Kanai Tilang, Hati (Tetap) Sanang…

RaziaSEMINGGU yang lalu saya ditilang Pak Polantas. Alasannya sungguh sepele dan bikin saya tak habis pikir dibuatnya. Saya distop dan ditilang karena Nopol bagian belakang dianggap Aspal (asli tapi palsu). Inilah tilang pertama saya di 2008…

Laju Vega R saya dihambat Polantas muda ketika memasuki kawasan Jalan Pemuda. Distop, saya pun tersenyum kepada abdi negara tersebut. “Siang Komandan…, ada yang salah dengan saya?” ucap saya mendahului dia mengucapkan salam pembuka.

Nopol Bapak tidak asli. Bisa saya lihat STNK-nya?” jawab dia yang dengan sigap saya keluarkan STNK dan SIM yang dimintanya.

Kalau saya memang salah, silahkan tilang saja Komandan,” kata saya untuk mencegah kemungkinan adanya “tawaran” baru di balik penilangan ini.

Mendengar itu, Pak Polisi kita tercinta itu lantas menyuruh saya untuk mengikuti dia ke sebuah warung makan. Di sana dia menorehkan pena di atas kertas tilang yang akan diberikannya kepada saya. Usai itu, saya menerima kertas tilangnya sembari mendapat pemberitahuan bahwa jadwal sidang saya tanggal sekian-sekian.

AspalOke, Komandan. Terima kasih, saya ‘upayakan’ datang ke pengadilan (kalau ada waktu, kata saya dalam hati),” ujar saya sembari bergegas menuju Vega R saya yang diparkir tak berapa jauh dari Mio sang Polantas. Sambil ngelirik sepintas, ada yang aneh juga dengan Nopol si empunya Mio itu. Aspal seperti saya punya. “Ya sudah…, ikhlaskan saja,” kata saya dalam hati.

Soal tilang-menilang, sungguh saya sudah banyak mendapat pengetahuan. Yang paling utama adalah jangan melawan/menantang ketika ditilang. Ingat…, pak polisi kita itu tengah bertugas sebagai abdi negara, jangan pula dijatuhkan wibawanya. Kedua, jangan pernah membuka kesempatan untuk bernegosiasi. Tutup serapat-rapatnya dengan kata-kata, “Silahkan tilang pak“. Dijamin pasti tak akan ada tawar menawar dari sini. Dia selamat dari sogokan, kita pun selamat dari tindakan penyogokan. Amankan?

AsliKembali kepada kesalahan saya yang memakai Nopol Aspal, sungguh tak ada niat untuk melanggar peraturan. Nopol saya di bagian belakang, memang Aspal lantaran yang aslinya patah dua akibat sesuatu dan lain hal yang saya sendiri tidak tahu pasti penyebabnya. Karena itulah saya berinisiatif menggantinya dengan mengupahbikinkan kepada pembuat Nopol yang banyak betebaran di pasar-pasar. Sebagai itikad baik, saya sengaja tidak membikin sepasang untuk mengganti Nopol yang di depan biar seragam. Cukup satu saja, karena memang satu yang tak laik pakai. Salahkah saya?

Hari ini, hati saya tergerak untuk googling mencari tahu, apakah Nopol Aspal saya itu melanggar aturan. Sejauh ini, tidak saya dapat –tepatnya (mungkin) belum saya temukan– kalau itu bagian dari pelanggaran. Tak percaya? Coba lihat ini, dan ini.

Makanya saya jadi mahfum pada akhirnya bila melihat begitu banyak kendaraan roda dua atau roda empat yang berseliweran dengan Nopol-nopol nyentrik bukan keluaran Dirlantas. Kenyentrikan itu semakin dipertegas dengan angka Nopol yang asli cantik punya dan enak dibaca. Sebagai contoh saja (bukan berarti saya menuduh Nopol mereka Aspal), di Padang sungguh banyak Nopol angka cantik ini. Seperti BA 9 AK (berani), BA 217 AN (berdua satu tujuan), BA 6186 TU (bagi 86 itu), BA 3 E (babe), BA 41 R (berair) dan sebagainya. Bandingkan dengan saya punya, yang hanya sederetan angka tanpa makna… (max)

10 Komentar

  1. abujhonny said,

    16 Januari 2008 pada 8:57 pm

    harusnya bapak minta surat tilang yang langsung bayar denda, bukan untuk sidang ke pengadilan. Kan bapak sudah mengaku salah cukup bayar denda ke bank dan nanti bukti pembayarannya ditunjukkan lagi untuk minta sim atau stnk yang ditahan. Kalau nggak salah surat tilangnya warna biru. Memang sepantasnyalah kita tetap memakai no pol asli jika rusak atau patah dapat diminta buatkan lagi ke samsat. Jangan ada celah untuk polisi untuk mencari kesalahan.

  2. unai said,

    17 Januari 2008 pada 8:30 am

    yeee nopol aspal kan juga melanggar…makanya ditilang. heheh no cantik itu kalo boleh pesen, saya mau yang ini pak ; BA 9 AK :)

  3. meiy said,

    17 Januari 2008 pada 3:34 pm

    hahaha kalau pakai yg asli juga nanti ada yg lain yg salah max, bisa aja dicari2 yg salah…kecuali…;)

    wah unai pesan punya urak bagak ha?! :P

  4. max said,

    17 Januari 2008 pada 4:08 pm

    abujhonny = terimakasih sarannya Pak. Nanti kalau saya kena tilang lagi, p[asti saya jalankan saran Bapak :D

    unai = Mau pesen nomor cantik? Langsung ke Samsat aja Nai :D

  5. max said,

    17 Januari 2008 pada 4:15 pm

    meiy = he3x Uni ko ado2 se…, itu namonyo mancari-cari kesalahan mah. Iyo Ni, Unai nio jadi urang bagak bantuaknyo :D

  6. khepri said,

    18 Januari 2008 pada 11:44 am

    helm nyo ndak standar lo tu, tilang sakali lai……..he2x

  7. max said,

    18 Januari 2008 pada 12:16 pm

    khepri = takanai banyak jadinyo Da :D

  8. 20 Januari 2008 pada 10:53 pm

    bingung baca komen dr yg lain.
    tp saya punya pengalaman waktu minta ditilang, malah ga jadi ditilang.
    operasi gadungan kali ya :D atau polisinya gadungan :D hwkwkwkwk …
    thx bt share-nya :)

  9. max said,

    21 Januari 2008 pada 11:38 am

    spypark.reborn = jgn bingung2 mas, enjoy aja lagi :D

  10. catra said,

    8 April 2008 pada 7:11 pm

    saya juga pernah di stop polantas dulu waktu di padang karena nopol saya sudah memudar, lha, kok ditilang? padahal itu nopol asli samsat, dan kualitas cat nya ga bagus dan memudar.

    pemberitahuan: sekarang apabila ada polantas yang memancing untuk menyogok sebaiknya jangan disogok, sebab kita sendiri yang akan ditangkap karena menyogok. hal itu terjadi di DKI


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: