Jumpa Budi Putra

Menaruh Harap ke Blogger Padang

Ranah Minang patut berbangga mempunyai pria yang satu ini. Sepak terjangnya di dunia per-blogger-an tak hanya menasional, tapi juga menginternasional. Kendati bukan perintis blog Indonesia seperti Enda Nasution yang kerap disebut “Bapak Blogger Indonesia”, tapi dia pantas menyandang gelar “Blogger Profesional Pertama Indonesia”. Itu tidak lebih buah dari keputusan beraninya meninggalkan kemapanannya sebagai jurnalis di Tempo untuk melangkah ke dunia yang bagi orang lain belum jelas ke mana arah anginnya.

“Yang penting itu adalah kepandaian membaca kesempatan dan berani mengambil keputusan. Bagi orang lain, memang hidup dari blog tidak jelas juntrungannya, tapi bagi saya ada potensi yang sangat besar dari dunia blogger ini, termasuk soal financialnya,” sebut Budi Putra dalam pertemuan singkat saya dengannya di Bakso Lapangan Tembak Senayan Cabang Padang pada Minggu lalu (11/11).


Sembari menyeruput juice sirsak yang dipesannya, Budi mengatakan, banyak keuntungan yang didapatnya dari keputusan itu. Di samping bergerak lebih leluasa, dirinya bisa membangun jaringan lebih banyak dengan relasi dari berbagai negara. Bahkan kini, orang-orang luar negeri, lebih mempercayai dirinya sebagai konsultan mereka untuk proyek yang akan mereka garap di Indonesia. “Jadi bukan semata dari adsense (seperti yang dibayangkan banyak orang) seorang blogger bisa hidup. Banyak ranah lain yang bila kita serius dan yakin, pasti bisa dikembangkan dan memberi penghidupan,” ujarnya.

Membangun jaringan serupa itu, kata dia, sudah jauh-jauh hari dilakukannya dengan membikin postingan berbahasa Inggris dengan fokus pembahasan tertentu dari sekian banyak blog yang dimilikinya. Soal kepandaian berbahasa Inggris, dia mengaku tidak terlalu gape banget. “Yang penting, orang mengerti apa yang kita sampaikan,” ucapnya.

Konon kabarnya, dengan latar belakang alumni Sejarah Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang, Budi belajar bahasa Inggris secara otodidak. “Dia pontang-panting belajar bahasa Inggris sendiri ketika jadi mahasiswa,” ungkap Yusrizal KW kepada saya suatu hari.

Sementara menyangkut ilmu IT (informasi teknologi), di samping terus belajar sendiri, dia juga mengoleksi begitu banyak buku yang menyangkut blog. Bahkan koleksi bukunya ini, menjadi rujukan tesis bagi seorang peneliti dari luar negeri. “Ke negara mana saja saya pergi, saya selalu menyempatkan diri membeli buku tentang blog. Kalau tak percaya dengan koleksi saya, silahkan main ke rumah,” tantangnya.

Persentuhannya dengan dunia internet, cerita Budi, sudah dimulainya sejak 1997. Ketika itu, jauh sebelum ada program-program php, open source dan blog sendiri, dia sudah membikinkan web untuk Harian Singgalang, media tempat dia bekerja sebagai jurnalis. Kini dengan kemudahan yang sangat mudah, membikin blog bukanlah hal yang sulit. Maka jangan heran bila dia punya begitu banyak blog, seperti budiputra.com, thegadget, blog jurnalisme, dan banyak lainnya selain tentu saja kontribusi rutinnya di Indonesia Tech, The Asia Tech, 3GWeek, Toekang IT-CNET Asia, Blog Tempo Interaktif. Dan yang teranyar, seperti bunyi SMS-nya kepada saya, dia baru saja launching dua blog gadget baru yaitu slashiphone.com (spesialis Apple’s iPhone) serta gphonedaily.com (spesialis Google Phone). Yang paling besar proyeknya sebagai blogger adalah mendirikan Asia Blogging Network (ABN). “Di ABN, saya tukang bagi-bagi duit,” katanya bercanda.

Dengan status sebagai urang awak yang paling ngetop di dunia per-blogger-an, ternyata Budi memendam kekecewaan terhadap blogger ranah Minang (maksudnya yang ada di kampung halaman kali yee.., karena yang di perantauan pada gape bikin blog). Apa pasal? “Kenapa bukan orang Minang yang menjadi pionir dunia maya ini. Kenapa tidak banyak urang awak yang bikin blog, padahal semua orang tahu bahwa orang Minang itu paling jago menulis. Dengan punya blog, semua orang akan tahu siapa mereka. Soal tidak mengerti ngeblog, itu soal belakangan –dan itu bukan alasan. Di tengah begitu mudahnya dan banyaknya fasilitas blog yang ada saat ini, yang diperlukan adalah kemauan. Kalau tunggu ka tunggu se, antah bilo ka jadi. Hituanglah, bara wartawan di Padang nan punyo blog,” sebut pria yang pernah pula jadi wartawan di koran lokal Mimbar Minang ini.

Kalaupun ada blogger di Padang, kata Budi, larinya tidak sekencang komunitas blogger yang ada di daerah lain. Blogger Padang benar-benar jauh ketinggalan dalam menghimpun diri sebagai komunitas yang patut diperhitungkan di jagad per-blogger-an.

Di tengah kegalauannya tersebut, Budi menyatakan kesediaannya untuk memfasilitasi pelatihan ngeblog dan siap menyandang dananya –yang tentu saja dari duit sponsor yang katanya kini banyak waiting list untuk mensponsori berbagai kegiatan semacam ini. “Bueklah semacam Alek Blogger Minangkabau, atau apalah namanya. Saya secara pribadi siap membantu,” janjinya.

Nah lho…, tunggu apalagi? (max)

2 Komentar

  1. morishige said,

    17 November 2007 pada 5:59 am

    ya, kalo dilihat2, blogging belum begitu populer di sumbar..
    ayo kita populerkan..
    :-D

  2. Maryulis Max said,

    21 November 2007 pada 12:24 pm

    morishige = kalau gitu kita pake jargon pemerintah aje Moris; “Memasyarakatkan blogger dan membloggerkan masyarakat”. He3x


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: