Gempa Susulan di Padang

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket“Iko Labiah Gadang dari nan Patang…”

WARGA sontak berhamburan ke luar, begitu rumah yang ditempatinya dan bumi yang dipijak kembali bergoncang hebat. Waktu baru menunjukkan pukul 06.49 WIB. Mereka tentu saja kaget, karena tidur belum lagi sempurna seusai melaksanakan sahur perdana di bulan puasa 1428 H ini. Yang ada ada di benak mereka, bagaimana bisa lari menyelamatkan diri dari kemungkinan himpitan bangunan yang bakal rubuh atau tsunami yang bakal melanda.

Dengan kondisi apa adanya, baju sekenanya, muka lusuh dan bermuram durja lantaran rangkaian gempa hebat yang memaksa mereka untuk waspada sepanjang Rabu malam (12/9). Di saat goncangan mereda dari gempa utama yang terjadi di Bengkulu dengan kekuatan 7,9 SR (versi BMG) atau 8,2 SR (versi USGS) yang ketika itu warga masih sibuk balimau menyambut datangnya bulan puasa pada pukul 18.10′.23″, pagi kemarin (13/9) suasana kembali buncah.

Iko labiah gadang dari nan patang (ini lebih besar dari gempa kemarin),” ujar Rafki (25) di antara kerumunan warga Padang yang saat itu terkonsentrasi di jalanan depan rumah masing-masing.

Goyangannya begitu dahsyat. Sabana mahantak-hantak. Isi rumah ambo (perabot-red) bajatuahan dari lamari,” timpal Komaruddin (34).

Di balik percakapan serupa itu, tanpa komando warga yang berdomisili di bilangan Tunggua Hitam langsung mengambil keputusan masing-masing. Mereka mulai menghidupkan kendaraan bermotor yang mereka punya. Yang tak punya kendaraan, terpaksa menumpang untuk bisa turut lari sejauh mungkin dari lokasi tempat tinggalnya yang bila diambil garis lurus dari garis pantai hanya berjarak 1 km. Tujuan mereka hanya satu, menuju daerah By Pass yang dianggap aman dari terjangan tsunami.

“Kami lari karena takut ada tsunami yang akan menerjang Padang, mengingat gempa tadi sangat besar getarannya di banding gempa kemarin (Rabu sore-red),” ungkap seorang warga yang ditemui POSMETRO di kawasan By Pass.

Dari data BMG Padangpanjang yang didapat POSMETRO, gempa yang terjadi pagi itu memang tergolong sangat kuat. Dengan skala 7,7 SR yang berpusat di 2,88 LS-100,43 BT atau di episentrum laut 140 km barat daya Sungai Penuh, Jambi dengan kedalaman 24 km, untuk Kota Padang, gempa sekuat itu dirasakan getarannya sebesar IV-V Mercalli Magnitudo Intensity (MMI/skala Mercalli). Berdasarkan parameternya getaran IV-V itu dikategorikan merusak, di mana ciri-ciri getarannya terasa di dalam rumah seperti truk berat yang lewat, benda-benda yang digantung bergoyang, pintu dan jendela gemertak, benda-benda dari kaca gemerincing, untuk kategori IV MMI. Sedangkan untuk ciri-ciri V MMI disebutkan getaran gempa sudah terasa oleh orang yang berada di luar rumah, orang yang tidur terbangun, air bergoyang, benda-benda yang digantungkan kurang baik akan jatuh, daun pintu bergoyang.

Dengan kekuatan getaran IV-V MMI itu, wajar sehari itu kerusakan yang terjadi di Kota Padang semakin bertambah dari akibat gempa besar Bengkulu sore sebelumnya. Tercatat hingga kemarin ada 98 unit bangunan rusak, yang 8 di antaranya ambruk. Syukurnya, ketakutan bakal terjadinya tsunami akhirnya buyar karena memang tidak ada tanda-tanda akan naiknya air laut ke daratan.

Seperti dijelaskan Kasi Observasi BMG Padangpanjang, Sugeng Prayitno, gempa 7,7 SR itu tidak memicu tsunami walau dikategorikan gempa dangkal, karena dampak getarannya tidak menimbulkan deformasi di dasar laut baik dalam bentuk normal maupun mendatar. “Gempa itu hanya mengakibatkan gelombang seismik (getaran-red) saja,” katanya.

Kendati tidak ada tsunami, tetap saja trauma tsunami yang terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan sejumlah negara pada 26 Desember 2004 menghantui warga Kota Padang. Maka begitu ada isu air laut naik di saat mereka sudah aman di lokasi pengungsian di sepanjang By Pass, masih saja ada yang ketakutan. Mereka balik menerobos hilir mudik kendaraan untuk menuju lokasi yang lebih tinggi. Padahal, andai saja mereka tahu, kawasan By Pass itu berada di kawasan hijau yang dianggap relatif aman dari terjangan tsunami. Tapi mengapa masih takut? Bisa jadi kepada mereka belum tersosialisasi dengan baik soal daerah-daerah aman di Kota Padang, atau bisa jadi lebih dikarenakan ketakutan psikologis atas dampak besar yang ditimbulkan tsunami sepeti di NAD itu. Bisa jadi… (max)

4 Komentar

  1. unai said,

    17 September 2007 pada 1:45 am

    Wah..kaya baca koran deh rasanya…serem yah da..semoga gak ada bencana lagi. Dan semoga puasa menguatkan hati mereka ..korban bencana..amien

  2. iteung said,

    17 September 2007 pada 3:42 am

    miris bacanya…
    semoga masyarakat d lokasi gempa diberikan ketabahan untuk menjalani cobaan ini, dan tdk ada lagi gempa susulan…amien.

  3. Iman Brotoseno said,

    18 September 2007 pada 5:01 pm

    bung maryulis aman aman khan sekeluarga ? benar benar negeri ini negeri tanah bencana..

  4. niken said,

    1 Oktober 2009 pada 8:57 am

    allahu akbar..3x
    cobaan apa lagi yg menimpa negeri indonesia ini….
    belum usai teroris,gempa dimana-mana.dan bencana apalagi yg akan menimpa negeri ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: