Resensi Buku

Photobucket - Video and Image Hosting

Ada Hidayah di Cerita Cinta

CINTA itu universal. Hal itu yang mungkin di angkat Habiburrahman El Shirazy dalam buku Di Atas Sajadah Cinta-nya ini.

Semula, saya sempat kecele. Karena begitu melihat buku bercover menarik ini terpampang di rak buku Gramedia, saya sempat mengira isinya akan idem dito dengan buku sejenis lainnya. Terlebih saya juga pernah membaca buku Gadis di Ujung Sajadah karya Izzatul Jannah terbitan FBA Press-2003 yang juga memuat karya Shinta Yudisia. Perkiraan saya, isi buku ini akan sama dengan buku Izzatul Jannah yang benar-benar mengangkat kisah cinta yang terjadi sehari-hari.

Ternyata saya salah, buku Habiburrahman yang pertama kali terbit Mei 2004 dan hingga September 2006 sudah masuk cetakan ke-10 itu, justru beda. Sebuah beda yang memang telah diakui Habiburrahman sendiri, bahwa buku ini, selain memuat karya-karyanya, juga memuat kisah-kisah teladan Islami. Dalam bahasa saya, bukunya itu adalah sebuah ikhtiar “mahimpun nan taserak” untuk para pembaca.

Karena “mahimpun nan taserak“, maka wajar, embel-embel cinta yang diusung, bukanlah kisah percintaan dua sedjoli semata. Lebih dari itu, buku ini juga mengangkat cerita cinta manusia kepada Rabbnya, kepada Rasulnya, pemimpinnya, sahabatnya, keluarganya, bahkan kecintaan pada diri sendiri. Semua itu dapat kita baca dan rasakan dari 38 cerita yang disajikan (di awal terbitnya, buku ini hanya memuat 25 cerita-red).

Di balik cerita yang diusung, ada banyak hidayah yang ditebar. Menelisik hati pembacanya untuk kembali mengobok-obok nuraninya, agar kembali kepada percintaan Illahiah, cinta Lillahi Taala yang meneropong ke persoalan ukhrawi yang telah dikalahkan pada cinta duniawi, cinta yang memuja hedonisme. Subhannallah…

Meski mengangkat cerita Di Atas Sajadah Cinta sebagai judul buku, namun menurut saya sebenarnya ada cerita lain yang lebih kuat dari seluruh cerita yang ada. Yaitu Ketika Derita Mengabadikan Cinta (hal.37) yang mengangkat kisah cinta nyata antara Prof Dr Mamduh Hasan Al Ganzouri dengan Prof Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz, istrinya.

Mamduh, seorang aristokrat keturunan Pasha, jatuh cinta kepada seorang gadis yang memesonanya lahir batin. Gadis yang penuh kesederhanaan, kesahajaan, dan mulia akhlaknya, setia, lembut, cantik dan kecerdasannya sangat menakjubkan. Kepadanya dia menambatkan hati dan yakin telah menemukan pasangan hidup yang tepat untuk sama-sama menempatkan cinta mereka dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu ikatan pernikahan.

Namun sosok si gadis ditolak mentah-mentah oleh ayah Mamduh hanya karena orangtua si gadis seorang tukang cukur. Mamduh dianggap telah memilih pasangan yang salah dari strata sosial yang jauh berbeda dengan keluarganya.

Penolakan sang ayah, tentu saja melukai hati Mamduh. Namun dia tetap menghormati orangtuanya dan tentu saja tetap yakin dengan cintanya kepada sang gadis. Hingga akhirnya mereka memutuskan menikah –walau tanpa restu– dan hidup serba kekurangan sebagai calon dokter di daerah kumuh. Kenikmatan hidup sebagai orang kaya, ditinggalkannya. Dia yakin jalan yang ditempuhnya diridhai Allah. Kendati demi itu, dia selalu dirongrong oleh kedhaliman sang ayah yang tetap menyetuji pernikahannya itu.

“…Adakah di dunia ini kebahagiaan melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup bahagia adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang-orang di dunia merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah menjanjikan cinta. Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah untuk memberikan gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah di surga…
Jika percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh lebih nikmat dari semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa dibayangkan. Yang paling nikmat adalah cinta yang diberikan oleh Allah kepada penghuni surga , saat Allah memperlihatkan wajah-Nya. Dan tidak semua penghuni surga berhak menikmati indahnya wajah Allah SWT. Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang berhak memperoleh segala cinta di surga.Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus mendekatkan diri kepada-Nya…” (hal.46)

Tekad yang bulat dan percaya berada dalam lindungan Lillahi Rabbi, secara perlahan merubah hidup mereka. Tahun berbilang, waktu berganti, mereka akhirnya hidup sukses setelah 9 tahun menderita. Mamduh menjadi dokter spesialis syaraf dan istrinya spesialis jantung. Allahu Akbar…

Di cerita Ketika Derita Mengabadikan Cinta ini, termaktub semua cerita cinta, yaitu cinta manusia kepada Rabbnya, kepada Rasulnya, pemimpinnya, sahabatnya, keluarga bahkan kecintaan pada diri sendiri. Membacanya, bertebar hikmah yang dapat ditarik untuk dijalani dalam kehidupan ini.

Pantaslah bila buku ini –sebagaimana wasiat penulis dan penerbitnya– dijadikan sebagai cenderamata pernikahan, atau kado buat sahabat guna berbagi hidayah, hikmah dan manfaat dari membaca buku yang kini diangkatkan ke layar kaca sebagai sinetron religius itu. (***)

4 Komentar

  1. iteung said,

    28 November 2006 pada 9:07 am

    cetakan k-10?
    bagus berarti :D
    cari aaaahhhh…

  2. ndrit said,

    29 November 2006 pada 1:27 am

    ikutan juga aaaaaaahh…

  3. Maryulis Max said,

    5 Desember 2006 pada 6:24 am

    ITEUNG = Ayo buruan beli.., ntar kehabisan lagi :D

    NDRIT = mo ikut gw juga Nte? :))

  4. Aulia Epriya Kembara said,

    17 September 2007 pada 2:58 am

    memang karya “cinta”-nya habiiburrahman sangat menyentuh rasa cinta kepada Ilaahi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: