Kalau Saya Jadi Presiden

Photobucket - Video and Image HostingSUSAH nggak sih, jadi presiden? Pertanyaan itu yang menggelayut di pikiran saya belakangan ini. Pasalnya, sudah 28 tahun lebih saya diberi kesempatan hidup di muka bumi ini, sama sekali belum pernah terbersit keinginan untuk menjadi presiden.

Jujur saja, ketika SD dulu, saya pernah disodori guru Bahasa Indonesia soal cita-cita yang ingin saya gapai bila menjadi dewasa nanti. Di saat kawan-kawan sekelas berebut jadi presiden, gubernur dan walikota atau bupati dan jabatan mentereng serta profesi terhormat lainnya, saya justru menjawab singkat, “Belum tahu, Bu!”

Kini, pertanyaan sejenis terulang lagi dan bahkan langsung menunjuk saya sebagai “presiden”, melalui lomba 17-an Agustus yang digelar Blogfam. Pertanyaan yang dilontarkan, sangat susah-susah gampang untuk menjawabnya, yakni jika saya presiden, apa yang saya lakukan. Butuh perenungan matang untuk menjawab ini.

Jika merujuk UU 23 Tahun 2003 tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, pada Pasal 6, ada 20 persyaratan untuk jadi orang nomor satu di negara yang bernama Indonesia ini. Dari 20 item itu, saya hanya tersandung point ke-17, lantaran belum lagi berusia 35 tahun –sebagaimana disyaratkan di pasal itu. Selebihnya, saya memang pantas dan bisa jadi presiden. Susahnya, belum tentu dipilih jadi presiden oleh rakyat Indonesia yang begitu bejibunjumlahnya saat ini.

Merujuk pada apa yang telah dilakukan presiden-presiden sebelumnya, mulai dari Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarno Putri dan Susilo Bambang Yudhoyono, tergambar sepintas bahwa menjadi presiden itu gampang banget. Karena seluruh tugas negara, mulai dari yang paling besar hingga yang paling remeh temeh sekalipun, sebenarnya sudah ada yang memikirkannya, memproses dan menjalankannya. Presiden “tinggal” mencetuskannya saja. Selebihnya, “orang-orang” lainlah yang akan mengerjakannya. Presiden, tinggal tahu beres!!!

Contoh kecilnya, untuk pidato saja, sudah ada tukang konsepnya, tukang ketiknya, tukang bawa teksnya. Dan saya –sebagai presiden– tinggal membacakannya. Soal kebijakan negara? Tinggal kumpulkan menteri-menteri, staf ahli dan yang berkompeten lainnya untuk selanjutnya menjadi pendengar yang baik atas saran dan masukan yang akan mereka berikan ke saya. Setelah dirasa cocok dan sesuai dengan apa yang saya harapkan, maka itulah yang akan saya putuskan sebagai kebijakan negara. Gampangkan?

Kalau segitu gampang jadi presiden, lalu apa yang akan saya lakukan? Kita jadi kembali ke pertanyaan semula di awal tulisan ini –yang saya niatkan betul untuk diperlombakan dengan member Blogfam lainnya, tanpa sama sekali melibatkan tukang konsep, tukang ketik, tukang bawa teks, karena memang saya belum resmi jadi presiden.

Yang paling penting adalah merubah sistem! Itu kata kunci yang akan saya lakukan selama menjadi presiden. Dengan melibatkan menteri-menteri, staf ahli dan yang berkompeten lainnya, saya akan lakukan itu. Dan untuk merubah sistem ini, terus terang dibutuhkan sekali “tangan besi”, agar sistem yang akan dijalankan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan keinginan saya, keinginan anda, keinginan mereka dan keinginan kita semua.

“Tangan besi” di sini, jangan dipikirkan secara negatif. Memang sangat otoriter sekali, tapi bukan untuk kepentingan saya, namun buat bangsa dan negara kita tercinta ini.

Contohnya, anda, dia dan kita semua ingin apa? Jika jawabnya ingin “sejahtera”, itu pas sekali dengan keinginan saya pribadi. Bagaimana supaya sejahtera? Di situlah diperlukan “tangan besi”. Seluruh pihak dan golongan yang rasa-rasanya bakal menghalangi, menghambat, merintangi, menentang dan mempersoalkannya, harus dibabat habis! Karena mereka, jelas-jelas telah dan berindikasi ingin sejahtera sendiri. Itukan sama saja dengan “senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang”. Tanya kenapa?

Lalu, bagaimana mewujudkan sejahtera tersebut? Lha, itu bukan tugas saya. Tapi tugas menteri-menteri, staf ahli dan yang berkompeten lainnya untuk memikirkannya, memproses dan menjalankannya. Saya tinggal lihat dan awasi, apa kerja mereka sudah sesuai atau tidak dengan apa yang mereka pikirkan, proses dan jalankan –dan saya iyakan. Kalau tidak, mereka pun termasuk orang-orang yang harus dibabat habis karena telah terindikasi dan menjadi orang ataupun golongan yang menghalangi, menghambat dan merintangi terwujudnya kesejahteraan tadi.

Gampangkan? Karena itu, sekarang saya sangat “kebelet” ingin jadi presiden. Dengan ini saja, saya yakin anda, dia, mereka, kita dan seluruh
warga negara Indonesia sangat mendukung saya menjadi presiden. Kalau tidak, anda dan mereka termasuk orang-orang yang patut saya babat habis!!!

Masuk akalkan? (***)

 

7 Komentar

  1. dahlia said,

    16 Agustus 2006 pada 6:18 am

    MERDEKA !!!!

  2. unai said,

    16 Agustus 2006 pada 7:10 am

    aku jadi wakil presidennya ya da

  3. meiy said,

    16 Agustus 2006 pada 10:40 am

    ha setujuuuuuuu. kalau max jadi president ambo pendukung pertama :D

  4. ~tanty~ said,

    21 Agustus 2006 pada 8:18 am

    Bagus bagus … Setuju aja deh …

  5. mutiara nauli pohan said,

    23 Agustus 2006 pada 1:02 am

    cita2 ku dulu pengen jadi guru tk ehh sekarang malah ngerjain tower

  6. me said,

    24 Agustus 2006 pada 10:17 am

    ati ati tapeleset, ambo tangkok..heheh

  7. 4 Desember 2010 pada 8:55 am

    Well conceived, exclusive take on this subject matter.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: