Mengundi Nasib Jadi PNS

PNS PADA Sabtu, 11 Februari 2006 sebanyak 7.655 orang pelamar “mengadu nasib” menjadi PNS di lingkungan Pemko Padang. Jumlah sebanyak itu, akan berebut 469 formasi. Dengan rincian, formasi guru sejumlah 278 orang, tenaga kesehatan sebanyak 52 orang dan tenaga teknis lainnya sekitar 139 orang. Formasi segitu, diprioritaskan 70% kepada tenaga honorer dan pelamar umum 30%.

Formasi sebanyak itu, diperebutkan pelamar umum untuk tenaga pendidikan sebanyak 1.923 orang, tenaga kesehatan (270 orang), tenaga penyuluh (16 orang), tenaga teknis (1.865 orang), tenaga administrasi (1.655 orang). Sedangkan untuk tenaga honorer, bagi tenaga pendidikan (657 orang), tenaga kesehatan (94 orang), tenaga penyuluh (8 orang), tenaga teknis (911 orang), tenaga administrasi (256 orang).

Dengan komposisi demikian, patut menjadi pertanyaan, “kenapa masyarakat masih saja ngebet jadi PNS?” Padahal, semua orang tahu bahwa menjadi PNS adalah untung-untungan. Terlebih lagi dengan adanya pandangan skeptis sejak dulu kala yang menyebutkan, “kalau nggak ada duit dan pem-backing, mana mungkin jadi PNS”. Sinisme ini, dicoba diputus pemerintah daerah setempat dengan menjanjikan bahwa pelaksanaan ujian CPNS berlangsung transparan dan tak berlaku katabelece apapun lantaran prosesnya langsung dari pusat.

Seperti yang disampaikan Walikota Padang, Drs H Fauzi Bahar MSi, penerimaan PNS tahun ini diupayakan setransparan mungkin dan tidak ada “permainan”.

“Kalau terbukti, ada oknum PNS ataupun pihak luar “bermain” dalam penerimaan CPNS, kita akan tindak mereka dengan tegas. Sebab hal itu, sudah mengarah kepada tindak pidana. Kita akan serahkan mereka ke pihak berwajib untuk diproses sesuai dengan hukum,” tandasnya.

Kembali ke pertanyaan pertama, kenapa masyarakat masih ingin jadi PNS, Gubernur Sumbar, H Gamawan Fauzi SH MM punya jawabnya. Katanya, prinsip masyarakat kita hari ini, biar bergaji kecil, asal jadi PNS. Karena menjadi PNS di Indonesia adalah pekerjaan paling bergengsi dan menempati posisi kelas satu.

“Padahal 70% lapangan pekerjaan di luar pemerintahan, jauh lebih menggiurkan dengan gaji yang juga jauh lebih tinggi,” katanya dengan sirat keheranan.

Sepintas lalu, kita punya jawabannya. Menjadi PNS, bisa makan gaji buta. Karena kerja tak begitu banyak, cukup ngisi absen, lantas duduk baca koran atau main game di komputer, lalu pulang. Terlebih lagi dengan diberlakukannya sistem 5 hari kerja. Kendati jam kerja menjadi panjang dari sebelumnya, tetap saja kerja yang diharapkan tidak maksimal. Karena memang tidak ada pelayanan yang akan diberikan. Kalaupun ada sesuatu yang bisa dikerjakan, bisa dilegasikan ke rekan yang lain dengan dalih macam-macam.

Kenapa ini bisa terjadi? Karena struktur dan jumlah PNS itu sendri yang sudah “gemuk”. Pegawai banyak, sementara kerja sedikit. Walau memang ada juga kondisi sebaliknya di instansi teknis tertentu. Namun secara general, begitulah kondisi PNS di Kota Padang, dan juga di seluruh Indonesia.

Maka wajar, bila orang-orang begitu ngebet jadi PNS. Untuk meluluskan niat, segala cara ditempuh. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, beberapa warga ketipu habis oleh calo PNS yang ngaku dekat dengan oknum pejabat. Hasil akhirnya, sang calo dihukum 3 tahun penjara. Sedangkan yang memakai jasa calonya terpaksa gigit jari, karena pekerjaan idamannya tidak kesampaian, sementara duit habis jutaan rupiah untuk nyogok sang calo.

Cara-cara ilegal pun ditemukan dalam ujian CPNS pada Sabtu lalu itu, yaitu dengan memanfaatkan jasa joki. Tiga orang oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pengadilan Negeri Padang, Kejaksaan dan Kehakiman yang bertugas sebagai pengawas ujian CPNS yang dipusatkan di GOR H Agus Salim Padang, diamankan Poltabes Padang. Mereka diduga jadi joki, dan ditangkap saat sibuk menulis jawaban soal-soal ujian di HP dan mengirimkan kepada peserta. Karena kedapatan sedang menulis di HP, mereka langsung diseret ke Mapoltabes Padang untuk diperiksa. Bersama ketiganya juga diamankan dua buah HP yang digunakan dalam aksi tersebut.

Dalam pemeriksaan yang dilakukan Poltabes Padang, mereka dikatakan tidak terbukti melakukan perbuatan menjadi joki itu. Apa iya? ketika ditangkap, SMS yang ada di HP oknum PNS itu diperiksa petugas, di dalamnya tertulis puluhan jawaban soal ujian yang diketik dengan angka dan huruf. Seperti 1a, 2d, 3b, 4d dan seterusnya. Ketiganya pun tak dapat mengelak lagi, karena di ponselnya memang tertulis kunci jawaban soal ujian itu. Tapi kenapa dilepas? Begitulah intrik-intrik untuk menjadi seorang PNS… (max)

1 Komentar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: