Pungli Wisata, Bikin Malu Saja!!!

Siti nurbayaHATI saya terasa teriris. Sudahlah diiris-iris dikasih pula jeruk nipis. Sungguh tak terperikan rasa yang menggumpal di dada ini. Semuanya hanya karena ulah –atau mungkin ketidakmampuan– Pemprov Sumbar bersama Pemkab/Pemko mengelola objek wisatanya.

Siapa pun pasti tahu betapa eloknya pemandangan alam di Ranah Minang ini. Bali saja yang katanya paradise island, mungkin masih “KO” kalau diuji tanding keeksotikaan alamnya dengan negeri yang digembar-gemborkan berlandaskan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah ini. Rentangkan jari untuk menyebut beberapa objek wisata saja, seperti Pantai Padang, Pantai Carolina, Pantai Aia Manih, Pantai Pasia Jambak, Jembatan Siti Nurbaya, Gunung Padang di Kota Padang, lalu Danau Ateh-Danau Bawah (Danau Kembar) di Kabupaten Solok, Danau Singkarak (Kab. Solok/Kab.Tanah Data), Danau Maninjau (Kab. Agam). Lalu ada Ngarai Sianok, Jam Gadang, Benteng Fort De Kock, Kebun Binatang Kinantan (Kota Bukiktinggi), Lembah Harau dan Ngalau (di Kab. Limopuluah Koto), Pantai Carocok dan Jembatan Akar (Kab. Pasisie Selatan). Belum lagi Lembah Anai, Minangkabau Village (Kota Padangpanjang) dan sejumlah pantai di Padangpariaman.

Kalau mau diurut lagi, masih banyak objek wisata religius, wisata budaya di Batusangka, wisata bahari serupa surfing di Mentawai, wisata belanja dan beragam lainnya. Tapi apa guna kalau eksotika itu terbentur budaya, tepatnya prilaku masyarakat yang justru merugikan wisatawan yang tiba.

Di sejumlah objek, memang ada yang dikelola dengan profesional. Untuk sekedar menyebut saja, seperti yang dilakukan Pemko Bukiktinggi terhadap beragam objek wisata yang mereka miliki. Namun di beberapa daerah, betapa akan malu saya bila harus membawa berkunjung tamu-tamu yang ingin menyaksikan keindahan yang dianugerahkanNya. Pungli dan ketidaknyamanan masih merajalela!

Contoh paling bikin ngedumel dan menyesakkan dada adalah Pungli berkedok retribusi di pintu masuk setiap objek wisata. Pelakunya? Sekelompok anak muda atau tepatnya oknum pemuda yang seenak perutnya menentukan tarif masuk ke lokasi wisata. Itupun, tanpa karcis pula. Sudahlah begitu, nanti ada lagi pungutan parkir yang tarifnya juga sesuai kehendak yang meminta.

Mau disebut contoh kasusnya? Bukan maksud mau black campaign, pengungkapan fakta ini biar ada perubahan ke depannya. Di Pantai Aia Manih yang mengandalkan situs batu Malin Kundangnya, pengunjung akan dimintai uang masuk berkisar Rp 5.000-Rp 10 ribu, tergantung berapa jumlah orang yang akan masuk dan kendaraan yang dipakai. Lalu akan dipungut lagi uang parkir Rp 3.000 oleh oknum pemuda yang lainnya. Hal serupa juga bisa ditemui di Pasie Jambak.

Yang paling parah adalah prilaku yang bisa ditemui ketika mengunjungi Danau Kembar. Untuk ke Danau Ateh, bila masuk dari Simpang SMPN I di Jalan Pasar Baru Danau Kembar, pengunjung bermobil akan dimintai uang masuk Rp 15 ribu. Gawatnya, kasus yang saya temui, yang meminta bukan pemuda, tapi seorang anak kecil berbadan subur yang diberdayakan entah oleh siapa. Setelah itu, nanti parkir dimintai lagi uang Rp 3.000. Halah!

Tidak jauh berbeda dengan di sana, 500 meter di lokasi itu bila hendak menuju kawasan Panorama Danau Kembar di Simpang Tanjuang Nan IV yang tak berapa jauh dari Kantor Camat Danau Kembar, sekelompok pemuda juga meminta Rp 15.000. Ingat, tarif ini tanpa karcis retribusi! Karena ketidakjelasan tarif, cobalah balik mengancam mereka untuk mengatakan tidak jadi masuk ke kawasan wisata itu, maka mereka pasti bersedia menurunkan harga. Semati-mati angin, uang Rp 10 ribu harus berpindah tangan ke mereka. Sudahlah begitu, nanti harus bayar parkir lagi Rp 2.000.

Asli saya jengkel dan sangat emosi dengan kondisi ini. Apa tidak malu mereka dan pemerintahannya dengan prilaku yang jelas-jelas mengompasi pelancong itu? Apa tidak takut mereka suatu saat pengunjung akan ogah ke sana lagi? Apa tidak tahu mereka kalau tulisan saya ini dibaca orang akan menumbuhkan image buruk terhadap objek wisata yang mereka “kuasai”? Apa tidak khawatir mereka bila bisik-bisik sesama pelancong akan mempengaruhi tingkat keenganan orang untuk datang ke tempat mereka? Entahlah….

Dan sampai kini…, hati saya masih teriiris dan akan tetap terasa lukanya disirami jeruk nipis, bila dan jika sampai saat ini tidak ada tindakan dari aparat berwenang untuk menertibkannya. Carilah solusi yang lebih elegan untuk memberangus prilaku ini, agar pelancong senang dan masyarakat bisa hidup tenang karena wisatawan masih mau datang. Kalau tidak juga berubah, tak usahlah kita gembar-gembor sebagai daerah destinasi wisata, cukup menjadi kawasan pungli wisata! Memalukan, sungguh…. (max)

NB:
Mohon maaf atas ketidaknyamananmu selama road trip ke Ranah Minang. Semoga tidak kapok dipungli lagi

13 Komentar

  1. 14 Januari 2008 pada 9:25 pm

    saatnya komunitas blogger ranah minang bertindak ! suarakan, wartakan ini kepada pemda, gubernur siapa saja.
    Memang bagaimanapun dari seluruh Indonesia, hanya Bali yang paling siap infrastruktur dan mentalnya.

  2. unai said,

    15 Januari 2008 pada 8:31 am

    Saya juga menyayangkan keindahan alam ranah minang tidak dikelola dengan baik oleh Pemko dan Pemda setempat. Padahal bisa menambah Pendapatan Daerah kan Da…?setuju dengan Pak Iman, mental masyarakatnyalah yang harus dibenahi selain infrastrukturnya.

    Anyway…tetap saja perjalanan wisata ke ranah minang menjadi momen yang tak terlupakan. Makasih banget, Da

  3. max said,

    15 Januari 2008 pada 11:00 am

    iman brotoseno = ini sdh menjadi rahasia umum dan kerap diberitakan di media massa Mas. Tapi tetap saja belum ada perubahan signifikan. Insya Allah Blogger Minang rame2 akan menyuarakan ini

    unai = kalo pungli juga menambah Pendapatan pelaku kan :D Semoga nai gak kapok kemari lagi ;)

  4. unai said,

    15 Januari 2008 pada 2:44 pm

    Gak aka kapok da, apalagi ada sodara di sana kan? Bunda dan si engkis giding itu :)

  5. max said,

    15 Januari 2008 pada 3:42 pm

    unai = syukurlah kalo gak kapok… kapan lagi balik ke sini?

  6. avartara said,

    15 Januari 2008 pada 11:40 pm

    Hal ini merupakan suatu citra yang negatif bagi pariwisata kita,…lihat saja pantai padang,..terbengkalai..sampah berserakan,..pungli meraja lela,..pengamen seliweran,..yang semula tujuannya untuk menghilangkan jigon eh malah tambah jigon…tapi kenyamanan dan keteraturan bisa diwujudkan kok,..asalkan pemko dan pemda lebih profesional dalam bekerja,..semoga

  7. max said,

    16 Januari 2008 pada 1:40 pm

    avartara = itulah ironinya pariwisata kita. Gembar-gembor majukan objek wisata, tapi budaya warganya tak diurus

  8. abujhonny said,

    16 Januari 2008 pada 9:23 pm

    Yang jadi masalah kenapa ada sekelompok anak muda ngetem di kampung?
    normalnya :umur 7 – 12 th 1. sekolah SD di kampung
    umur 12 – 15 th 2. sekolah SMP di kecamatan
    umur 15 – 18 th 3. sekolah SMU di kota kecil dsb atau
    4. sekolah SMK juga di kota atau
    5. kursus ketrampilan spt bengkel, menjahit,
    memasak, pertanian dll.
    umur 18 – 23 th 6. Kuliah di univ atau politeknik atau akademi
    umur > 23 th 7. Bekerja

    Jadi disini urutan 1 sampai 7 yang putus atau tidak bekerja dengan baik sehingga mereka nongkrong di lokasi wisata minta minta uang.
    Putus sekolah,mahalnya pendidikan,kurang baiknya didikan orang tua dan lingkungan, sulit mendapat pekerjaan membuat anak anak muda tsb frustasi dan tak malu minta minta uang spt sebagian pejabat kita juga….mungkin ini jadi PR kita semua.

  9. iche said,

    17 Januari 2008 pada 12:19 pm

    jika tak ada simpati dr masyarakat setempat sendiri, kedisiplinan yg diidamkan akn cuma jd impian semata.good effort utk anda yg mengemukakan permasalahan dan menulis article ini.masyarakat dan pemerintah hrs bkrj sama..(main point)

  10. max said,

    17 Januari 2008 pada 4:19 pm

    abujhonny = wah kajian sosiologis Bapak bagus sekali… Tamatan sosiologi ya Pak :D Mana nih links blognya?

    iche = Buk Iche juga betul, semuanya berpulang kepada mental masyarakatnya ya Buk ;)

  11. abujhonny said,

    18 Januari 2008 pada 12:22 pm

    saudara Max, saya cuma baca baca saja kebetulan memang hobi, mengenai blog ada rencana mau buat, tapi belajar dulu, salam utk Max dan kel

  12. max said,

    18 Januari 2008 pada 12:26 pm

    abujhonny = ok Pak, segera saja realisasikan blognya, biar bisa menuangkan pikiran di sana ;)

  13. catra said,

    8 April 2008 pada 7:26 pm

    iya bener banget, pernah saya baca ada, dulu sewaktu ada penerbangan padang-kuala lumpur oleh Air asia, agen2 perjalanan pariwisata padang mempromosikan tujuan2 wisata sumbar disana, ternyata peminatnya cukup banyak. dan banyak wisatawan2 mancanegara di sumbar, tapi setelah mengunjungi situs2 menarik seperti pantai air manis (kabarnya situs ini terfavorit) para pelancong sepertinya kecewa, bukan kecewa karena situs atau suguhan alamnya yang indah tapi pengelolaan wisata yang belum dikelola pemerintah, jadi terkesan seperti terlantar.

    sejak beberapa bulan yang lalu air asia pun tidak lagi menyediakan rute kuala lumpur padang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: