Gara-garamu, Kul…

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketSurat Terbuka Buat Tukul

SEBELUM sampeyan membaca surat ini lebih jauh, terlebih dahulu saya mohon maaf bila sampeyan –atau ada orang lain yang ingin menyerupai sampeyan— tersinggung atas surat terbuka saya ini. Tidak ada maksud untuk menghujat, kecuali hanya memberi ingat, khususnya untuk “orang-orang” yang ingin seperti sampeyan.

Mas Tukul, mungkin sampeyan tak kan pernah mengira bahwa kehadiran anda di Empat Mata telah merubah segalanya. Merubah tidak hanya penampilan fisik dan gaya hidup sampeyan, tapi juga mempengaruhi kehidupan orang lain. Tidak hanya orang biasa ingin bisa seperti sampeyan yang awalnya juga biasa-biasa saja, tapi orang-orang yang (di) luar biasa, juga kepengen tidak mau kalah dengan sampeyan. Tak peduli soal wajah, isi kepala, dan isi kantong, yang penting bagaimana bisa seperti halnya sampeyan yang masuk kategori biasa, bisa menjadi luar biasa. Walau hasil akhirnya akan di luar (ke)biasa(an).

Semua itu hanya gara-gara kebiasaan sampeyan yang menuturkan kata-kata “Kembali ke Laptop” yang sebenarnya menutup ketidakbisaan sampeyan untuk menyampaikan isi kepala, yang pada akhirnya dianggap luar biasa oleh orang-orang biasa dan orang-orang yang merasa luar biasa.

Syak wasangka saya, orang-orang (di) luar biasa –yang awalnya juga orang biasa– tak ingin kalah dengan sampeyan yang biasa-biasa saja. Mungkin karena anda biasa-biasa itulah yang membuat mereka ingin bisa dan bahkan berkeinginan lebih dari sampeyan saat ini. “Tukul saja bisa, kenapa saya (kami, kita), tidak?,” mungkin begitu nawaitu awalnya.

Sampeyan bingung? Saya juga bingung. Bingung atas perilaku yang di luar biasa oleh orang-orang yang katanya luar biasa itu.

Coba saja sampeyan pikirkan, hanya gara-gara laptop yang hampir tiap sebentar sampeyan lontarkan, mereka yang luar biasa ini kepengen pula punya laptop untuk sekedar menggantikan atau tepatnya membantu isi kepala mereka dalam menjalankan tugas yang diembankan kepadanya oleh orang-orang biasa sebagai wakil mereka.

Sebenarnya, tak ada yang luar biasa untuk keinginan mereka ini. Karena saya pun sebagai orang biasa, juga punya keinginan yang sama dengan mereka untuk punya laptop agar bisa mengutarakan isi kepala saya menjadi tulisan sebagai pengganti bahasa lisan.

Tapi, ada yang salah dengan cara mereka untuk mendapatkan barang yang bernama laptop ini. Bila suatu saat saya punya laptop, mungkin wajar, karena hingga kini saya sedang berupaya menyisihkan pendapatan saya sebagai orang biasa. Tapi kalau mereka punya laptop, itu sungguh luar biasa. Karena mereka tak perlu bersusah payah –seperti halnya saya yang sedang payah– untuk menjinjing pulang komputer jinjing itu.

Sampeyan bisa membayangkan, saya dan orang-orang biasa yang mengangkat mereka menjadi orang luar biasa untuk memperjuangkan kami agar hidup tidak lagi biasa-biasa saja seperti yang terbiasa kami jalani saat ini, justru semakin diabaikan untuk pemenuhan hasrat mereka atas kepemilikan laptop itu. Uang kami –atau tepatnya uang kita, karena saya yakin sampeyanjuga memilih mereka untuk menjadi orang luar biasa–, justru dihabiskan untuk memenuhi keinginan mereka atas laptop yang selalu sampeyan promosikan tersebut.

Memang harganya tak seberapa –bila diukur dari kantong pribadi mereka–, tapi bisa sampeyan kalkulasikan berapa total uang kita yang akan dikuras lantaran keinginan mereka itu bersifat kolektif. Artinya dapat satu, semua harus kebagian. Belum lagi produk yang mereka incar bukan jenis laptop kacangan yang beberapa kali pakai langsung hang. Mereka kepengen punya laptop high quality biar bisa petantang-petenteng ke sana kemari, kendati belum tentu mereka bisa mengoperasikannya seperti sampeyan ketika awal-awal punya laptop.

Sampeyan tentu belum tahu –syukur kalau sudah tahu–, kendati mereka berdalih laptop itu menjadi aset daerah atau aset negara, tetap saja hasil akhirnya akan menjadi cenderamata buat mereka ketika mengakhiri tugas sebagai orang luar biasa pada 2009 mendatang. Belum lagi biaya perawatannya, dipastikan pula akan menguras uang yang seharusnya dipakai untuk menyejahterakan orang-orang biasa. Ditambah pula nantinya, pengeluaran untuk melatih orang luar biasa itu main laptop. Mana ada instruktur yang mau bagi-bagi ilmu gratis, apalagi untuk ngajari orang bergelimang duit seperti mereka itu.

Kebayang semuanya kan? Atau sampeyan belum juga mengerti maksud dari surat terbuka saya ini?

Lalu sampeyan harus bagaimana? Tentu itu yang akan sampeyan tanyakan kepada saya. Jujur saja, sampeyan tidak salah. Yang salah itu justru mereka yang tak mau kalah ini.

Kini kepada sampeyan pula harapan tertumpang untuk turut serta menekan atau tepatnya mem-pressure orang-orang luar biasa yang berbuat di luar kebiasaan itu. Caranya? Mungkin sampeyan bisa ganti tagline acara yang sampeyan bawakan. Dari “Kembali ke Laptop” menjadi “Kembali ke Nurani”. Jika saja mereka tetap tak ambil peduli dan tak merasa tersungging atas kampanye “Kembali ke Nurani” ini, itulah bukti bahwa mereka memang tak punya nurani lagi. Sampeyan ngerti? (***)

7 Komentar

  1. tukang ketik said,

    13 April 2007 pada 7:58 am

    tulisan ini berkaitan dengan pembelian laptop DPR yah ??
    sori, tersirat banget sih…

  2. iteung said,

    13 April 2007 pada 8:30 am

    huehehehe…tersurat bangeeeeeddd…pegel gw liat kelakuan para dewan yang katanya terhormat itu, jadi kaya liat tingkah polah anak2 manja :P

    eca eca eca deh… *selonjoran*

  3. unai said,

    13 April 2007 pada 8:43 am

    sampeyan??? kok gapake bahasa padang? mana edisi cetaknya hehehe..kerennnn tulisan begini kapan bisa bikin ya?? BTW apa kabar sih da? lamo indah basuo

  4. Iman Brotoseno said,

    17 April 2007 pada 3:36 pm

    tukul mestinya ngundang anggota DPR jadi bintang tamunya

  5. meiy said,

    25 April 2007 pada 9:55 am

    rakyat mana yg diwakili org2 kaya gini
    *kapuyuak…* ondeh mandeh cakap kotor juga awak bah! hahaha

  6. edwards said,

    6 Mei 2007 pada 1:15 am

    Salain laptop tu, Tukul ko membudayakan kato-kato caci maki.
    Ah, kalau awak iyo indak baminaik manonton 4 mato ko doh…

  7. Dhona said,

    8 Mei 2007 pada 2:38 am

    Ayah Disya, ini ada kaitan dengan pembelian laptop para anggota dewan kah?

    Btw, ayah Disya orang Pekanbaru juga?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: