Jumpa ES Ito

Misteri Penulis Misteri

ES. ITO lahir pada seribu sembilan ratus delapan puluh satu. Ibunya adalah seorang petani, bapaknya adalah seorang pedagang.”

Hanya itu sekilas informasi yang tertera di novel “Negara Kelima” dan di novelnya yang terbaru “Rahasia Meede”. Misterius sekali, sama dengan setting misteri yang mewarnai karya tulisnya itu.

Kemisteriusan siapa gerangan pengarang ini, nyaris terkuak ketika saya mendapatkan link ke blognya. Harapan saya bakal ada tertulis detail lengkap mengenai dia di profil blognya itu. Tapi sama saja, dia tetap menerakan kata-kata di atas, singkat, padat, dan mengundang tanya.

Kendati tidak mendapat jawab atas tanya yang terus menggelayut soal identitas penulis novel genre sejarah yang menakjubkan itu, saya terus terang merasa bangga atas kemunculannya, terutama karya pertamanya “Negara Kelima” terbitan PT Serambi Ilmu Semesta, Jakarta pada Oktober 2005. Buku itu baru saya baca pada awal September 2007, setelah membelinya di Toko Buku Togamas, Yogyakarta pada akhir Juli lalu. “Perkenalan” saya atas karyanya itu, berkat provokasi rekan saya, yang menyebutkan buku “Negara Kelima” ini sangat bagus karena berkait erat dengan Minangkabau.

Saking tertariknya dengan jalan cerita “Negara Kelima”, saya yang biasanya butuh waktu berminggu-minggu untuk menuntaskan membaca buku yang tebalnya bisa sebagai pengganti batal, kali ini hanya butuh waktu 4 hari untuk menamatkan buku setebal 518 halaman tersebut. Dan dalam waktu singkat, saya lantas membikin resensinya yang telah saya muat di blog buku saya.

Kebanggaan saya semakin bertambah, ketika mendapat informasi dari teman saya bahwa ES Ito ini adalah orang Minang. Pantas saja dia dengan fasih menceritakan tentang tambo Minang di buku “Negera Kelima”. Maka atensi dan apresiasi saya buat kehadiran karya dia selanjutnya semakin besar. Dan syukurnya masuk pula informasi terbaru bahwa novel keduanya “Rahasia Meede” bakal terbit di akhir September. Saya menunggu kehadiran buku itu dengan pesimis, karena untuk Kota Padang, kedatangan buku baru biasanya butuh waktu lama. Di saat pembaca-pembaca di daerah lain sudah bisa mendapatkan di awal-awal penerbitan, kami yang di Padang, paling cepat sebulan setelah terbit baru bisa menjumpai bukunya di etalase toko buku besar di kota ini. Sungguh… saya tidak sabar, terlebih setelah saya membaca review buku ini di blog ES Ito.

Senin siang (22/10), entah “malaikat” apa yang menggerakkan hati saya untuk main ke TB Gramedia Padang. Tujuan awalnya hanya buat nyari cutter baru yang akan saya pakai buat merapikan sampul plastik yang akan saya sampulkan ke beberapa buku baru yang saya terima dari seorang teman. Tapi, begitu kaki saya langkahkan ke lantai III toko buku itu, pandangan saya mentok ke sebuah buku tebal yang covernya cukup menarik. “Rahasia Meede”, langsung saya comot dan bawa pulang bersama 2 buku lainnya.

Dari Gramedia, saya langsung meluncur ke kantor. Belum lagi sepeda motor saya parkirkan dengan baik, datang panggilan dari Yusrizal KW yang tengah ngopi di kantin kantor. Begitu berada di depannya, “Max, perkenalkan ini ES Ito.” Sungguh saya terkejut dengan kejadian yang serba kebetulan itu. Ya sudah, saya sorongkan saja buku yang baru saya beli untuk ditandatangani si empu karya.

Melalui percakapan yang ngalor-ngidul ke sana kemari, sedikit demi sedikit, terkuaklah siapa ES Ito. Keingintahuan saya terjawab sudah.

Pria yang kini sedang menekuni kuliah di FE UI itu mengakui dirinya adalah putra Minang tulen, kelahiran Magek, Kabupaten Agam yang tak begitu jauh dari Kota Bukiktinggi. Ketika ditanyakan mengapa dia hanya menerakan identitas “ES. ITO lahir pada seribu sembilan ratus delapan puluh satu. Ibunya adalah seorang petani, bapaknya adalah seorang pedagang”, lelaki itu hanya tersenyum simpul. Pun tidak ada niat untuknya menjelaskan lebih jauh, karena arah pembicaraan sudah beralih pula pada pola kepenulisannya.

Alumni SMA Taruna Nusantara ini menyebutkan, butuh waktu 2 tahun untuk menyelesaikan karyanya. Dia harus mengejar berbagai referensi yang begitu bejibun guna mendukung karyanya, termasuk melakukan wawancara dengan ahli-ahli sejarah. Untuk dokumen-dokumen penting berbahasa Belanda, dia terpaksa memanfaatkan jasa alih bahasa dari teman-temannya sendiri, karena dirinya hanya menguasai bahasa Inggris. Dia pun harus browsing sana-sini untuk melengkapi data yang dibutuhkannya.

Tatkala saya tanyakan kenapa dia suka benar menulis buku yang begitu tebal, ES Ito menjawabnya secara berfilosofi. “Penulis buku itu ibarat petinju. Petinju yang menang TKO adalah penyair (penulis puisi), petinju yang menang KO adalah Cerpenis, dan petinju yang menang angka adalah novelis. Dan saya adalah petinju yang menang angka,” ujarnya.

Untuk buku “Negara Kelima” yang dicetak 2.500 eksemplar, kata ES Ito, bakal dicetak ulang untuk kedua kalinya. Namun itu menunggu geliat buku “Rahasia Meede” yang dicetak 3.000 eksemplar. Bila permintaan tinggi, dalam waktu dekat buku itu akan dicetak ulang. Sementara untuk karya ketiganya, pria yang mudik lebaran ke Ranah Minang dengan sepeda motor ini mengaku tidak ingin terburu-buru. Paling cepat 2008 mendatang, dia baru akan mulai menulis. Tentang apa, Ito merahasiakannya.

Sementara untuk namanya yang termasuk aneh untuk ukuran orang Minang, ES Ito mengakuinya. Kata dia ES itu adalah singkatan nama dia sebenarnya (yang dimintanya untuk tidak dituliskan). Sedangkan Ito adalah panggilan kesayangannya ketika kecil. Ito dalam bahasa Medan berarti adik. Dia dibesarkan di Magek hingga SMP dan meneruskan SMA-nya di SMA Taruna Nusantara. Namun Ito mengaku tidak berminat untuk meneruskan studinya di AKABRI sebagaimana layaknya siswa-siswa taruna lainnya. Alasannya, “Saya tipikal pembangkang. Tak mau nanti asal nembak orang!” (maryulis max)

7 Komentar

  1. unai said,

    24 Oktober 2007 pada 3:53 am

    wah keren tuh bisa ketemu dengan penulis misterius hehe…kalo ketemu di Padang Book Fair titip salam, dari fans setia yah da ciyehhh

  2. iteung said,

    29 Oktober 2007 pada 4:36 am

    hehehehe…ga ada yang kebetulan d dunia ini, udah rejekinya max tu buat ktemu penulisnya :)

    hihihi…akhirnya rekor juga baca buku tebel cuma 4 hari, slamat…slamat…

  3. Maryulis Max said,

    29 Oktober 2007 pada 10:42 am

    Unai = iya nih kebetulan, ntar kalo ketemu disampein deh, bahwasannya Nai penggemar berat Ito, he3x

    Iteung = Rejeki jah? Seharusnya Ito ngasih buku gratis biar rejekinya makin lengkap. Kan gara2 Ito pula mecahin rekor baca tercepat, he3x

  4. Foto2 Ranah Minang said,

    31 Oktober 2007 pada 8:14 am

    jalan2 yuk ,,,,

  5. hafif said,

    11 November 2007 pada 1:30 am

    Salam ka si Edri yo Da kalau basuo baliak….
    heheh…………..

    Desember ambo pulang ka Padang Da..
    Kalau uda ada wakatu senggang basuo awak yo da…
    hhehehe……………..

  6. Maryulis Max said,

    12 November 2007 pada 11:11 am

    hafif = Insya Allah ambo sampaian, kalau lai takana, he3x

  7. alpis said,

    7 Maret 2008 pada 7:36 pm

    mantap bukunyo kawan..salut..
    keep continue yah

    salam

    max -> yups… memang mantaps ;)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: