tapi sementara itu, yang di luar itu pula yang selalu mengancam akan melenyapkan aku.” Begitu ditulisnya dalam Majalah Tempo Edisi. 39/XXXVI/19 – 25 November 2007.

Jika betul kita ini merasa Indonesia, sepantasnyalah ada rasa yang menguar bila mendengar lagu yang memupuk kenasionalismean kita melalui lirik merah putihnya. Baik lagu kebangsaan maupun lagu pop yang didendangkan artis-artis kita. Dan sangat pantas pula bila kita menyadari kembali apa arti sebuah bendera. Merdeka!!! (max)

5 Komentar

  1. 17 Januari 2008 pada 11:24 pm

    Wouw … siiip … (Jika betul kita ini merasa Indonesia, sepantasnyalah ada rasa yang menguar bila mendengar lagu yang memupuk kenasionalismean kita melalui lirik merah putihnya)

    max -> Siiippp bana yo Pak? :D

  2. unai said,

    18 Januari 2008 pada 8:19 am

    Mungkin untuk alasan kepraktisan, makanya setelah bendera itu naik, dibiarkan saja berkibar sampai lusuh.

    Max -> Kasihan benderanya deh kalo kek gitu Nai. Lusuh di tiang, biar ada proyek pengadaan bendera baru ya? :D

  3. meiy said,

    18 Januari 2008 pada 2:07 pm

    mungkin krn sangking cintanya dibiarkan aja. halah nyari alasan :D

    iyoko nasionalisme kito bakurang, eh ambo, perlu ditumbuhkan lagi.

    max -> paralu ditumbuahan pakai pupuak Ni, he3x. Tapi pupuak sadang langka lo kini

  4. catra said,

    8 April 2008 pada 7:05 pm

    bener banget, banyak banget instansi2 pemerintah yang menelantarkan sang merah putih dikala malam, hujan dan kedinginan

  5. LaKoN uTamakNo said,

    11 September 2008 pada 1:06 pm

    Sepakat boss.. Kembalikan Indonesiaku yg dlu dipuja-puja bangsa, Nasionalisme skrg djadikan alat utk Korupsi, Rakyat udah muak dg janji2 politikus yg membawa slogan2 Nasionalisme..Bedebah dg Nasionalisme, Rakyat bth makan yg layak utk hidup, rakyat bisa hidup tnpa Nasionalis.. Rakyat brharap N brkata: Kembalikan Nasionalisme yg dlu, Nasionalisme yg kurindu,Nasionalisme Sejati tnpa ada makna negatif dibaliknya..Nasionalisme is berbagi hati, brbagi kbahagiaan, brbagi kesempatan..Nasionalisme adlh kbrsamaan, Demi kesejahteraan & kemakmuran rakyat, Demi tanah airku, Demi tanah tumpah darahku, Demi senyuman Ibuku, IBU PERTIWI.. amiin>


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: