Yang Tersisa dari Gempa Besar Sumbar

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket“Kama Awak ka Lari?”

RATUSAN ribu warga Kota Padang sontak berhamburan ke luar rumah saat getaran gempa besar berkekuatan 6,3 SR (versi USGS) atau 6 SR (versi BMG) menghoyak bangunan yang mereka tempati. Dari perkantoran, sekolah, pusat perbelanjaan, pasar rumah sakit, hotel, rumah dan sarana publik lainnya, semuanya tanpa ada komando langsung berlarian menjauhi bangunan. Semua panik, suasana mencekam, Padang benar-benar bagaleboh.

Di ruas Jalan Belakang Olo yang hanya berjarak 500-an meter dari bibir Pantai Padang langsung buncah. Beberapa di antara mereka ada yang menjerit, berlari, diam, bergumam mengucapkan asma Allah, terpana, shock, kaget, dan ada yang nyaris tumbang. Sementara getaran gempa terus terasa beberapa detik. Hoyakannya benar-benar beda dengan gempa besar yang pernah melanda Sumbar pada 10 April 2005 silam. Serasa episentrum gempa itu tidak begitu jauh dari lokasi mereka berdiri. Keras.

Lampu gantung, kabel listrik dan pepohonan bergoyang. Tidak ritmis, seperti ditiup angin. Air kolam sebuah hotel berkecipak dan menyembur sebagian ke lantai. Akuarium yang berisi ikan mas koki juga turut bergoyang, mengikuti ritme gempa yang tak beraturan.

Ya Allah.., ko bisa ado tsunami mah,” cetus seorang wanita paruh baya yang menginap di Hotel Jakarta, Jalan Belakang Olo, panik.

Bisa jadi.., rancak awak lari. Tapi kama awak ka lari?” sambut seorang lelaki yang berdiri persis di dekatnya.

Tapi baa kok sirine indak babunyi?” kata pria itu lagi.

Kecek urang, sirine tu sadang rusak,” jawab perempuan ini simpel.

Tak lama berselang, kendaraan bermotor mulai berseliweran. Arahnya tak tentu. Ada yang menuju timur kota, selatan, utara dan bahkan arah barat yang notabene mendekati bibir pantai. Klakson saling bersahutan. Laju motor saling salip, supir mobil pun tak mau kalah ngebut. Arah timur yang dituju, sontak macet.

Di Jalan A Yani, beberapa kendaraan yang tercebak macet, memilih putar haluan. Mereka mengarahkan laju kendaraannya ke jalan sempit, seperti Padang Pasir, Kartini, Rohana Kudus dan lainnya demi bisa melaju cepat. Tapi itu pun tak manjur, karena sudah cukup banyak kendaraan tumpuk bleg di sana.

Sementara perempuan tadi masih tetap bertahan di Hotel Jakarta. Dia memutuskan untuk menunggu saja di depan sebuah Ruko berlantai II, kalau-kalau tsunami itu datang juga, dia akan menyelamatkan diri ke atas Ruko itu.

Sedangkan di perempatan Jalan Pemuda-Damar-Belakang Olo, beberapa warga mulai kasak-kusuk. Yang ada di benak mereka, bagaimana secepatnya bisa tahu di mana pusat gempa dan berapa skala kekuatannya. Tapi mau dicari kemana “informasi semahal” itu, di saat yang serba tak menentu ini.

Sebagian sibuk memencet-mencet nomor di HP-nya. Tak nyambung. Diulangi lagi. Terus berupaya untuk bisa terkoneksi. Serba untung-untungan. Begitu nomor yang dituju tersambung, kata yang terlontar tidak jauh-jauh dari sirat kecemasan. “Baa di rumah?” tanya salah seorang di antaranya.

Saya yang kebetulan ingin mencari tahu informasi pusat gempa dan skala getarannya, terus gagal menghubungi nomor BMG Padang Panjang. Nomor telepon Posko gempa dan tsunami yang diiklankan di sebuah media, juga tak bisa dihubungi. Maka jadilah selama 15 menit pasca gempa yang mulai menghoyak pukul 10.49 WIB itu sebagai kondisi serba tak menentu.

Ketika Jalan Ujung Gurun disusuri, badan jalan sudah penuh dengan berbagai kendaraan. Semrawut dan macet total. Di antara beragam kendaraan yang terjebak, juga tampak mobil rescue milik Dinas Kesejahteraan Sosial, Penanggulangan Banjir dan Bencana (DKS-PBB) Kota Padang. Di antara suara riuh klakson dan deru mesin kendaraan bermotor, terdengar sebuah pengumuman yang cukup penting dari pengeras suara mobil rescue ini.

“Tidak perlu panik. Gempa berpusat di Batusangkar dengan kekuatan 5,8 Skala Richter. Tidak ada tsunami. Tetap saja waspada,” begitu pengumuman itu berulang-ulang disampaikan petugas DKS-PBB.

Tahukah semuanya atas informasi berharga itu? Tidak! Di ruas Jalan KH Ahmad Dahlan, seorang warga yang sempat saya tanyai ini soal pusat gempa, hanya bisa manggeleang. “Ndak tahu awak doh, Da,” ucapnya singkat dari atas sepeda motornya.

Sementara itu, saat Jalan Khatib Sulaiman sudah mulai kosong dari seliweran kendaraan, seorang bapak dengan anaknya berhenti di traffic light perempatan Jalan Khatib Sulaiman-Rasuna Said-Raden Saleh-Ahmad Dahlan. Arah yang ditujunya, ke barat kota. Ketika ditanya kenapa tidak lari menuju timur, dia pun menjawab singkat. “Manga lo awak ka lari? Urang nan lari yang takuik mati se nyo,” terkesan sombong tapi sebenarnya pasrah.

Dia pun mengaku tidak tahu menahu soal pusat gempa dan skalanya. “Dari ma lo ka dapek info tu, sadang HP se mati,” tukasnya.

Begitulah.., padahal ternyata di saat bersamaan Walikota Padang, Drs H Fauzi Bahar MSi tengah on air di RRI. Wakilnya, Drs H Yusman Kasim menenangkan warga di sejumlah lokasi dengan hand micdi tangan. Tapi siapa yang akan tahu? Padang ini begitu luas, sanak! Mau dengar radio, listrik mati. Apalagi mau nonton tivi. Mau nelpon Posko gempa, jalur telepon seluler crowded. Mau tahu tsunami, sirine indak babunyi (karena memang tidak ada tsunami). Maka jadilah Selasa, 6 Maret 2007 sebagai Hari Galeboh Kota Padang, walau hanya sekian menit. (***)

Postingan Terkait:

Minangkabau tak Putus Dirundung Petaka
Sumbar Terancam Bencana
Tsunami Sebentar Lagi
Parno Tsunami
tsunami pangandaran
Gempa 4,7 SR, Getarkan Padang
Birokrasi Sialan
Y O G Y A, May 27
Walikota yang Takabur
Gempa Besar Hoyak Nias, Warga Padang Panik
Buoy TEWS Tiba di Padang
Alat Deteksi Tsunami Ditemukan Terapung di Tengah Laut
Gawat, Alat Deteksi Tsunami Dicuri
Patahan Simangko Bergerak, Padang Dihoyak Gempa
 

 

4 Komentar

  1. dycka_god said,

    9 Maret 2007 pada 7:12 pm

    ndeh da..

    marindiang wak danga berita dario kampuang ko..
    nio wak baliak rasonyo tapi baa lah dak ka bisa wak manolong do da..

    wak telp ka urang di rumah kironyo lai dak baa2 do tp paga rumah wak ratak da, sagalo keluarga wak di situ da…

    banyak bana bencana ka nagari wak da.. apolah dosa wak kini ko?

    mungkin yo wak dak bisa manolong banyk do da tp doa dari wak basamo pasti di danga dek tuhan..

    salamaik lah ndaknyo nagari wak dari azab tuhan ko.. amin…

  2. Iman Brotoseno said,

    11 Maret 2007 pada 1:35 am

    turut prihatin..nggak habis habis bencana di negeri ini ini.

  3. unai said,

    13 Maret 2007 pada 2:53 am

    aku malah sibuk mentranslate komennya dia tas ini da…coba kalikali uda posting pake bahasa minang. Dah mending kan sekarang da?

  4. meiy said,

    14 Maret 2007 pada 7:00 am

    baa ndak ado rencana membangun pos2 penanggulangan bencana di tempat nan beresiko max?

    kan wajar orang2 takuik, apolagi ndak tau pusat gempa dmn?

    ambo iyo cameh juo, ortu tinggal di tapi lauik mah :( sadang prediksi tsunami di pdg dlm 7 thn ko (?)

    cuma kalo bisa, cubo jan panik wkt bencana, itu malah bikin kita celaka, kalau takuik itu normal :)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: