Siti Nurbaya, Nasib Jembatanmu Kini…

DjembatanBAGI yang pernah ke Kota Padang, pasti pernah singgah ke Jembatan Siti Nurbaya. Jembatan yang melintasi Batang Arau itu, sejak dibangun di awal tahun 2000-an, menjadi icon wisata Kota Padang yang wajib dikunjungi pelancong. Dan bagi calon dua sejoli, lokasi ini menjadi tempat yang pas buat mengikat janji di bawah temaram lampu mercury. Romantis sekali. Sangat syahdu di tengah lalu lalang kendaraan yang melintasinya.

Dari atas jembatan sepanjang 60 meter ini, sungguh indah melepas pandangan. Aktivitas di Dermaga Muaro, bangunan Padang kota lama yang berjejer di sepanjang Batang Arau, hijau perbukitan Gunuang Padang dan Bukik Lantiak serta jejeran Bukik Barisan, menjadi pemandangan yang memuaskan mata. Terlebih ketika senja menjelang saat mentari hendak balik ke peraduannya, semburat jingga yang terpapar menjadi objek yang sangat bagus untuk diabadikan melalui kamera (seperti yang dilakukan ibu cantik ini).

Di kala malam, henyakkanlah pantat di bangku-bangku plastik yang disediakan PKL di sana. Jagung bakar, roti panggang, teh botol dan penganan kecil lainnya bisa menjadi teman untuk menikmati keindahan suasana dari atas jembatan ini. Belum lagi hilir mudik kendaraan yang silih berganti singgah dan pergi, menjadi sisi lain keeksotikan Jembatan Siti Nurbaya yang bisa dinikmati. Kalau lagi Jigon (jiwa goncang), diharap sekali agar jangan melompat dari atas jembatan ini!!!

Siti nurbaya bridgeBelakangan, keindahan Jembatan Siti Nurbaya jauh berkurang, karena selain di makan usia (walau masih muda), beberapa waktu lalu juga sempat dihajar gempa yang berakibat rengkahnya sebagian jalan di ujung jembatan. Yang paling parah adalah, lampu mercury yang syahdu itu tidak lagi bersinar temaram, karena hampir seluruhnya padam. Yang masih tetap menyala bisa dihitung dengan jari; satu, dua, tiga, empat, lima dan seterusnya. Puluhan lainnya hanya menjadi ornamen yang seakan tak berguna. Belum lagi lampu hias yang menyerupai rambut ondel-ondel Betawi yang biasanya berkerlap-kerlip seakan saling bekejaran, kini tak pula berfungsi.

Ada apa ini? Entahlah…. Kok kondisi yang sebenarnya bisa disaksikan setiap malam, tidak terperhatikan sama sekali oleh instansi yang biasanya ngurusi hal serupa ini. Tak adakah laporan dari bawahan? Atau si bos yang tak pernah turun ke lapangan, sehingga ini jadi terabaikan? Sekali lagi, entahlah…

Namun saya yakin, setelah tulisan ini saya posting dan setelah koran lokal memberitakan ke khalayak pembaca, semuanya pasti segera bergerak menyelesaikannya. Budaya kerja apakah ini? Dan sekali lagi, saya hanya bisa menjawab, “Entahlah……” (max)

Postingan tambahan 16 Januari 2007

Siti Nurbaya, Dirimu Masuk Koran…

Sinur

Posmetro Padang edisi Rabu, 16 Januari 2008

12 Komentar

  1. avartara said,

    15 Januari 2008 pada 11:26 pm

    Setju da max,…mungkin saja pemerintah kota dan jajarannya lagi jigon,..karena itu enggan mendekati si siti nurbaya,…avoiding risk

  2. unai said,

    16 Januari 2008 pada 8:20 am

    Kalau saja lampunya menyala semua, pasti menambah cantik tampilan jembatan in Da ya…eh, dulu mengikat janji dengan Bunda di jembatan ini ya? hhehe ketahuan deh ;)

  3. unai said,

    16 Januari 2008 pada 8:31 am

    fotonya dipasang di sini lebih cantik, Da…karena memang didukung oleh tulisan yang berkualitas pastinya ;)

  4. ciplok said,

    16 Januari 2008 pada 9:01 am

    kayaknya dulu blog kamu bukan di sini deh? dan seharusnya le-otnya pun ga kayak gini, iyah gak? apa saya 2008 udah pixun kali yah?

  5. max said,

    16 Januari 2008 pada 1:30 pm

    avartara = Jigon? He3x, mgkn aja kali ya…

    Unai = Mengikat janji gak di sini kok, dan emang jarang main ke jembatan ini Nai. Foto karya Nai yg bikin bagus postingan da ini :)

    ciplok = gw emang dah pindah rumah Plok… biar lebih fresh gitu lo :D

  6. unai said,

    17 Januari 2008 pada 8:33 am

    eh da, jadi seneng deh foto nai dipasang di sini :), eh di koran juga. Bisalah jadi fotografernya posmetro :)

  7. iche said,

    17 Januari 2008 pada 12:00 pm

    ceritanya bermanfaat skali bwt saya..khususnya ttg keromantisan jembatan siti,,(LoL)dan keindahannya of course..terima ksh

  8. max said,

    17 Januari 2008 pada 4:31 pm

    unai = foto Nai bagus2. Kalo emang minat, da siap rekomendasikan utk jadi fotografer :D

    iche = Iche mau mengikat janji di Jembatan Siti Nurbaya ya? :D

  9. panjoel said,

    17 Januari 2008 pada 10:15 pm

    ondeh mande…
    lah lamo ambo ndak main2 ka jambatan siti nurbaya..
    lah taragak samo kampuang halaman…
    seharusnya pemkot padang lebih memperhatikan tempat2 wisata seperti ini…
    secara negara kita lagi giat2nya mempromosikan VISIT INDONESIA YEAR 2008…
    baa da max?? lai setuju??hehehe

  10. max said,

    18 Januari 2008 pada 12:23 pm

    panjoel = pulkam lah lai Njoel :) Siti nurbaya alah maimbau-imbau tu ha :D

  11. abujhonny said,

    18 Januari 2008 pada 10:58 pm

    Bagamana nih Pak Max, daerah kita ini memang lucu, banyak fasilitas umum yang dibangun pemerintah terkesan tidak rapi dan setelah itu juga kurang dipelihara. Coba lihat di negara tetangga malaysia atau singapore ataupun thailand, contohnya jembatan, mereka membuatnya sangat rapi, bagian tertentu mereka pasang keramik kelas tinggi, kalau pagarnya mereka pakai besi stainless, betonnya diplester rapi dan tidak ada yang sumbing, secara berkala mereka melakukan pembersihan dengan semprotan air tekanan tinggi sehngga kelihatan baru lagi. Seharusnya pejabat pengawas pembangunan kita dapat mengawasi paling tidak sama seperti mereka membangun rumahnya sendiri.Coba perhatikan rumah pribadi pejabat pejabat pengambil keputusan, rumah mereka sangat indah dan rapi, keramiknya kelas satu, pagarnya ada yang dari besi stainless, catnya dipilih yang paling mahal, tukangnya dicari yang skill, besi betonnya kadang2 dipakai yang lebih besar dari standard. Kenapa negara yang tentu saja keuangannya yang sangat jauh lebih kuat dibanding keuangan pejabat2 tadi tidak memilih bahan2 kelas satu untuk membangun sesuatu yang juga milik negara? Apakah kita tidak merasa bahagia melihat orang2 lain menikmati fasilitas yang dibangun negara atau merasa iri dan benci? Benci melihat orang lain berjalan di trotoar yang nyaman? Benci melihat anak anak orang lain bermain di taman yang asri? Benci melihat anak orang lain masuk di sekolah yang bermutu? Atau benci melihat orang2 tua pensiunan naik bus dengan gratis? Mudah mudahan tidak ya Pak Max. Kita pasti ikut bahagia kalau melihat orang lain bahagia. Salam.

  12. max said,

    20 Januari 2008 pada 6:57 pm

    abujhonny = panjang banget komennya pak… Yg pasti jawabannya Pak; “right or wrong it’s my country :D


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: