Mengungkap Penyebaran Al Qiyadah Al Islamiyah di Padang

Diwajibkan Mencari Pengikut Setiap Bulan

HEBOH seputar ajaran sesat yang menamakan dirinya Al Qiyadah Al Islamiyah, menyusul dilakukannya penggerebekan “markas’ mereka di Jalan Dr Sutomo Simpang Haru, Kota Padang pada 2 Oktober 2007 lalu terus berlanjut. Aksi ini meluas hingga penjuru Indonesia, yang hampir tiap media nasional memberitakan soal ajaran sesat dan menyesatkan ini.
Bagaimana sebenarnya ajaran sesat ini bisa berkembang dan menyebar ke berbagai pelosok daerah termasuk di Kota Padang, saya mendapat “bocoran” dari dua calon pengikutnya, Tasmawardi dan Guspardi yang urung bergabung begitu mengetahui kesesatan ajaran itu.

Ajaran ini mulai merambah ke Kota Padang pada 2004 dibawa Eri Mulyadi, yang bermula dari pengajian biasa layaknya sebuah wirid yang kerap dilakukan suatu majelis taklim di sebuah perusahaan. Ajaran yang dibawa Eri Mulyadi yang merupakan kakak dari Dedi Priyadi (pemimpin Al Qiyadah di Kota Padang) ini, dalam “memperkenalkan” diri mulanya masih berpijak pada syariat Islam. Hingga beberapa bulan kemudian, barulah terungkap kejanggalan-kejanggalan ajarannya.

“Ketika adzan berkumandang, pengajian itu tidak dibubarkan untuk menunaikan shalat. Karena bagi mereka, shalat tidak harus dikerjakan 5 waktu sebagaimana diatur rukun Islam,” sebut Tasmawardi.Salah satu alasan mereka menganggap shalat tidak wajib 5 waktu adalah, pengikut Al Qiyadah ini menganggap kondisi ini sama dengan kondisi Makkiyah (atau era sebelum nabi Muhammad hijrah ke Madinah). Sehingga shalat tidak begitu diwajibkan.Pengajian yang belum punya nama ini, pada 23 Juli 2006 barulah mendeklarasikan diri dengan nama Al Qiyadah Al Islamiyah, yang mempunyai syahadat sendiri dan menjadikan Ahmad Mushaddeq sebagai nabi dengan penyebutan Al Masih Al Maud. Keberanian Mushaddeq sebagai pendiri ajaran ini yang menganggap dirinya sebagai nabi, lantaran dia mendapat “wahyu” setelah bersemedi di sebuah gua yang ada di Jawa Barat. Mulailah perioderisasi penyebaran ajaran ini berdasarkan fase-fase yang mereka ciptakan sendiri.

Fase pertama adalah fase sembunyi-sembunyi. Mereka menyebarkan ajarannya dari rumah ke rumah. Setelah pengikut mulai banyak, masuk ke fase jahran (membuka diri). Di fase ini mereka terang-terangan menyebarkan ajarannya, termasuk melalui surat elektronik (email). Lalu ada fase hijrah (pindah), kemudian fase perang untuk memerangi semua umat beragama lainnya yang bagi mereka adalah sesat. Setelah itu ada fase kemenangan dan berakhir dengan fase membentuk pemerintahan sendiri.

Untuk saat ini, bisa disimpulkan mereka masih berada pada fase membuka diri, hingga akhirnya kesesatan mereka terungkap dan menjadi pemberitaan di mana-mana. Dalam fase membuka diri, penyebaran ajaran yang mereka lakukan di Padang, dilaksanakan dengan mewajibkan para pengikutnya untuk mendapatkan satu pengikut baru tiap bulannya. Ditaksir, saat ini ada sekitar 2000-an pengikut Al Qiyadah yang tersebar di berbagai daerah yang ada di Sumbar. Aliran ini telah “mengembangkan sayap” ke Pesisir Selatan, Pasaman, Pariaman meliputi Kayu Tanam dan Lubuak Aluang, Solok dan Kota Padang. Bahkan pengikut yang ada di Padang menebar jaringan pula ke Muaro Bungo, Jambi dan Palembang.

Untuk mendapatkan pengikut baru ini, tak jarang mereka memaksa orang tua atau keluarganya untuk bergabung. Maka jangan heran bila ada anak yang melawan orang tuanya karena “ogah” bergabung dengan “kebenaran” versi mereka itu. Bagi anak yang hidup mapan, orang tua yang tinggal bersamanya akan diusir. Atau bila dia masih tinggal dengan orang tua, maka pilihannya adalah kabur dari rumah.

Lantas bagaimana orang-orang bisa begitu mudah mempercayai ajaran ini? Menurut Tasmawardi, itu disebabkan kurangnya pemahaman yang bersangkutan atas Islam yang telah dianutnya. (max)

4 Komentar

  1. andy said,

    4 November 2007 pada 10:58 am

    semoga aliran2 sesat yang ada di Indonesia dapat ditanggulangi oleh pemerintah. karena itu sangat berdampak pada image agama islam oleh agama lain….

  2. max said,

    5 November 2007 pada 11:43 am

    mungkin krn Islam menghargai perbedaan, makanya banyak yang bikin sempalan, He3x

  3. iteung said,

    12 November 2007 pada 6:40 am

    hehehehe…bukannya ‘Islam’ mengandung nilai jual tinggi? coba kalo mereka pake nama lain untuk nama alirannya…udah pasti ga kan se-laku kalo mereka pake embel2 Islam :D

    yang bikin menggiurkan tu hadiahnya max…dapet 30 pengikut, kita dapet motor…nah kalo dapet 70 pengikut? mobil bo! hahahaha…gimana ga ngiler coba :D

    eh tapi rasulnya udah tobat ya? dia sih ga rugi…kasian tu pengikutnya yang katanya harus setor duit banyak untuk operasional tu aliran.

    indonesia…indonesia…apa aja urusannya pasti UUD, mau aliran sesat kek…Ujung Ujungnya ya Duit lah :D

  4. Maryulis Max said,

    12 November 2007 pada 11:16 am

    iteung = benar juga ya, nilai jual Islam emang tinggi. Saking tingginya maka ada yg rela bikin sempalan. He3x.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: