Gunung Talang Enam Kali Meletup

PASCA gempa berkekuatan 6,2 SR yang berpusat di selatan Pulau Sikakap Mentawai pada Minggu pagi (25/11) sekitar pukul 09.51 WIB, Gunung Talang langsung bereaksi. Sejak hari itu hingga kemarin (30/11), gunung berketinggian 2.597 mdpl ini tercatat sudah 6 kali meletup mengeluarkan asap. Walhasil, Pusat Vulkanologi & Mitigasi Bencana Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral menetapkan status gunung ini mulai 29 November 2007 pukul 18.00 WIB dinaikkan dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III).
 
Dari catatan pemantau Gunung Talang, letupan pertama terjadi pada Minggu sebanyak 1 kali, disusul 3 kali pada Senin (26/11), dan 2 kali pada Selasa (27/11). “Sementara dari Rabu hingga hari ini (kemarin-red), tidak ada letupan asap. Bahkan sepanjang Jumat, aktivitas Gunung Talang tak bisa dilihat karena tertutup kabut. Yang jelas letusannya bukan letusan yang mengeluarkan material, hanya sebatas letupan yang mengeluarkan asap,” sebut petugas pemantau Gunung Talang Dalipa Marjusi ketika dihubungi via telepon genggamnya.
 

Dikatakan Dalipa, dari pantauan pihaknya, sejak pukul 00.00 WIB hingga 12.00 WIB kemarin, terekam 5 kali gempa vulkanik dalam, 1 kali gempa vulkanik dangkal, tremor 8 kali, gempa LF (low frequency) 7 kali, dan gempa tektonik 9 kali.

 
Sementara itu dari data resmi yang dilansir Pusat Vulkanologi & Mitigasi Bencana melalui web resminya disebutkan, untuk kegempaan pada Rabu (28/11), terekam gempa vulkanik dalam 11 kali, gempa vulkanik dangkal 3 kali, gempa hembusan 1 kali, tremor 16 kali, gempa LF 1 kali, gempa tektonik lokal 1 kali, gempa tektonik jauh 19 kali dan gempa terasa 2 kali dengan MMI (Merchalli Magnitudo Intensity) sebesar III-IV MMI. Sedangkan pada Kamis (29/11) sampai dengan pukul 06.00 WIB, terekam gempa vulkanik dalam 4 kali, gempa vulkanik dangkal 1 kali, gempa tektonik lokal 1 kali dan gempa tektonik jauh 1 kali. Mulai pukul 11.00 WIB terekam gempa tremor vulkanik over scale selama ±1.5 jam.
 
Sedangkan pantauan secara visual, disebutkan, pada 27 November 2007 pukul 07.45 WIB-08.10 WIB terjadi 1 kali letusan dari Kawah Utama, asap coklat kehitaman, dengan ketinggian 800-1.000 m. Sementara itu dari Kawah Selatan teramati asap coklat kehitaman dengan ketinggian 600 m. Lalu pada pukul 09.10 WIB-09.25 WIB dari Kawah Utama dan Kawah Selatan terlihat asap coklat kehitaman tekanan agak kuat dengan ketinggian 1.200 m.
 
“Sementara pada 28 November, asap putih dengan tekanan sedang, teramati dari Kawah Utama dengan ketinggian 200 m. Sementara dari Kawah Selatan teramati setinggi 100 m. Lalu pada 29 November 2007, Kawah Utama dan Kawah Selatan mengeluarkan asap berwarna putih tebal kehitaman, tekanan kuat, dengan ketinggian 200-700 m. Di Kawah/Rekahan Gabuo Atas teramati asap putih tebal dengan ketinggian 200-300 m dan berlangsung terus menerus. Bau gas belerang tercium tajam,” demikian laporan Pusat Vulkanologi & Mitigasi Bencana di websitenya.
 
“Berdasarkan data visual dan kegempaan serta analisis data tersebut maka terhitung mulai 29 November 2007 pukul 18.00 WIB, status kegiatan Gunung Talang dinaikkan dari Waspada (Level II) menjadi SIAGA (Level III),” tulis mereka.
 
Dengan dinaikkannya status Gunung Talang, Pusat Vulkanologi & Mitigasi Bencana merekomendasikan agar masyarakat di sekitar Gunung Talang tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa, serta tidak terpancing isu-isu yang tidak jelas tentang letusan Gunung Talang dan harap selalu mengikuti arahan dari SATLAK PB dan SATKORLAK PB setempat. Selain itu, masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak direkomendasikan mendaki dan dalam radius 3 km dari kawah aktif Gunung Talang. Serta, karena sekarang musim penghujan, masyarakat hendaknya mewaspadai aliran lahar dari material letusan Gunung Talang sebelumnya di Sungai Batang Ampunan, Sungai Anau Kadok yang berlokasi di Kecamatan Gunung Talang serta sungai-sungai yang berhulu di puncak Gunung Talang.
 
Patut diketahui, Gunung Talang adalah gunung api bertipe strato yang secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Kota Anau, Kabupaten Solok pada posisi 0°58’42.24″ LS dan 100°40’46.19″ BT. (max)

4 Komentar

  1. ladokutu said,

    2 Desember 2007 pada 4:33 am

    Peringatan dini sebaiknya diberlakukan. Dan itulah kelemahan pemerintah Indonesia, tidak ada sistem yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik.

    Ada apa Indonesia,

    Pemda SUMBAR jangan melamun yach

  2. Maryulis Max said,

    2 Desember 2007 pada 10:15 am

    ladokutu = He3x jadi slamo ko Pemprov sumbar acok malamun bos?

  3. evan said,

    10 Desember 2007 pada 3:04 am

    sumbar sebagai “Mall” bencana karena posisi georafis ibarat “ring of fire”.kita harus bersiap dari sekarang utk menanggulangi bencana di masa mendatang , persiapan apa itu mobilisasi infrastrukur publik ke zona yg aman, pelatihan SDM sumbar mengenai disaster, bisa ke jepang dll..da komen juo blog awak cek ha

  4. Maryulis Max said,

    10 Desember 2007 pada 12:22 pm

    evan = batua… harus siap mulai dari kini, Van


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: