Mental Razia

Photobucket - Video and Image HostingSAYA baru saja kena tampar. Tapi tidak perih karenanya. Justru saya tertawa menyikapinya. Peristiwa aneh bin ajaib ini, terjadi setelah saya melihat iklan sebuah merek rokok di TV swasta yang menyindir banget.

Cuma taat kalo ada yang liat“, begitu bunyi iklan yang benar-benar menampar kesadaran saya agar sadar sesadar-sadarnya. Tanyaken apa? (bukan tanya kenapa).

Mungkin tak hanya saya yang patut merasa ditampar oleh iklan nyeleneh yang menampilkan klip seorang cewek yang melanggar rambu-rambu lalu lintas itu. Kita semua patut merasa “sakit” atas sindiran yang tepat sasaran tersebut. Jika tidak, itu artinya ada di antara kita yang “sakit jiwa” dan pantas konsultasi ke psiakater untuk mencari tahu diri kita ini manusia apa tidak.

Jika begitu adanya, pantas dan wajar bila kita sebagai manusia yang hidup di atas norma, hukum, hak dan kewajiban, tanggung jawab dan kepedulian, serta hal-hal berprikemanusiaan lainnya, selalu tak pernah mencapai tatanan ideal. Semrawut; lamak di awak, alun tantu katuju di urang; main hantam kromo; dan anti sosial. Itu terjadi karena kemanusiaan kita tidak terpelihara dan tidak pernah diasah untuk menjadi manusia benaran yang telah dibekali akal oleh Yang Maha Kuasa.

Sekarang baru boleh tanya kenapa (bukan tanyaken apa?). Lha iya, coba ingat-ingat lagi, berapa banyak kesalahan yang telah kita lakukan dan berapa banyak kebetulan (bukan kebenaran) yang terjadi pada kita yang dijadikan alasan untuk melakukan kesalahan. Memplintir kata-kata Bang Napi, “kesalahan dilakukan bukan karena kebetulan, tapi karena ada kesempatan untuk melakukannya”. Mumpung tak ada yang lihat, kenapa harus taat bukan?

Kita lepas dulu soal ketaatan padaNya, pada aturan yang dibuat manusia saja, kita belum taat. Bahkan tragisnya, ada pula yang lebih taat ketika dipelototi manusia ketimbang taat kepadaNya Yang Maha Melihat (Al Basir). Termasuk saya. Memakai bahasa SMS selamat lebaran yang saya terima yang berbunyi “dengan hati seputih kokain, sebening vodca dan seharum ganja“, saya patut berjujur diri bahwa saya sendiri belum kaffah.

Diakui atau tidak, kita ini –baik rakyat jelata, penguasa, penegak hukum, dan status apa saja yang melekat pada diri– punya mental razia. Baru takut saat ada razia (bagi rakyat biasa), atau baru tegas bila disuruh razia (bagi yang punya kekuasaan dan diberi kuasa untuk mengatur rakyat biasa). Contoh paling faktual adalah berlalu lintas (saya menyukai topik ini dan sering keceplosan di rubrik ceplas-ceplos soal ini). Karena berlalu lintas menunjukkan kemanusiaan kita sebenarnya.

Lihatlah mental razia yang ada pada diri supir bus AKDP yang keenakan ngetem di Minang Plaza dan mental razia pada aparat kepolisian dan Dinas Perhubungan (Dishub) yang ditugasi mengawasi ketertiban berlalu lintas di lokasi itu. Kalau ada aparat yang razia untuk melarang mereka agar tidak berlama-lama di tempat tersebut, maka mereka taatnya minta ampun. Jalanan lancar, arus lalu lintas tak semrawut.

Coba saat tidak ada razia, tak hanya supir yang tidak taat, aparatur pun demikian, ikutan tidak taat atas tugas yang dibebankan kepadanya. Supir dibiarkan memarkirkan busnya yang jelas-jelas dilarang karena ada letter S dan terbukti benar bikin macet jalanan, karena ketidaktaatan aparat. Alasannya, karena tidak disuruh razia dan bukan waktunya buat razia, kenapa harus susah-susah. Toh… atasan tidak pula melihat, untuk apa harus taat?

Itu baru satu contoh, tapi imbasnya memunculkan ketidaktaatan-ketidaktaatan lainnya. Seperti PKL di sana, dilarang jualan di trotoar, mereka tetap berjualan dengan harapan begitu besarnya pangsa pasar dari kalangan calon penumpang –yang juga tidak taat– menunggu bus di lokasi itu. Mereka baru taat, kalau Pol PP disuruh atasannya merazia mereka.

Makanya, terhadap contoh soal lalu lintas ini saja, kita semua patut merasa tertampar juga atas iklan “cuma taat kalo ada yang liat” tersebut. Kalau tidak, hati-hati kena razia!!! (***)

8 Komentar

  1. mutiara nauli pohan said,

    20 November 2006 pada 6:51 am

    sudah mendarah daging di bumi indonesia tercintah ini bang :D

  2. Maryulis Max said,

    20 November 2006 pada 1:40 pm

    ULI = Seratus buat Uli

  3. iteung said,

    21 November 2006 pada 7:49 am

    huahahaha… =))
    duh gw suka banget sama tu iklan max, pertama liat…ngakaknya ga habis2, hehehe…mau bahas taunya udah kduluan :D
    gw nulis versi lainnya ah :->

  4. unai said,

    21 November 2006 pada 3:26 pm

    Wah lagi lagi uda tulisannya bagus …tertampar juga jadinya, secara setiap pagi melakukan pelanggaran lalu lintas, alasannya karena terburu buru dan gak ada polisi yang jaga. Melanggar atau melangga???? hehehe

  5. Maryulis Max said,

    21 November 2006 pada 3:58 pm

    ITEUNG = Ayo Teung dibikin… Mau liat perspektif lain dari kata “cuma taat kalo ada yang liat” itu. Ntar dapet hadiah dari pabrik rokoknya. =))

    UNAI = Ini nih yang hobi malangga…, razia aja pak Pol… Hi3x

  6. radioholicz said,

    22 November 2006 pada 7:02 am

    setiap orang memang memiliki ada habit didalamnya, tergantung dari dianya sendiri mau memelihara bad habit tersebut apa nggak

  7. gaussac said,

    22 November 2006 pada 10:11 am

    setuju pak…
    tapi yang paling konyol tuh, orang melanggar kemudian si petugas juga ngumpet…
    yah semacam mencari rejeki nomplok gitulah…

  8. Maryulis Max said,

    24 November 2006 pada 5:06 am

    RADIOHOLIC = Kalo iqko’, bad habitnya dah dimuseumkan blom?

    GAUSSAC = Hi3x. Punya pengalaman soal itu mas Gaus?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: