Gawat, Alat Deteksi Tsunami Dicuri

BuoyAfeb06GAWAT! Buoy, alat pendeteksi tsunami (tsunami early warning system) yang dipasang di perairan lepas pantai Sumbar-Sumut tepatnya di 60 nm (110 km) barat laut Pulau Siberut, dicuri kawanan maling. Tanpa alat itu, bahaya tsunami tak bisa dideteksi secara dini. Akibatnya, bila kedatangan tsunami itu tak terlacak, maka ratusan bahkan ribuan nyawa akan hilang.

Diketahui berpindahnya alat itu, setelah pergerakan Buoy ini terpantau oleh satelit TEWS (Tsunami Early Warning System) sebagaimana diinformasikan operator satelit dari Jerman ke Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Republik Indonesia. Alat pemantau tsunami yang merupakan hasil kerjasama BPPT dan Jerman ini diambil dan dilarikan arah timur laut oleh pelakunya menuju pesisir barat Sumatera Utara sejak Rabu (22/03/2006) lalu.

Sebagaimana diinformasikan Koordinator Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) wilayah Sumbar, Ir Ade Edward yang juga terlibat dalam Tim Operasi Penyelamatan Buoy TEWS BPPT-RISTEK RI kepada POSMETRO, Kamis (23/03/2006), kejadian ini mendapat perhatian serius dari pemerintah RI dan Jerman untuk segera dituntaskan.
Seluruh pihak terkait di Sumbar dan di Sumut sudah dikoordinasikan untuk menyelesaikan masalah ini secepatnya. Posko Penyelamatan Buoy TEWS BPPT sudah dibentuk dan ditempatkan di markas Lanal Teluk Bayur di bawah komando Danlanal, Kolonel Laut (E) Munizar Munaf MT.
”Tim BPPT telah berangkat dari Jakarta tadi sore (kemarin-red) menuju Padang untuk bergabung di Posko. Mereka direncanakan akan turut serta dengan kapal pemburu milik TNI AL yang akan diberangkatkan lepas Maghrib (kemarin-red) untuk mengejar kapal yang melarikan Buoy itu,” jelasnya.
Diungkapkannya, kasus ini bukanlah technical error (kesalahan teknis-red) tapi murni tindak kriminal. Pasalnya posisi pergerakan Buoy itu terarah. Berbeda halnya bila Buoy tersebut terlepas dari tambatannya di dasar laut, arah pergerakannya tidak akan terarah dan dipastikan terapung-apung dipermainkan gelombang.
”Tambatan Buoy di dasar laut sengaja dipotong pelaku. Mereka lalu menariknya menggunakan kapal ke arah timur laut menuju Sibolga,” jelasnya.
Kendati para “perompak nekad” itu berhasil melarikan Buoy, kata Ade, mereka tidak menyadari bahwa pergerakan mereka terus terpantau oleh satelit. Pada pukul 08.00 WIB, posisi mereka terdeteksi berada di koordinat 00 01′ 47″ S (lintang selatan) dan 97 59′ 46″ E (bujur timur). Lalu pada pukul 11.00 WIB sudah berada di koordinat 00 01′ 35″ S dan 98 03′ 21″ E.
”Sampai pukul 14.46 WIB, mereka sudah berada di koordinat 00 00 00 S dan 98 08 08 E. Informasi koordinat ini, kami dapatkan dari operator satelit yang melaporkannya setiap 3 jam sekali,” terangnya.
Dari dugaan sementara, terjadinya kasus pencurian ini dilatarbelakangi oleh ketidaktahuan pelaku terhadap fungsi alat yang mereka “temukan” di tengah lautan tersebut. Mereka memperkirakan Buoy itu hanya besi biasa, sehingga berniat mengambilnya untuk dijadikan besi kiloan atau pun untuk keperluan lainnya.
Padahal, papar Ade, kalau saja mereka tahu, Buoy itu adalah alat pemantau tsunami tercanggih di dunia. Bahkan kalau dibandingkan dengan alat pemantau tsunami milik Jepang sekalipun, alat ini jauh lebih canggih. Karena sistem kerja Buoy ini sangat aktif, berbeda halnya dengan pemantau tsunami lain yang bersifat pasif. Informasi sekecil apapun dikirimkan alat ini ke satelit, sehingga pergerakan gelombang laut diketahui setiap saat.

Deteksi Tsunami Hingga 1 Cm
Sementara itu, dari data yang didapat POSMETRO dari situs resmi pemerintah RI, Tsunami Buoy terdiri dari sistem seafloor bottom pressure sensor (BPS) yang dapat mendeteksi kejadian tsunami sampai 1 Cm, dan moored surface buoy yang dapat digunakan untuk mengkomunikasikan informasi tsunami secara real-time.
Komunikasi menggunakan gelombang akustik guna mentransmisikan data dari BPS di dasar laut ke surface buoy yang ada di permukaan. Selanjutnya, unit Surface Buoy akan meneruskan transmisi data dari BPS via satelit komunikasi ke Pusat Pemantauan Tsunami Nasional, dalam hal ini BMG. Surface buoy ini tidak hanya memonitor dan mentransmisikan kejadian tsunami, tetapi juga mengamati parameter-parameter oceanografi dan meteorology permukaan laut lainnya. Surface Buoy juga dilengkapi dengan peralatan DGPS (Differential Global Positioning System) untuk memonitor tinggi gelombang permukaan dan juga untuk memantau pergerakan Buoy (drifting).
Sistem peringatan dini tsunami ini, dikembangkan oleh Kementerian Negara Riset dan Teknologi sebagai koordinator pengembangan TEWS di Indonesia bersama BMG, BPPT, Bakosurtanal, LAPAN, LIPI, Departemen Kominfo, Departemen ESDM, Bappenas, Deplu, Bakornas PBP, DKP dan ITB pada awal tahun 2005. Perawatan sistem sensor serta monitoring sistem kerja peralatan surface buoy dan BPS diserahkan kepada BPPT dengan menggunakan kapal-kapal riset Baruna Jaya. Jerman sebagai negara pendonor peralatan ini ikut berpartisipasi dalam operasional dan perawatan selama 5 tahun sejak pemasangan.
Pada medio November 2005 lalu, kapal riset Jerman “SONNE” memasang 2 Tsunami Buoys di posisi sekitar 50 nm (93 km) barat-baratdaya Bengkulu (antara Pulau Enggano, Bengkulu dengan Pulau Pagai Selatan, Mentawai) dan di 60 nm (110 km) barat laut Pulau Siberut yang kini dicuri perompak tersebut.
Sebagaimana dijelaskan Kepala Survei Teknologi Laut BPPT, Ridwan Djamaluddin ke sejumlah media beberapa waktu lalu, Buoy ini terapung di permukaan laut. Sedangkan alat yang dipasang di dasar laut dinamakan seismometer (alat pengukur getaran bumi akibat gempa), yang berfungsi memberi sinyal kepada Buoy yang selanjutnya diteruskan ke Badan Meteorologi dan Geofisika Indonesia di Jakarta. Seismometer dipasang di dasar laut dengan kedalaman 5.291 meter, dengan koordinat 3 derajat 42 menit lintang selatan dan 99 derajat 12 menit bujur timur.
Sementara itu, Dan Lanal Teluk Bayur, Kolonel Laut (E) Munizar Munaf MT yang dihubungi koran ini tadi malam menyebutkan bahwa saat ini pihak BPPT sudah berada di Lanal Teluk Bayur untuk menuntaskan kasus tersebut. Dan Lanal sendiri belum berspekulasi jika peralatan telah dicuri orang atau dibawa arus. Yang jelas, besok (hari ini-red) pihaknya bersama-sama akan turun melakukan pencarian.
”Kita saat ini masih bekerja di Lanal. Jadi hasilnya masih kita tunggu, karena besok kita akan langsung turun,” kata Munizar dari ujung teleponnya. (max)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: