Wakil Rakyat, Selamat Gigit Jari!!!

Photobucket - Video and Image HostingADANYA rencana
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY) mengganti PP 37 Tahun 2006 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan terutama untuk Pasal 14 (d) yang mengatur tentang pemberlakuan surut PP tersebut, membuat seluruh wakil rakyat urung mendapat durian runtuh.

Mereka batal menjadi “kaya mendadak”, karena rapel pembayaran tunjangan komunikasi intensif (TKI) dan dana operasional pimpinan (DOP) dari awal hingga akhir 2006, akan dihapuskan. Padahal, jika saja aturan ini tetap berlaku, anggota dewan bakal mengantongi TKI yang besarnya paling tinggi 3 kali uang representasi ketua DPRD sebagaimana diatur Pasal 14A. DOP yang harusnya diterima ketua DPRD setiap bulan paling tinggi 6 kali uang representasinya dan pada wakil ketua paling banyak 4 kali uang representasi, juga “lesap” dengan adanya rencana revisi PP tersebut.

“Perintah” revisi itu patut diapresiasi, tapi masih kepalang tanggung. Kenapa gak sekalian wakil rakyat tersebut tak usah dikasih tunjangan, biar mereka lebih merakyat seperti saat mereka belum dipercaya jadi wakil kita. Coba, kalo para mereka gak dijanjikan tunjangan, bisa diduga takkan banyak yang mau rebutan jadi anggota dewan.

Jika saja pemberlakuan tanpa tunjangan ini diterapkan, dipastikan yang mendaftar di Pemilu untuk jadi wakil rakyat adalah orang-orang yang benar-benar ingin jadi wakil. Tak ada lagi pamrih, hanya semata bagaimana memperjuangkan nasib rakyat yang diwakilinya. Dengan begitu, praktis calon wakil rakyat itu adalah orang-orang yang telah mapan secara materi dan mapan secara intelektual. Mereka tak lagi berharap gaji dan tunjangan, sehingga lembaga legislatif kita nantinya, benar-benar hanya untuk orang-orang terhormat. Bukan lagi orang-orang yang cari hidup dari duit rakyat. Kan asyik!!!

Kalau pun harus menerima gaji, mereka hanya diberi upah dari tiap kerja yang dilakukan. Kalo sekarang kan tidak, lebih banyak yang makan gaji buta tanpa ada kinerja yang betul-betul berpihak kepada rakyat. Paradigmanya masih mengacu pada datang, diam, dan duit. Walaupun tidak semuanya, tapi tetap ada yang serupa itu.

Belum lagi adanya program jalan-jalan yang tak jelas juntrungan dengan bertamengkan reses, studi banding, konsultasi yang semuanya sami mawon untuk mendapatkan honorarium yang tak sebanding dari kegiatan yang mereka lakukan. Apa sih pentingnya studi banding ke daerah lain, kalo hanya sekedar ingin tahu apa dan bagaimana daerah tujuan yang dituju. Mending buka website resmi masing-masing daerah, akan diketahui dengan jelas dan pasti soal profil dan potensi daerah yang dituju itu. Selesai. Kalau masih pengen tahu banyak, kan bisa main telepon-teleponan dengan pemerintahan daerah yang dituju tersebut. Kapan perlu pakai Yahoo Messenger saja, murah, praktis, dan gratis, tak harus ke luar duit banyak untuk itu. Waktu pun tak terbuang percuma dibuatnya. Apalagi?

Tapi, apa memang ada yang mau jadi wakil rakyat yang seperti itu? Bekerja tanpa pamrih, demi berjuang untuk kepentingan rakyat? Kalau ada, saya orang pertama yang akan memilihnya. Bagaimana dengan anda? (***)

Postingan terkait:

Kehidupan Ironis di Negeri Anomali

Wakil Rakyat (Masih) Suka Pecicilan

7 Komentar

  1. iteung said,

    13 Februari 2007 pada 9:18 am

    lalu berkatalah sang anggota dewan yang terhormat : “wah kalo ga ada tunjangan, kapan balik modalnya tu dana yang sudah saya keluarkan buat naik jadi anggota dewan?”

    eca eca eca…eeehhh cape deeeehh…

  2. Hannie said,

    14 Februari 2007 pada 1:22 pm

    eheheh…
    gue tau tu jari siapa yang lagi digigit *wakakkkaaa gak nyambung*

    ide brilian tuh nyuruh make YM!!!!
    semoga aspirasimu didengar, bro!

    hihihi… biar canggih saketek!

  3. Iman Brotoseno said,

    14 Februari 2007 pada 4:39 pm

    anggota dewan belagak pilon deh kalau nanti disuruh mengembalikan uang rapel yang sudah terlanjur dikasih…liat aja

  4. meiy said,

    16 Februari 2007 pada 3:39 am

    ondeh raso ka “maluek” mamikiakan wakil rakyat tuh…

    indak paralu wakil rakyat kalee

    utk apa studi banding lha bikin jakarta ga banjir aja ga bisa, padahal berapa kali sudah studi banding melihat kota2 besar dunia dg sistem drainase yg canggih…

    lha emang mrk cuma jalan2 wae

  5. Yusuf Alam Romadhon said,

    19 Februari 2007 pada 6:33 pm

    sebenarnya ane pingin banget jadi anggota dewan…maklumlah biar ningkating pendapatan ane… lagi fulustrasi nih… tahu ada PP kayak gitu… ndak jadi ah.. OPPORTUNITY COST BANG!!! he he he salam kenal ya bang

  6. iteung said,

    21 Februari 2007 pada 8:39 am

    ga usah belagak juga udah pilon koq, hahahahaha…tu buktinya d suruh liat nasib rakyat tapi ora mudeng aja :P

    seperti kata bimbo : bermata tapi tak melihat…
    payah [-(

  7. unai said,

    26 Februari 2007 pada 6:40 am

    onde mande…wakil rakyat indak paralu yo da..menghabiskan uang rakyat sajo ;)…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: